
"Taklukkan Edric kembali, ini bayaran untuk kau!!" Azmi membuka koper yang berisi uang di hadapan Alice. Tidak terima gadis kesayangannya lebih memilih pria itu. Ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan Deandra kembali.
"Aku tidak ingin berurusan dengannya lagi," Alice tidak tergiur dengan uang yang bisa membuatnya berada dalam bahaya. Ia ingin hidup tenang tanpa dihantui oleh bayang-bayang anak buah Edric.
"Kau tidak punya pilihan lain selain menuruti perkataanku. Aku bisa saja membiarkan kau mati di tangan Edric atau mantan selingkuhanmu itu!!" Tekan Azmi sangat tidak suka ada orang yang melawan perintahnya.
"Ingat, kau tidak akan pernah bisa lepas dariku kalau menolak melakukan apa yang aku perintahkan!" Lanjutnya dengan tegas.
Alice menelan saliva dengan kasar. Dia berhutang budi pada pria yang sudah melindunginya dari kejaran anak buah Edric dan Jovie.
Azmi tersenyum devil melihat wanita yang tidak berani berkutik karena ancamannya. Sebentar lagi dia akan bisa mendapatkan Deandra kembali.
Sementara di tempat yang lain Edric disidang habis-habisan oleh kedua ayah mertuanya. Dad Tian seperti memiliki mata dimana-mana, belum sampai dua puluh empat jam kabar tidak mengenakan tadi pagi itu sudah sampai ke telinga sang mertua.
"Daddy sudah berulang kali memberikan kau kesempatan Edric, tapi kau tidak bisa menggunakannya dengan baik!! Bentak Tian, berharap menantunya itu bisa menjaga sang putri dari Azmi. Tapi nyatanya pria brengsek itu masih saja mengganggu putrinya.
"Maaf, aku salah Dad." Dengan berani Edric mengakui kesalahannya.
"Ck, aku sudah bosan mendengar permintaan maaf palsu kau itu! Kalau tidak bisa menjaganya kembalikan saja padaku."
__ADS_1
"Dad," rengek Deandra yang sedari tadi tidak diijinkan berbicara. Wanita itu berada dalam pelukan Dad Denis.
"Belum saatnya kau bicara Honey," ujar Denis seraya menepuk pipi sang putri.
"Aku tidak akan mengembalikannya pada Daddy!!" Sahut Edric diikuti ******* berat melihat Deandra yang dipeluk Dad Denis.
"Ikut Daddy pulang Honey," Tian mengulurkan tangan pada sang pitri tidak memperdulikan perkataan Edric.
Deandra dengan cepat menggeleng, menolak untuk pulang. Walau selalu bertengkar dengan Edric, tapi dia ingin selalu ada disamping suaminya itu.
"Pulang ke rumah Daddy Sayang, Mom Aru kangen Dea." Bujuk Denis, bibirnya tersenyum sinis pada sang menantu.
"Dea pulang kalau Edric ikut pulang," sahut Deandra.
Tentu saja perkataan sang wanita membuat Edric tersenyum penuh kemenangan. Tapi sesaat kemudian pria itu mendesah, waktunya bersama Deandra akan terganggu kalau ikut salah satu dari mertuanya itu. Kapan dia bisa punya baby kalau waktu berduaannya berkurang.
"Kita akan tetap disini, tidak ada yang menjaga Elle kalau ditinggalkan." Ucap Edric cepat sebelum Dad Tian atau Dad Denis menyetujui keinginan Deandra.
"Memangnya siapa yang ingin mengajak kau! Kau ijinkan atau tidak, Dea akan tetap ikut bersamaku." Tegas Denis, sangat senang melihat wajah sang menantu yang mati-matian menahan diri agar tidak terpancing emosi.
__ADS_1
"Daddy!!" Tegur Deandra mencubit pinggang Dad Denis, baru menyadari kalau kedua Dad kesayangannya itu hanya mengerjai Edric.
Denis menggeleng pelan mengisyaratkan Deandra untuk diam sambil menciumi gemas pipi sang putri dengan sengaja. Dia masih menikmati ekspresi Edric yang nelangsa.
"Dad, ini istriku!!" Edric memisahkan keduanya, lalu duduk diantara Dad Denis dan Deandra. Ia sudah tidak bisa diam melihat Deandra yang diperlakukan Dad Denis sangat mesra. Hatinya sangat panas.
"Hei, ini putriku!!" Seru Denis sambil menahan tawa.
"Dea sudah menjadi istriku Dad!" Edric menghalangi Dad Denis yang ingin menarik Deandra kembali. Tanpa sadar si empunya sudah ditarik Dad Tian dalam pelukan.
"Ayo pulang Honey," Tian sengaja berucap nyaring sampai Edric menoleh.
Edric mendesah frustasi, dua pria tua itu memang sengaja ingin membuat hidup susah.
"Dad berhenti!" Deandra tidak tega melihat Edric yang dikerjai kedua Dadnya.
"Masih seru Sayang," bisik Tian dengan kekehan. "Kalau Dea mau bikinin cucu baru Dad berhenti mengerjai Edric."
Deandra langsung mendengus mendengar perkataan Dad Tian. "Lebih baik Daddy kerjain Edric puas-puas dari pada aku harus hamil!!" Sarkasnya yang membuat Edric mendelik tajam saat sadar sedang dikerjai.
__ADS_1