
"Edric Hansel turunkan aku!!" Teriak Deandra yang berada dalam gendongan Edric. Dia malu kalau dilihat oleh para pelayan di mansion mertuanya. Untung saja Dad Harry dan Mom Linn tidak ada, kalau Ellea pasti masih di kampus.
"Tidak akan sebelum kau sampai kamar!" Sahut Edric kesal karena pemikiran Deandra. Tidak bisa merasakan perhatiannya kah wanita ini sampai menganggap tidak dihargai.
"Astaga, kalian kalau ingin main drama India tidak perlu di dalam mansion. Masih ada anak kecil disini!!" Gerutu Ellea saat melihat Edric menggendong kakak iparnya. Ya kakak ipar, walau cuma lebih tua beberapa bulan darinya.
"Berisik!!" Sentak Edric tidak mempedulikan Ellea yang berkicau, membawa sang istri ke kamar. Sedang Deandra menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan.
"Oh Tuhan, aku hanya akan dijadikan obat nyamuk di mansion ini." Ellea menatap iba dirinya yang tidak pernah merasakan memiliki kekasih.
Pria yang sangat dicintainya pun bahkan tidak meliriknya sama sekali selain menganggapnya hanya sebagai adik. Gadis bungsu Hansel itu menarik napas pelan. "Apa aku kurang cantik, atau hatiku memang sudah tertutup hanya untuk satu nama," gumamnya pelan.
Sementara dalam kamarnya Edric menurunkan Deandra sangat pelan di tempat tidur. Seakan istrinya barang pecah belah yang sangat rapuh, kalau dibanting sedikit saja langsung remuk.
"Jangan banyak bergerak aku panggil dokter," Edric merapikan blouse Deandra lalu menyelimuti.
__ADS_1
"Edric, aku tidak sakit kenapa harus memanggil dokter. Dan ini masih siang, gerah!!" Deandra menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Diam Deandra Hansel, tetap di tempatmu!!" Edric menyentil kening Deandra yang ingin bangun, "dasar bandel!!" Gerutunya, mengurus wanita satu saja sudah membuat kepalanya pening.
"Edric, aku ini lapar!!" Deandra berbaring kembali dan menyelimuti tubuhnya sendiri seperti keinginan Edric. Tapi wajah cantik itu merengut masam. "Kalau tidur begini apa bisa langsung kenyang?" Sindirnya.
"Kau tidak bilang kalau lapar," Edric mengusap kening Deandra yang tadi disentilnya sambil menghubungi pelayan untuk membawakan makan siang ke kamar.
"Sakitnya baru hilang kalau di sun," ucap Deandra malu-malu. Pipi putih itu mengeluarkan semburat ke merah-merahan.
Deandra dengan cepat menganggukkan kepala. Ia ingin diperlakukan romantis seperti Dad Tian memperlakukan Buba Ressa.
Edric mengecup lama di kening Deandra kemudian beralih ke bibir. Kecupan lembut itu berubah menjadi semakin menuntut. Deandra dibuat panas dingin dan pipinya merona merah saat Edric mencumbuinya.
"Kau kenapa?" Edric mengernyitkan alis melihat Deandra senyam-senyum sendiri dengan pipi memerah sejak minta di sun.
__ADS_1
"Hah, aku kenapa?" Deandra menyadari dirinya sedang menghayal saat melihat Edric tidaklah bergerak dari posisinya semula sambil mengotak-atik ponsel.
"Iya, kau itu kenapa?" Edric menahan tawa melihat istrinya yang berubah masam.
"Dasar muka triplek, tidak pengertian!!" Deandra meraup wajah Edric dengan satu tangan kemudian mengacak-acaknya.
"Hei, istri macam apa kau ini sangat kasar!!" Pria itu menepis tangan sang istri yang berhasil mengacak-acak wajah tampannya.
"Kau itu yang suami macam apa, sangat kejam padaku. Aku ini istrimu apa musuhmu?" Sungut Deandra luar biasa kesal. Sebentar-sebentar dia dibuat terbang melayang oleh perlakuan Edric. Tapi tiba-tiba saja dihempaskan tanpa belas kasihan seperti ini sampai dia berimajinasi ingin diperlakukan romantis.
Edric menahan diri agar tidak tertawa, tingkah Deandra sangatlah menggemaskan. Apalagi saat senyum-senyum sendiri kemudian marah-marah tidak jelas. Dia bukan tidak tahu apa yang diinginkan istrinya itu.
"Edric kau dengar aku tidak?" Teriak Deandra ketus.
"Telingaku masih berfungsi dengan baik," sahut Edric tanpa ekspresi.
__ADS_1
Deandra berdecak kasar, Edric tetaplah Edric makhluk Tuhan yang Arrogant, menyebalkan dan tidak peka. Ia tidak akan tinggal diam, tunggulah pembalasannya.