Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 145


__ADS_3

Edric menyuruh Deandra untuk masuk ke kamar, mendekati adiknya yang tersembunyi di balik selimut.


"Kau ingin pulang ketemu Mommy?" Tanya Edric dengan lembut. Menyingkap selimut sang adik lalu memeluknya.


Ellea menganggukkan kepala dengan bersemangat.


"Bersiaplah terbang ke Inggris. Kau akan tinggal bersama Mom dan Dad disana," ujar Edric agar Jovie tidak bisa menemui Ellea lagi.


"Edric, aku mau tinggal disini!" Rengek Ellea. Ia bahkan tidak tahu kalau mom-nya sekarang tidak ada di Indonesia.


"Kalau ingin tinggal disini kau harus menikah dengan Ron."


Ellea yang tadi bersemangat menjadi lesu kembali. Kakaknya itu tidak pernah berubah, tetap saja pemaksa. Akan melakukan apa saja sampai keinginannya terwujud.


"Kau tahu aku melakukannya untuk apa? Aku tidak ingin kau mendapatkan pria brengsek seperti Jovie." Edric menguatkan pelukannya sambil membelai rambut Ellea. Sadar ucapannya itu bukan menenangkan, tapi membuat sang adik semakin terluka.


"Semua demi kau Sayang." Ulang Edric, berharap Ellea mengerti.


"Ini hati Edric, aku tidak mencintai Ron. Dan aku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Kenapa kau menjemputku kalau hanya ingin memaksaku menikah lagi. Aku capek. CAPEK!!"

__ADS_1


"Lalu kau maunya apa, menikah dengan Jovie? Karena dia mengajakmu menikah jadi kau pikir itu serius. Kau akan terus makan hati kalau bersamanya Sayang."


"Aku hanya ingin jadi manusia normal, tidak bersama orang-orang yang pemaksa seperti kalian. Dan aku tidak ingin menikah karena perjodohan."


"Apa kau bahagia hidup sendirian di luar sana selama beberapa bulan ini?" Tanya Edric dengan tatapan serius.


"Kalau aku membiarkan kau bebas, apa kau bisa menjamin Jovie tidak akan mengganggu lagi." Lanjutnya saat Ellea hanya diam.


"Cinta bisa tumbuh karena kau terbiasa bersamanya. Aku ingin kau mendapatkan lelaki yang bisa menjagamu Sayang. Mengertilah, semua untukmu." Bujuk Edric, sungguh ia sangat tidak rela kalau Jovie yang menikahi Ellea.


"Aku tidak suka air mata ini." Edric menghapus sisa air mata Ellea lalu mengecupnya lama di kening. "Kau tetaplah adikku. Adik yang sangat ku sayang, walau kau ini sangat nakal." Ungkapnya yang membuat sang adik melotot tajam.


"Lalu apa namanya kalau bukan nakal, hm?" Pria itu terkekeh kecil melihat sang adik yang memanyunkan bibir.


"Aku benci kau Edric. Kau itu jahat, pemaksa, egois. Tapi aku sayang." Ujar Ellea yang membuat Edric semakin terkekeh geli.


"Kalau sayang kenapa tidak mau menurut, hm." Baginya Ellea masihlah adik kecilnya, yang semuanya harus ia atur.


"Rasa sayang tidak membuatku menjadi bodoh menuruti semua yang orang katakan. Aku ingin memilih jalan hidupku sendiri Edric," ungkap Ellea.

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku yang mengatur jalan hidupmu. Aku ingin kau menikah dengan Ron," ucap Edric mengangkat satu alisnya.


"Kalau aku menolak apa kau akan berhenti memaksaku?"


"Tidak!" Jawab Edric dengan tegas.


"Lalu aku bisa apa?" Ellea membenamkan wajahnya di ceruk leher sang kakak. "Aku lelah hidup seperti dikejar anjing."


"Percayalah semua ini yang terbaik untuk kau, Sayang." Ucap Edric mengecup samping kepala Ellea. Sebenarnya ia tidak tega memaksa Ellea seperti ini, tapi inilah yang terbaik.


Gadis itu menganggukkan kepala, menghapus kasar air matanya yang kembali merembes. Sekuat apapun ia menolak takdir, tetap saja takdir itu akan mendekatinya.


"Aku akan menikah dengan Ron," putus Ellea.


"Good girl. Sekarang mandi dan ganti pakaian, pihak agensi sudah menunggu modelnya yang terlambat datang ini. Ron sebentar lagi akan menjemput."


Ellea langsung melompat dari pelukan Edric dan ngacir ke bathroom saat teringat hari ini dia ada pemotretan.


Edric menggelengkan kepala. Dialah yang membuat Ellea bisa menjadi model disana. Saat mendapat informasi Ellea mendaftar casting, Edric langsung menghubungi pihak manajemen yang ternyata rumah produksi itu milik Om Jeri pamannya Deandra.

__ADS_1


__ADS_2