
"Morning Honey," sapa Edric di perut Deandra. Ia sudah siap berangkat ke kantor, "hari ini diam di rumah sama Mommy ya Sayang. Daddy tinggal kerja," lanjutnya yang mendapat tendangan dari dalam perut sang istri. Membuat pria yang sebentar lagi menjadi ayah itu terkekeh geli.
“Baby gak mau ditinggal,” sebut Deandra sambil menepuk-nepukkan tangan Edric di perutnya.
“Baby yang gak mau ditinggal atau Mommy yang gak mau pisah sama Daddy nih,” goda Edric.
“Mommy,” jawab Deandra dengan cengiran mengulurkan tangan minta dipeluk lagi.
Edric menurut saja, memeluk ibu hamilnya yang memang sangat manja. “Daddy kapan berangkat kalau Mommy minta dipeluk terus, hm.”
“Mommy ikut,” pinta Deandra manja.
“Daddy hari ini sibuk Sayang, pagi ada meeting di kantor Dad Harry dan siang mau bertemu klien yang akan bekerja sama dengan Richland Group.” Beritahu Edric dengan lembut, dia bukan tidak ingin membawa Deandra ke kantor. Tapi kasihan kalau istrinya ini tidak bisa istirahat karena dibawa kesana kemari.
“Bosan di rumah, Mom Linn dan Elle juga gak ada.” Ucap Deandra dengan bibir melengkung ke bawah.
__ADS_1
“Aku antar ke mansion Dad Tian,” ujar Edric yang disetujui Deandra. Daripada ia sendirian di rumah karena Mom Linn sedang menemani Ellea check up ke rumah sakit bersama Ron.
Sesampainya di mansion Adley, Deandra langsung disambut Dad Tian. Pria paruh baya itu merentangkan tangan menyambut putri tersayangnya.
"Hei putri Daddy pulang. Berantem ya jadi minta diantar pagi-pagi, hm?" Tanyanya karena sang menantu hanya mengantar sebentar dan langsung berangkat ke kantor.
"Daddy, kalau aku datang kesini pagi-pagi harus ya karena berantem." Rajuk Deandra dengan bibir dimajukan.
"Daddy kan gak tahu makanya nanya Honey," Tian terkekeh kecil memeluk putrinya. Baginya Deandra tetaplah putri kecilnya yang manja. Ia tidak jadi berangkat ke kantor karena kedatangan sang putri. Jarang-jarang mereka memiliki waktu bersama.
"Maaf menunggu lama," ujar seorang wanita yang suaranya sangat familiar di telinga Edric. Wanita itu menarik kursi dan duduk dengan anggun di hadapan Edric.
"Tuan, Nona Alice perwakilan dari Wijaya Group sudah datang." Beritahu Zain pada bosnya yang terlihat melamun.
Bukan melamun, lebih tepatnya bingung. Edric bingung kenapa mantan kekasihnya itu bisa menjadi perwakilan dari perusahaan properti sebesar Wijaya Group.
__ADS_1
"Zain, batalkan kerjasama ini!" Ucap Edric tanpa pikir panjang. Tidak ingin berurusan lagi dengan Alice.
"Tapi Tuan, ini kesempatan besar yang sayang dilewatkan." Tahan Zain, tidak tahu apa alasan sang bos membatalkan kerjasama.
"Siapa yang berhak mengambil keputusan disini, kau atau aku?" Sentak Edric langsung meninggalkan restoran.
Alice menghela napas dengan kasar, baru melihat wajahnya saja Edric sudah sangat emosi. Bagaimana dia bisa meluluhkan hati pria itu kembali.
Edric merasakan kejanggalan, tiba-tiba saja Alice muncul di hadapannya dengan menjadi perwakilan Wijaya Group. Ia tidak ingin mempertaruhkan hubungannya dengan Deandra karena kehadiran wanita itu.
Kalau mereka bekerjasama, otomatis akan sering bertemu. Dan itu bisa menjadi pemicu pertengkaran dengan istrinya. Edric lebih baik kehilangan uang triliunan rupiah daripada kehilangan Deandra.
"Maaf, bisa kita lanjutkan." Asisten Edric itu tersenyum pada Alice, membiarkan saja atasannya pergi. Ia hanya bisa menduga-duga pasti ada masalah serius di antara keduanya.
"Sial, awas saja kau Edric!" Umpat Alice yang merasa harga dirinya terkoyak. Itu membangkitkan jiwanya kembali untuk membuat Edric bertekuk lutut padanya.
__ADS_1