Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 51


__ADS_3

"Masih lapar?" Tanya Edric, setelah dokter wanita yang memeriksa Deandra pulang ia mengoleskan salep secara perlahan di area memar.


"Sudah kenyang," jawab Deandra malas. Padahal perutnya masih keroncongan, tapi gengsi yang ia miliki sangatlah tinggi. Suasana hatinya sedang tidak baik.


"Kau baru makan beberapa sendok masa sudah kenyang. Aku minta pelayan menyiapkan makanan yang baru," pria itu merapikan blouse Deandra kembali setelah selesai mengoleskan salep.


"Aku bilang kenyang Edric!!" Deandra menaikkan nada suaranya. Ia bukan marah karena lapar, tapi kesal karena suaminya itu masih mencintai sang mantan.


Edric tak berniat membujuk walau tahu wanitanya sedang merajuk. Ia ingin Deandra mengaku kalau sedang cemburu.


"Kau kenapa lagi marah-marah, aku ini sudah baik memperhatikanmu." Edric berujar tanpa ekspresi.


"Mana ada orang baik promosi, kau itu hanya mengaku-ngaku baik saja namanya." Sewot Deandra, Edric berusaha menahan tawa agar tidak keluar dari wajah tanpa ekspresinya.


"Lalu, kau marah karena masih pengen di sun tadi?" Goda Edric dengan senyum meremehkan.


"Tidak!!" Jawab Deandra ketus dan penuh penekanan. "Dasar suami tidak peka!!" Umpatnya dalam hati.


"Lalu kenapa, masih lapar." Edric pura-pura menebak keinginan wanitanya.

__ADS_1


"Tidak!!"


"Perutnya masih sakit," tebak Edric lagi.


"Tiidaakk!!" Jawab Deandra semakin ketus.


"Lalu apa, kau itu kenapa. Sedang cemburu?" Edric memainkan alis tanpa lelah menatap wajah cantik wanita yang sudah menjadi istrinya.


"Iya," sahut Deandra cepat. Beberapa detik kemudian wanita itu menggeleng, "tidak!!" Serunya setelah sadar keceplosan.


"Jadi yang benar mana, iya atau tidak?" Edric mengernyit menunggu jawaban.


"Tunggu, apa yang kukatakan tadi? Aku cemburu pada si ulat bulu. Oh tidak, itu tidaklah mungkin. Untuk apa aku cemburu, huh. Kepedean sekali Edric diperebutkan," gerutu Deandra semakin jengkel.


"Apa kau sudah jatuh cinta padaku jadi cemburu?" Edric semakin menggoda, berbisik dengan sensual di telinga Deandra.


Suara berat Edric mampu membuat tubuh Deandra meremang, dengan cepat ia mengkondisikan keadaan sebelum imannya semakin lemah.


"Aku jatuh cinta padamu? Mana mungkin." Jawabnya enteng, untung Edric tidak melihat wajahnya yang sudah memerah karena tergoda dengan tubuh kekar itu.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu aku mau menemui ulat bulu dulu." Pancing Edric beranjak dari duduk meninggalkan Deandra sendirian di kamar.


"EDRIC HANSEL, SELANGKAH SAJA KAU KELUAR DARI PINTU ITU AKU INGIN BERCERAI!!" Teriak Deandra sangat marah. Edric menahan langkah kakinya dengan perasaan bahagia. Tapi dia ingin melihat sejauh mana Deandra menginginkannya. Pria itu melanjutkan langkahnya seolah tidak peduli dengan teriakan sang istri.


"Pergilah, lebih baik aku bersama Om Azmi!" Kesal Deandra bangun dari pembaringan, menghapus air matanya yang tiba-tiba jatuh dengan kasar.


Edric cepat membalikkan badan ketika mendengar perkataan Deandra dan mendekatinya. "Kau tidak boleh bersama om itu."


"Kenapa? Suka-suka aku mau hidup bersama siapa," balas Deandra dengan mata melotot.


"Karena kau itu istriku jadi tidak boleh bersama pria lain!!" Tegas Edric.


"Bercerai saja apa susahnya, aku ini hanya istri di atas kertasmu kan?" Ucap Deandra tidak kalah tegas.


"Kau lupa kalau kita bukan hanya suami istri di atas kertas," Edric tersenyum penuh kemenangan. Melingkarkan tangan ke pinggang Deandra, "kau itu sudah menjadi istriku seutuhnya. Bisa saja di dalam sini ada calon anak kita," lanjutnya sambil mengusap pelan perut sang istri.


Deg!!


Deandra membeku di tempat, tidak dapat berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


__ADS_2