Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 74


__ADS_3

Setelah berganti pakaian Ellea dengan semangat pergi ke sebuah pusat perbelanjaan ditemani Ron. Ia ingin meluapkan rasa sakit hatinya dengan shopping. Sudah cukup tiga hari ia menangisi pria yang tidak mempedulikannya. Dia akan move on dan melupakan Jovie.


“Ron, ini bagus untukmu.” Ellea mencocokkan jas berwarna grey ke tubuh pria yang dengan setia mengikutinya kemana-mana hari ini.


“Nona, kita sudah setengah jam berkeliling. Tuan Edric memerintahkan anda untuk segera pulang,” beritahu Ron tanpa menanggapi ucapan gadis itu.


“Ish sebentar lagi, ambillah ini untukmu.” Ellea memberikan jas yang dipegangnya pada Ron.


“Saya tidak bisa Nona, ini terlalu mahal.” Tolak Ron, bukan masalah harga. Ia biasa dengan barang branded, yang membuatnya tidak biasa kalau perempuan yang membelikannya. Dimana letak harga dirinya sampai menggunakan uang perempuan.


“Kau mau aku laporkan pada Edric karena membantahku dan kau akan dipecat!!” Ancam Ellea, ia tidak suka jika ada yang menolaknya. Apalagi masalah perasaan, itulah kenapa ia merasa sangat terluka Ketika Jovie menolaknya.


“Baik, saya ambil ini.” Ujar Ron mengalah, ia tidak takut dipecat Tuan Edric, lebih takut kalau dilemparkan ke sungai Nil.


“Bagus,” Ellea menarik Ron ke kasir dan setelahnya mengajak berkeliling kembali. Ia tidak segan menempel pada pria itu, tidak peduli kalau Ron susah payah menahan debaran di dadanya.


“Nona, kita pulang.” Paksa Ron karena gadis itu seperti tidak lelah mengajaknya berkeliling. Ia yang akan terkena masalah kalau nona-nya ini kenapa-kenapa.


“Ron, aku gak mau pulang. Kita nonton dulu,” tawar Ellea.


“Tidak bisa Nona, anda sudah melanggar kesepakatan. Ini sudah satu jam lebih,” Ron menunjuk arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.

__ADS_1


“Kita makan dulu baru pulang,” tawar Ellea lagi. Tidak menyerah agar Ron tidak mengajaknya pulang sekarang. Ia bosan kalau hanya duduk diam nonton televisi di mansion.


“Kita makan di mansion,” Ron tidak menerima penawaran Ellea. Sangat tahu kalau adik tuannya itu dipenuhi akal bulus.


Gadis itu berdecak kesal, "Ron aku bosan di rumah, kau itu ngerti tidak sih!!"


"Saya temani Nona," sahut Ron datar.


"Ish, kau itu seperti patung. Bukan menemaniku, cuma mengawasi saja!" Rengut Ellea.


"Kita pulang!" Tegas Ron menarik tangan Ellea dengan lembut. Lebih baik gadis itu yang marah padanya daripada dia yang kena marah Tuan Edric.


"Ron, aku mau beli kalung." Ucap Ellea manja dengan wajah memelas.


"Ck, kau ini mengawalku atau mengawasiku sih!!" Decak Ellea, "untung kau tampan jadi masih bisa aku manfaatkan!" Gerutunya dalam hati.


"Dua-duanya," pria itu menyahut dengan tenang.


"Kau ini tidak pengertian, pantas saja jomblo sampai sekarang!" Celetuk Ellea.


"Kalau saya jomblo karena tidak pengertian lalu anda jomblo karena apa?" Ron menahan tawa saat berhasil mengembalikan perkataan gadis cantik itu.

__ADS_1


"Aku jomblo karena cintaku bertepuk sebelah tangan," jawab Ellea dengan bangga. Meskipun hatinya terluka karena Jovie menolaknya, tapi ia juga lega sudah tahu jawaban dari perasaannya selama ini.


"Berarti kita sama," ujar Ron yang membuat Ellea menoleh.


"Kau sudah menyatakan cinta padanya?" Tanya gadis itu antusias.


"Belum," jawab Ron malas. Bagaimana ia ingin menyatakan perasaan kalau jelas-jelas perasaannya pasti akan ditolak.


"Kau itu pengecut, coba nyatakan dulu perasaanmu. Masalah ditolak urusan belakangan," nasehat Ellea bijak.


Pria yang dinasehati tidak berminat menanggapi. Ia dengan sabar menemani Ellea ke toko perhiasan. Mereka yang dikira sepasang kekasih itu disambut ramah oleh pramuniaga.


"Pilihlah kalung yang anda suka. Saya yang akan membayarnya," ujar Ron.


"Benarkah, aku dapat gratisan!" Pekik Ellea girang.


Ron menganggukkan kepala, melihat gadis itu ceria saja sudah membuat hatinya bahagia dan jantungnya tidak berhenti berdebar.


"Terima kasih," ucap Ellea berbinar. Dia bukan tidak punya uang untuk membeli sendiri. Sensasinya berbeda saja kalau dapat gratisan, "boleh aku pilih ini." Tunjuk Ellea pada kalung berlian luxury yang terlihat sederhana dengan liontin berbentuk hati.


"Yang mana saja boleh," Ron meminta pramuniaga untuk memberikan apa yang Ellea mau.

__ADS_1


"Aaaa, kau baik sekali. Jarang-jarang ada yang memberikan kalung berlian gratisan." Seru Ellea pelan karena tidak ingin terlihat norak. Ron hanya menanggapi dengan senyuman.


“Elle,” panggil seseorang yang sangat Ellea kenal suaranya. Baik Ellea maupun Ron sama-sama menegang mendengar suara itu.


__ADS_2