
"Elle tidak bisa berjalan karena apa?" Deandra menoleh pada sang suami karena merasa belum puas dengan jawaban Dad Harry.
"Elle mengalami kelumpuhan Sayang," beritahu Edric dengan pelan.
"Tidak, itu tidak mungkin Edric!" Deandra menggeleng mendekati Ellea. Ingin mengguncang tubuh yang tergeletak itu agar bangun dan berhenti menakutinya. Tapi tubuhnya lebih dulu ditarik Edric dalam pelukan.
"Sayang..." Edric berusaha menenangkan Deandra dengan mengeratkan pelukannya.
"Elle tidak lumpuh Edric, kau jangan menakuti aku!" Teriak Deandra histeris, dengan segala rasa takut dan sesal dalam dadanya.
"Sayang," Edric menangkup kedua pipi Deandra. Menatap netranya dengan lembut lalu menciumi seluruh wajah wanitanya. Inilah yang ia takutkan membawa Deandra ke rumah sakit.
"Bukan salah Dea, Sayang. Elle masih bisa sembuh," ujar Edric membawa Deandra duduk di samping Dad Harry.
"Mana Ron?" Tanya Deandra, Edric tidak menjawab mengusap puncak kepala sang istri agar tenang.
__ADS_1
"Edric aku bertanya Ron dimana?" Ulang Deandra dengan suara nyaring.
Ia merasa bertanggung jawab atas yang terjadi pada Ellea dan Ron. Dialah yang sudah membuat keduanya celaka. Kalau saja ia tidak mencari masalah dengan Ellea mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi.
"Ron masih belum sadarkan diri di ruang ICU," jawab Edric dengan sangat pelan agar tidak terdengar Ellea.
Seketika itu juga tubuh Deandra bergetar danĀ melemas. Tulang-tulang kakinya terasa lunak. Pikirannya sudah berkecamuk, bagaimana kalau Ron tidak bisa diselamatkan. Dialah penyebab semuanya, dan Ellea kehilangan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
"Sweetheart, jangan pikirkan apapun. Semua akan baik-baik saja. Dan ingat, ini bukan salah Dea." Edric meyakinkan Deandra, bisa melihat ketakutan yang wanitanya itu alami.
"Ron," panggil Ellea dengan suara pelan.
"Aku ingin bertemu Ron," pinta Ellea.
Perempuan paruh baya itu kembali menangis, tidak tahu harus berkata apa pada putrinya. Ron masih belum sadarkan diri sampai sekarang.
__ADS_1
"Ron masih tidur Sayang, nanti kalau sudah bangun Dad panggil kemari." Sahut Dad Harry yang mendekat.
Ellea menganggukkan kepala, mendengar Ron masih tidur tidak bertanya lagi. Ia tidak ingin mengganggu pria itu.
"Dad, tolong batalkan pernikahanku dengan Ron. Dia pantas mendapatkan wanita yang lebih baik, tidak cacat sepertiku."
"Kau tidak cacat Sayang," Dad Harry membawa tubuh Ellea dalam pelukan. "Jangan berkata seperti itu, Lea masih bisa berjalan nanti. Apapun yang kau mau akan Daddy turuti. Dad tidak akan memaksamu menikah dengan Ron lagi. Dad akan merestui kalau kau ingin menikah dengan Jovie," ucap pria paruh baya itu. Tidak ingin menghalangi kebahagiaan putrinya lagi.
"Dad!" Tegur Edric, dia tahu semua sedang bersedih saat ini tapi tidak adil kalau saat Ron tidak berdaya pernikahannya malah dibatalkan sebelah pihak. Dan Ellea malah diserahkan pada Jovie.
"Aku tidak ingin menikah dengan siapapun Dad," jawab Ellea dengan tatapan kosong.
Dad Harry mengangguk pelan, tidak membantah dan tidak melepaskan pelukannya. "Dad berjanji akan selalu ada disisimu." Ikut merasa bersalah atas beban berat yang putrinya lalui beberapa bulan ini. Karena menyerahkan tanggung jawab menjaga Ellea pada sang putra.
"Maaf aku selalu menyusahkan kalian dan jadi anak yang nakal," lirih Ellea pelan.
__ADS_1
"Putri Daddy tidak menyusahkan Sayang. Maafkan Daddy yang tidak bisa membahagiakanmu." Pria paruh baya itu sampai tidak bisa menahan air matanya yang ikut terjatuh. Merasa gagal menjaga putri bungsunya.
"Dad jangan menangis," Ellea menyeka air mata yang terjatuh di pipi Dad Harry. Entah kenapa dia tidak bisa menangis walau sekujur tubuhnya merasakan sakit. Dan kenyataan kakinya yang tidak bisa digerakkan lagi.