Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 184


__ADS_3

Hari demi hari mansion Hansel tidak pernah absen dari pertengkaran Deandra dan Ellea. Para penghuni mansion sudah terbiasa mendengar suara cempreng dua wanita itu. Edric sampai menganggapnya sebagai hiburan. Kalau mereka tidak bertengkar rumah akan sepi.


"Elle perutku sakit huh," keluh Deandra tidak dihiraukan Ellea yang sedang menyeruput capucino. Karena menganggap kakak iparnya itu berpura-pura dan ingin mengerjainya, sudah sering ia terkena prank wanita hamil itu.


Ellea tidak ada kerjaan di rumah sambil menunggu tahun ajaran baru untuk melanjutkan kuliah. Jadi kerjaannya hanya bertengkar dengan sang ipar. Paling hanya sesekali ia ikut Dad Harry ke kantor untuk belajar bisnis. Mereka akan kembali ke Inggris setelah Deandra melahirkan.


"Drama saja terus!" Seru Ellea mengibaskan rambutnya.


"Elle, ini beneran sakit." Ringis Deandra, "panggil Mommy please," serunya saat merasakan kontraksi semakin kuat.


Ellea menoleh dan langsung terpekik saat melihat wajah Deandra yang kesakitan dan berkeringat dingin.


"Mom, Mommy... Sepertinya Dea mau melahirkan!!" Teriak Ellea kebingungan melihat Deandra yang semakin meringis. Padahal perkiraan hari kelahiran kakak iparnya itu satu mingguan lagi.


Gadis itu tidak tahu harus berbuat apa hanya menepuk-nepuk perut Deandra sambil berbicara disana. Seperti yang Edric biasa lakukan saat kakak iparnya mengalami kontraksi palsu, seraya menunggu Mom Linn.


"Dedek mau keluar ya, ayo cepat keluar biar kita jalan-jalan menyapa dunia yang fana ini." Oceh Ellea yang mendapat cubitan dari Deandra. Istri Edric itu ingin sekali tertawa mendengar kalimat unfaedah dari sang ipar.


"De, ayo cepat keluarkan!!" Seru Ellea bersemangat.


"Elle!!" Teriak Deandra kesal. Tidak bisa melihatkah gadis itu, dia sedang kesakitan malah diajak bercanda.


Mom Linn datang terpogoh-pogoh langsung meminta Pak Man menyiapkan mobil. Perempuan setengah baya itu segera menghubungi suami dan putranya setelah membawa Deandra ke mobil di bantu Pak Man.


"Mom aku mau Edric ada disini," pinta Deandra sambil mengelus-elus balon besarnya yang hampir meletus. Ia sudah tidak mengeluh kesakitan lagi saat sadar baby-nya ingin keluar. Lebih memilih menggigit bibirnya agar tidak terus mengeluh saat sakit perutnya semakin terasa.


"Iya Sayang, Edric akan menyusul kita." Ujar Mom Linn menghapus peluh yang bercucuran dari kening sang menantu.


Sementara Edric yang sedang berada di ruang meeting gelisah setelah mendapatkan panggilan telepon dari Mom Linn. Mempercepat durasi meeting dan segera menyusul Deandra ke rumah sakit.


Calon ayah itu mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Kalau saja tahu hari ini sang istri waktunya melahirkan, ia tidak akan meninggalkannya sendirian. Walau tidak sendirian ada Mom Linn di sampingnya tetap saja beda kalau bukan dirinya yang menemani.


"Sayang," Edric langsung masuk ke ruang bersalin menggantikan Mom Linn setelah berbicara dengan dokter sebentar. Deandra sudah memasuki pembukaan sepuluh.


"Edric," Deandra tidak dapat bersuara lagi. Bahagia ada Edric menemani disisinya, walau merasakan sakit dia tetap tersenyum.

__ADS_1


"Kuat Sayang, Dea kuat." Edric memeluk wanita tersayangnya saat dokter memberikan aba-aba untuk mengejan.


"I love you sayangku," Edric membisikkan kata-kata cinta untuk Deandra. Membiarkan sang istri menggigit bahunya. Ia berjanji tidak melepaskan pelukan sampai proses melahirkan selesai.


Kaki Edric sampai lemas merasakan kesakitan Deandra yang berjuang melahirkan buah hati mereka. Mulutnya tidak berhenti mengucapkan kata cinta dan memberikan kekuatan. Kalau bisa dialihkan rasa sakit itu biar dia saja yang kesakitan.


