
Usai mandi bersama, sepasang suami istri yang baru saja berbicara dari hati ke hati itu mendatangi kamar Ellea.
Ellea yang masih terbaring lemas mendengus kesal melihat Deandra berjalan di samping Edric. Apalagi dua orang itu terlihat baru selesai mandi. Padahal setahunya Edric sudah rapi saat menemuinya satu jam yang lalu.
"Aku tidak suka kau membawanya kesini Edric!!" Ucap Ellea lantang walau dengan suara lemah.
"Aku cuma mau minta maaf," Deandra tersenyum manis berucap dengan tulus. "Apa ponselmu rusak?" Tanyanya ingin memastikan walau sangat yakin tidak terjadi apa-apa pada ponsel Ellea yang terjatuh tiga hari lalu.
"Ck, jangan sok baik padaku saat ada Edric!!" Ellea berdecak tidak suka, sejak wanita berstatus istri kakaknya itu membuatnya marah ia jadi memusuhinya.
"Elle, bisa bersikap lebih sopan. Dea ini kakak iparmu!" Tegur Edric tegas.
"Kakak ipar terpaksa!!" Seru Ellea berang karena Edric membela Deandra.
__ADS_1
"Terpaksa atau tidak. Suka atau tidak suka kau tetap harus menghormatinya sebagai kakak iparmu!!" Cetus Edric dengan lantang.
"Tidak akan, jangan pernah berharap aku menghormatinya di mansion ini!!" Sahut Ellea tak kalah lantang. Walau sedang sakit ia masih punya tenaga untuk berteriak.
"Aku akan laporkan kau pada Dad Harry, biar dikirim ke pedalaman Afrika kalau masih membantahku!!" Tekan Edric, dua orang yang sama-sama keras itu sedang bersitegang. Deandra tak bergerak dari tempatnya berdiri karena bingung harus berbuat apa, mereka adu mulut karena dirinya.
"Bela saja terus wanita simpanan om-om itu karena kau sudah puas menggagahi tubuhnya. Setelah puas kau pasti akan meninggalkannya!!" Berang Ellea menatap jijik pada Deandra.
"Untung saja kau adik Edric kalau bukan sudah ku cakar wajah cantikmu yang arrogant itu!!" Deandra menggeram dalam hati, wanita itu menyunggingkan senyum berupaya untuk tidak terpancing pada ucapan Ellea.
"Kau membentakku hanya karena dia, hanya karena wanita asing yang berstatus istrimu itu daripada aku adikmu!!" Ellea balas menatap Edric dengan tajam.
"Cukup Ellea!" Sentak Edric dengan tangan terkepal karena Ellea berani bersuara tinggi padanya.
__ADS_1
Gadis itu tertunduk, tidak berani bersuara lagi karena Edric nampak sangat marah padanya.
"Ed, ayo antar aku ke kampus." Deandra mengambil tangan Edric yang sedang emosi. Ia mengurai jalinan tangan yang terkepal itu lalu menggenggamnya erat. Ada rasa tidak tega saat melihat Ellea seperti itu. Tapi dia juga bahagia karena Edric membelanya.
Edric mengangguk, "are you okay?" Tanyanya perhatian membawa Deandra keluar dari kamar.
"Aku tidak apa, kau jangan terlalu keras pada Elle." Deandra serius berucap dari hati bukan karena ingin Edric bersimpati padanya.
"Apa yang dia ucapkan itu sudah sangat keterlaluan. Menganggapku memperlakukanmu seperti perempuan murahan. Itu sama saja dia merendahkanku," terang Edric.
Deandra tidak ingin mendebat, kalau dia menyahut mereka pasti akan adu mulut kembali. Sebenarnya dalam hatinya juga marah, tapi karena ucapan Ellea banyak benarnya jadi Deandra terima saja. Ia saja sempat berpikiran Edric menyentuhnya hanya untuk dijadikan pelampiasan sesaat andai tidak mendengar pengakuan Edric pagi tadi.
"It's okay jangan marah lagi," wanita itu menepuk-nepuk punggung tangan Edric. Emosi pria itu sudah mereda. Mereka menuju mobil yang terparkir di garasi. Dengan perhatian Edric membukakan pintu mobil.
__ADS_1
"Jangan ambil hati perkataan Elle," ucap Edric setelah duduk di balik kemudi. Deandra mengangguk dengan senyuman bahagia, hari ini prianya itu terlihat lebih manis meskipun pagi mereka sempat adu urat leher.