
"Om jangan perkosa Dea!!" Teriak Deandra ketakutan saat Edric sudah berada di atasnya dan ada benda keras yang menyapa area sensitifnya. Deandra membuka mata perlahan dengan napas memburu.
"Ini aku," Edric menepuk pipi Deandra dengan sejuta tanya dalam hati.
"Edric!!" Pekik Deandra kaget saat matanya benar-benar terbuka sempurna. Napasnya turun naik dan keringat berkucuran di keningnya.
"Kenapa kau tidak membangunkanku dulu. Kau membuatku takut," gumam Deandra pelan. Edric berguling ke samping, saat melihat wanitanya kesulitan bernapas.
"Kau membawa Om itu sampai dalam mimpi," decak Edric.
"Itu karena kau membuatku mengulang kejadian dulu. Coba kau membangunkanku lebih dulu," Deandra memijat kepalanya yang terasa pusing karena terkejut bangun tidur.
"Ceritalah kejadian apa yang sampai membuat kau berpikir aku ingin memperkosamu?" Pria itu mengusap peluh Deandra dengan telapak tangan. Edric tidak jadi marah pada wanitanya ini, yang ada malah khawatir. Ia mengambil alih memijat kepala Deandra.
Deandra menggeleng, "kau capek baru pulang. Dan aku tidak mau membuatmu marah karena aku menceritakan tentang Om."
Walau pernikahan ini tidak pernah diinginkan tapi Deandra akan tetap mempertahankannya. Ia tidak ingin membuat Edric marah dan menceraikannya hanya karena Om Azmi. Bagaimanapun caranya ia harus bisa membuat Edric jatuh cinta padanya, sejatuh-jatuhnya. Sampai bucin level akut, itu janjinya.
__ADS_1
Dia pasti bisa membuat Edric jatuh cinta seperti yang Dad Tian bilang. Dengan begitu Deandra bisa membuat si ulat bulu menggelepar kepanasan. Dan mentertawakan Ellea yang ingin Edric menceraikan dirinya.
"Aku yang memintanya, jadi aku tidak akan marah." Edric dapat merasakan kecemasan yang Deandra rasakan.
"Janji tidak marah?" Deandra menatap teduh netra lelah sang suami. Pria itu mengangguk pasti, ia ingin belajar menjadi bahu tempat wanitanya bersandar.
Dengan ragu Deandra menceritakan kejadian dimana Om Azmi mengendap masuk ke kamarnya. Masih jelas diingatannya perpisahan tujuh tahun yang lalu dengan pria dewasa itu.
"Baby," panggil Azmi lembut. Dia sangat merindukan gadis kecilnya ini.
"Om kenapa bisa di sini?" Gumam Dea masih dengan mata terpejam.
Deandra merasakan orang yang memanggilnya itu nyata. Tapi matanya masih terpejam, tidak mungkin orang yang sangat dirindukannya itu datang.
Gadis itu tertidur semakin nyenyak, apalagi ada yang mengelus-elus punggungnya.
"Cepat besar Sayang biar ikut Om," Azmi tidak berhenti menciumi pipi Dea. Sungguh dia sangat tergila-gila pada putri kecil Tian ini.
__ADS_1
"Baby, masih bisa dengar Om?" Tanya Azmi sambil mendusel-dusel leher Dea. Sesekali memberikan sesapan lembut di sana tapi tidak sampai menimbulkan bekas.
"Geli Om, jangan gelitiki Dea." Seru Dea sambil tertawa kecil, merasa sangat bahagia karena bisa merasakan perasaan itu lagi. Dia merasa dipenuhi dengan cinta.
"Yang mana geli Sayang?" Goda Azmi, tidak menghentikan keusilannya seraya memberikan elusan di tempat yang ditunjukkan Dea.
"Nyaman Sayang?" Tanya Azmi, entah Dea sadar atau tidak saat dia tanya seperti itu.
Kepala mungil itu mengangguk, "Dea rasanya melayang-layang Om, bahagia."
"Oh Baby, Om akan memberikan lebih dari ini kalau Dea nanti ikut Om." Azmi tersenyum, dia sudah masuk dalam alam bawah sadar gadis ini. Ia akan membuat Dea nyaman bersamanya.
"Om lihat ya Sayang." Azmi meneguk ludah susah payah, gadis itu masih benar-benar polos. Dia akan menyakiti Dea kalau melakukannya sekarang.
"Om itu apa?" Gumam Dea lagi merasakan ada yang mengganjal diantara kakinya.
"Bukan apa-apa Sayang. Dea tidurlah lagi." Azmi hanya menyapa yang dibawah sana dengan miliknya. "Dea jaga ini jangan sampai ada lelaki lain yang menyentuhnya ya Sayang. Ini milik Om." Azmi membawa Dea kembali dalam pelukan. Menekan miliknya agar tidak berbuat semakin nakal. Dia sudah susah payah menahan diri.
__ADS_1
"Om," Dea membuka mata memegangi bagian bawahnya yang tadi seperti menyentuh sesuatu.
"Om perkosa Dea?" Tanyanya hampir menangis.