
"Mommy aku takut," lirih Ellea ditengah isak tangisnya.
"Maaf," sesal Ron memeluk tubuh Ellea yang bergetar setelah menepikan mobilnya kembali. "Kenapa kau ini suka sekali menguji kesabaranku," gumamnya dalam hati mengambilkan air mineral lalu memberikannya untuk sang gadis.
"Sudah lebih tenang?" Tanya Ron saat Ellea sudah berhenti menangis. Gadis itu mengangguk lemas.
"Tarik napas dulu," aba-abanya seraya menghapus bekas air mata di pipi Ellea. Tidak mungkin ia membawa Ellea pulang dalam keadaan seperti ini, Edric bisa mengamuk padanya.
"Dengarkan aku baik-baik, kalau kau ingin pergi dariku tidak apa. Tapi jangan pernah memaksaku bersama perempuan lain. Jangan buat aku marah lagi," Ron tersenyum menepuk puncak kepala Ellea.
Lebih baik menjauh, daripada tanpa sadar emosinya menyakiti Ellea. Semakin kesini ia semakin tidak bisa mengontrol emosinya sendiri.
"Aku antar pulang," ucapnya pada Ellea yang tidak merespon apapun.
Ron hanya mengantarkan Ellea sampai di depan Mansion. Ia tidak ikut masuk, karena pekerjaannya di kantor belum selesai. Selama ini ia selalu menjadikan Ellea sebagai prioritas, tapi gadis itu tidak pernah menganggap kehadirannya ada.
Sesampainya di kantor Ron menatap cincin yang pernah ia sematkan pada Ellea. Cincin itu sudah lama dikembalikan Ellea padanya. Pria itu menghela napas dengan berat, menutup kotak beludru lalu menyimpannya dalam laci.
Sudah saatnya ia melangkah kedepan. Melupakan cintanya yang bertepuk sebelah tangan ini.
Sementara Ellea yang baru sampai di Mansion Hansel langsung masuk ke kamar. Tanpa memperdulikan Jovie yang menunggunya di ruang tengah. Mom Linn dan Dad Harry sedang ke rumah sakit.
"Elle, are you okay?" Jovie mengikuti Ellea ke kamar. Tadi ia ingin mencari gadis itu, namun ternyata Ron sudah menemukan keberadaannya lebih dulu. Jadi ia memilih menunggu disini.
"Kenapa Kak Jo ikut masuk?" Ellea melirik Jovie dengan tatapan sinis.
"Bilang dulu sama Kak Jo ada apa? Kenapa dan mana Ron?" Tanya Jovie beruntun.
__ADS_1
"Pulang," jawab Ellea malas. Melemparkan tas dan menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.
"Kalian bertengkar?" Selidik Jovie, setahunya Ron selalu mengalah pada Ellea dan sebisa mungkin menghindari pertengkaran.
"Aku capek Kak Jo jangan diwawancara." Jawab Ellea, mengambil ponsel dan menyalakannya. Banyak panggilan tak terjawab dari Mom Linn, Edric, Ron dan Jovie. Belum satu menit ponselnya menyala Edric sudah melakukan panggilan video.
Jovie tidak membantah, membiarkan gadis itu sibuk dengan ponselnya.
"Elle," panggil Edric yang malas dijawab Ellea.
"Ellea Hansel..." Ulang Edric dengan suara tegas.
"Yes Kak," jawab Ellea malas.
"Kau kabur kemana saja, hm?"
"Aku tidak kabur Edric, aku jalan-jalan." Ujar Ellea yang membuat sang kakak berdehem dengan keras di seberang telepon.
Jovie yang melihat ekspresi sang gadis mengulum senyum.
"Jalan-jalan kenapa membuat Mommy khawatir, ponselmu dimatikan. Kau kan bisa ijin dulu pada Mommy atau padaku. Jangan membuat orang khawatir," omel Edric.
"Aku malas kalian ganggu."
Jawaban Ellea membuat Edric mengurut dada. Kenapa tidak hanya Deandra yang menguji kesabarannya.
"Kau berulah apa sampai Ron marah dan membawamu kebut-kebutan?" Edric kembali melembutkan suaranya walau sangat ingin memarahi adiknya itu.
__ADS_1
"Aku suruh pacaran sama Sari," jawab Ellea enteng yang sukses membuat Edric di seberang sana menghela napas kasar. Begitu juga dengan Jovie yang mendengarnya langsung.
"Ya sudah kau istirahat, kalau tidak enak badan minta Pak Man panggil dokter. Mommy sebentar lagi pulang," beritahu Edric kemudian mengakhiri panggilannya. Sudah seperti ini tidak bisa dikerasin, yang ada nanti adiknya itu kabur lagi.
Setelah selesai berbicara dengan Edric Ellea melempar ponsel, membenamkan wajah di bawah bantal. Apa yang terjadi dengan dirinya ini. Sejak kapan Ron bisa membuat moodnya amburadul.
Jovie yang melihat sang gadis gusar mendekat, mengusap-usapnya di punggung. "Cerita sama Kak Jo Sayang, Elle kenapa?" Perlahan Jovie memindahkan bantal yang menutupi wajah Ellea, membangunkan dan membawanya dalam pelukan.
"Sesak," keluh Ellea memukul dadanya yang terasa sesak. Ia bahkan tidak tahu penyebabnya apa.
"Okey, tarik napas dulu lalu hembuskan pelan-pelan." Aba-aba Jovie yang diikuti Ellea. Pria itu masih mengusap-usap punggung sang gadis. Tentu saja ia tahu apa yang menyebabkan gadisnya jadi seperti ini. Saat ini Jovie memposisikan dirinya sebagai seorang kakak.
"Masih sesak," keluh Ellea dengan bibir manyun.
"Sekarang bawa minum dan tenangkan diri." Jovie mengambilkan segelas air putih, memberikannya pada Ellea.
"Kak Jo, airnya gak berasa ish. Gak ada manis-manisnya," gadis itu mencebikkan bibir meletakkan gelas kosong ke atas nakas.
Jovie dibuat membelalakkan mata, "mau air keran? Kak Jo ambilkan." Tawarnya sambil mencubit gemas pipi sang gadis. Ia kira galau beneran, ternyata masih bisa bikin orang kesal.
"Aku maunya air putih murni, ditambah jeruk peras, ditambah gula dan ditambah es." Sebut Ellea, setelahnya menggigit tangan Jovie yang mencubit pipinya dengan keras. Untuk meluapkan kekesalannya pada Ron.
"Sakit Elle!!" Pekik Jovie, cepat menjepit hidung Ellea agar berhenti menggigitnya. "Kau ini marah pada Ron tapi aku yang dijadikan pelampiasan."
"Biar saja, Kak Jo juga suka bikin aku kesal!!"
"Lihat perbuatan kau," Jovie melipat lengan kemejanya menunjukkan bekas tancapan gigi disana.
__ADS_1
Sang gadis langsung tertawa gelak melihat tangan Jovie yang berdarah karena ulahnya. Ia merasa sudah berhasil membalaskan sakit hatinya pada pria ini.
Jovie menghela napas lega melihat Ellea yang sudah bisa tertawa.