
"Sial aku melupakannya!" Umpat Edric dalam hati.
"De, aku bisa jelaskan." Edric dapat merasakan wajah yang ditutupi keangkuhan itu sedang terluka.
"Aku tidak butuh penjelasan darimu!!" Ucap Deandra dingin.
"Look at me Deandra Hansel," Edric berucap lembut namun tetap tegas. Deandra menurut melihat ke arah Edric dengan kilat kemarahan.
"Lihat ini," Edric mengambil lipstik yang tadi digunakannya secara sengaja untuk membuat Deandra cemburu. Tapi niatnya sudah berubah saat tahu istrinya itu sedang marah. Sialnya ia lupa menghilangkan bekas lipstik itu.
"Aku cuma mau membuatmu cemburu, ini bukan bekas lipstik wanita lain. Aku sedang di mansion Daddy mana mungkin berani bersama wanita lain." Entah kenapa Edric jadi mau susah-payah menjelaskan. Padahal biasanya dia akan sangat senang kalau melihat Deandra marah.
"Edric, kau itu sangat jahaaat padaku!!" Teriak Deandra semakin kesal sampai meneteskan air mata karena malu bercampur marah.
"I'm sorry," ucap Edric sungguh-sungguh saat melihat Deandra menangis. "Maaf sudah keterlaluan mengerjaimu."
"Kau jahat, aku benci padamu!!" Deandra membenamkan wajahnya diantara kedua lutut. Membuat Edric semakin merasa bersalah.
__ADS_1
"De, sini peluk online." Pria itu merentangkan tangan, ia ingin cepat pulang agar bisa memeluk wanitanya itu.
"Edric aku ini masih marah!!" Sahut Deandra ketus tanpa mengangkat wajah.
"Aku tahu, i'm sorry Sweetheart." Ujar Edric yang mampu membuat Deandra langsung menoleh padanya kembali hanya karena satu panggilan itu.
"Kau panggil aku apa?" Tanya Deandra tidak percaya dengan apa yang telinganya dengar. Punggung tangannya menyeka air mata dengan kasar.
"Sweetheart, kau suka?" Edric bisa menarik napas lega karena Deandra sudah menghentikan tangisnya. Ia paling tidak bisa melihat wanita terdekatnya mengeluarkan air mata.
"Aku tahu," Edric mengulum senyum melihat wajah malu-malu Deandra.
"Kau kemana saja tidak menghubungiku, aku kesepian sendirian disini."
"Maaf, aku terlalu sibuk jadi tidak sempat memberimu kabar." Edric masih betah mengamati wajah Deandra dari layar. Hidung dan mata wanitanya itu masih memerah.
"Dan setelah membuatku menangis kau baru punya waktu untukku. Lebih baik kau tidak usah menghubungiku saja!" Nada suara Deandra meninggi kembali setelah mendengar alasan dari pria yang menjadi suaminya itu.
__ADS_1
"Sesibuk apapun pria kalau sudah menjadikan wanitanya prioritas pasti akan menyempatkan waktu untuk memberikan kabar," omel Deandra.
Edric mendengarkan saja omelan wanita yang sudah menemaninya sebulan terakhir ini. "Jangan marah lagi, aku akan cepat pulang untukmu. Dan aku usahakan untuk selalu memberimu kabar selama disini," bujuknya setelah Deandra berhenti mengoceh.
"Sekalian saja tidak usah pulang dan mengabariku lagi!" Sungut Deandra, tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Cuma ingin mendengar Edric membujuknya lagi.
"Kau yakin tidak ingin aku pulang?" Edric memainkan alis sambil tersenyum menggoda.
"Edric!" Rengut Deandra.
"Yes Sweetheart, aku tahu kau masih marah." Ujar Edric lebih dulu dengan senyuman manis sebelum Deandra mengatakannya. Senyuman yang hanya bisa dilihat oleh orang terdekatnya.
"Cepat pulang kalau kau tidak ingin aku diculik om-om lagi!"
"Tidak ada Om yang akan menculikmu lagi," jawab Edric cepat. Karena dia sudah membuat manusia brengsek itu tidak bisa melakukan apa-apa.
"Kau belum tahu saja siapa dia?" Batin Deandra yang sangat yakin om tersayangnya itu sudah berhasil lolos dari anak buah Edric.
__ADS_1