
“Kau kenapa?” Deandra menautkan alis melihat penampilan Edric yang pulang dengan wajah kusut dan pakaian berantakan.
Ia keluar kamar hanya untuk mengambil cemilan di lemari pendingin dan berpapasan dengan suaminya yang baru pulang, entah darimana. Bahkan Dea tidak tahu kapan Edric keluar.
“Kau itu yang kenapa masih ada di luar, tadi sudah ku bilang masuk ke kamar!!” Sentak Edric meluapkan amarahnya pada Deandra.
“Aku hanya ingin mengambil ini,” Deandra menunjukkan makanan di tangannya lalu meninggalkan Edric yang marah-marah tidak jelas.
“Tidak pernah ada benarnya semua yang kulakukan ini, selalu salah dimatamu. Pengen pulang gak boleh, ini gak boleh, itu gak boleh.” Gumam Deandra, menghela napasnya dengan kasar. Sudahlah hidup seperti di penjara, selalu kena marah lagi.
“Sialan, semua gara-gara perempuan sialan itu!!” Edric masuk ke kamar dan membanting pintu dengan kasar. Menyalahkan Deandra atas apa yang sudah menimpanya. Karena doa Deandra-lah dia jadi dikhianati seperti ini.
"Aarrrkkhhh brengsek, kalian semua brengsek. Bagus aku tidak membunuh kalian berdua!!" Edric membanting apa saja yang ada di meja untuk meluapkan amarah. Tangannya meninju cermin dengan kasar.
Praankk!!
Pecahan cermin itu berserakan di lantai dan tangannya terluka. Tidak ada sakit yang Edric rasakannya. Karena semua sakit itu sudah ada dalam dadanya.
__ADS_1
Suara benda-benda dibanting di kamar Edric sampai terdengar ke telinga Deandra.
“Edric kenapa?” Deandra melompat dari tempat tidur mendatangi kamar di sampingnya.
“Edric!!” Panik Deandra melihat tetesan darah yang keluar dari tangan Edric.
Pria itu masih berdiri tegap tanpa merasa kesakitan. Deandra mengamati seisi kamar yang sudah seperti kapal pecah. Pecahan kaca berserakan di lantai dan barang-barang yang berhamburan.
“Kau ini kenapa?” Deandra sudah berkunang-kunang melihat tangan Edric yang dipenuhi darah.
Edric menatap dingin gadis yang berdiri di hadapannya dengan wajah pucat.
Entah kenapa suasana hatinya yang tadi buruk tiba-tiba bersemangat melihat Deandra ketakutan.
“Edric jangan!” Lolos sudah air mata Deandra saat Edric memainkan tangan yang berdarah itu di pipinya.
“Gadis sombong sepertimu ternyata bisa menangis juga,” ledek Edric. Ini kali ketiga dia melihat Deandra menangis. Dia sakiti seperti apapun gadisnya ini tidak pernah menangis.
__ADS_1
“Kau kalau marah jangan begini, aku gak papa kalau gak boleh pulang.” Deandra berlari ke bathroom untuk mencuci wajahnya. Karena tidak menggunakan sendal kakinya menginjak pecahan kaca. Ia lupa kalau di kamar ini banyak pecahan kaca.
“Aaww!!” Pekik Deandra saat kakinya menginjak pecahan kaca. Spontan ia mengangkat kaki dan melihat beling tertancap di telapak kakinya.
"Edric help me please!!" Teriak Deandra semakin menangis dan lemas.
“De, Dea!!” Edric menangkap tubuh Deandra yang hampir terjatuh ke lantai membawanya duduk di sofa.
“Darah!!” Deandra menunjuk tangan Edric gemetar dengan kepala sudah berputar-putar.
Edric mengambil kain untuk melilit tangannya yang masih mengeluarkan darah. Lalu membersihkan darah yang menempel di pipi Deandra menggunakan tisu. Wajah gadis itu semakin memucat.
“Tutup matanya, tahan sebentar!” Perintah Edric lalu mencabut beling yang menempel di telapak kaki Deandra.
"Aaaaa!!!" Teriak Deandra histeris, setelahnya pingsan karena ketakutan. Padahal lukanya hanya sedikit.
Edric memindahkan Deandra ke kamarnya lalu menelpon Ron untuk membawa pelayan dan dokter ke apartemen.
__ADS_1
“Kau ini ternyata takut darah. Kenapa aku baru tahu, kalau tahu dari awal pasti akan kubuat kau selalu menangis melihat darah.” Gumam Edric tertawa jahat, sudah lupa dengan emosinya yang tadi meletup-letup.