"Istriku hebat, tarik napas Sayang." Ucapnya mengikuti aba-aba sang dokter.


"Aargh!!" Edric hampir berteriak keras saat bahunya digigit semakin kuat oleh Deandra.


"Sweetheart," Edric hampir menyerah menemani Deandra melahirkan. Karena tidak kuat melihat wanita tersayangnya kesakitan. Sampai suara tangis bayi perempuan membuat pasangan suami istri itu menangis bahagia bersama.


"Dedek sudah lahir Sayang, terima kasih Sweetheart." Edric mengecup seluruh wajah Deandra yang penuh peluh dan memucat. Lalu melabuhkan bibirnya pada bibir sang istri, tidak peduli ada dokter dan perawat disana.


"Ayang!!" Deandra memukul bahu Edric yang tadi digigitnya saat hampir kehabisan napas.


"Aauw sakit Sayang!!" Ringis Edric.


"Itu juga Sakit Edric!" Deandra menunjuk ke arah bawah. Tahu Edric sengaja melakukan itu agar ia tidak ketakutan melihat noda darah pasca melahirkan.


"Maaf sudah membuatmu kesakitan Sayang, tapi bikinnya enakkan." Goda Edric kembali mendusel-dusel pipi Deandra. Para perawat yang menangani wanita itu hanya bisa menghela napas, malu sendiri mendengar kemesraan mereka.


"Ayang, gak ada niat mau pindah hm." Deandra melirik sang suami yang sangat mengkhawatirkannya. Tangannya menepuk-nepuk pipi prianya dengan lembut.


Edric menggelengkan kepala dengan tersenyum manis. Sambil mengawasi putrinya yang jadi rebutan.


"Kalau aku jauh-jauh nanti kamu lama sembuhnya." Ujar Edric mengusap mata Deandra yang sembab.


"Edric, putriku mau istirahat kau ganggu terus!" Tegur Dad Tian usil mendekati putrinya ingin memeluk namun dihalangi Edric.


"Istriku mau istirahat Dad, jangan diganggu." Balas Edric tidak mau kalah.


"Ish kalian apaan sih bertengkar terus kalau ketemu," desis Deandra.


"Gak enakkan kalau dengar orang bertengkar Sayang, makanya jangan suka bertengkar dengan Elle." Beritahu Edric dengan kekehan, membuat Deandra merengut masam. Bisa-bisanya Edric membahas hal seperti itu saat dia baru selesai melahirkan.

__ADS_1


"Alhamdulillah, selamat Sayang lahirannya lancar." Dad Tian tetap kekeuh memeluk sang putri. Dan tersenyum bangga mencium kening Deandra.


"Jelas dong, kan aku selalu nunjukin jalan biar dedek gak nyasar." Serobot Edric yang kesal pada sang mertua.


"Ayang," Deandra mencubit lengan sang suami karena malu. Hal seperti itu dibahas di depan Dad Tian.


"Daddy juga gitu Sayang, gak usah malu." Ujar Edric tersenyum mengejek pada sang mertua.


"Kalau kau bukan menantuku sudah ku sunat dua kali!" Decak Tian geram, ingin sekali menghajar menantunya ini.


"Ingat ya ini rumah sakit!" Tegur Ressa dengan suara pelan namun penuh penekanan sontak membuat dua pria yang tadi adu mulut itu memasang senyum genit.


Perempuan cantik yang tengah menggendong cucunya itu mencebikkan bibir melihat tingkah suami dan menantunya.


"Putri Daddy hebat," Denis yang baru mendekat langsung menggeser Tian dan memeluk putrinya. "Maaf Daddy jarang menemani Dea," ucapnya memeluk sang putri lama.


"I miss you Daddy," Deandra tersenyum menepuk kedua pipi Dad Denis. Ia memang jarang bertemu Dad Denis dan Mom Aru sekarang. Kedua orang tuanya itu sibuk pulang pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis.


Edric hanya bisa menghela napas berat karena harus berbagi istrinya pada dua pria tua itu. Ralat, bukan dua tapi tiga. Pria yang baru menjadi ayah itu menatap sinis Dad Harry yang menertawakan dirinya. Karena tahu ia tidak suka Deandra di peluk-peluk orang lain.


"Sudah ya sudah, sekarang kalian main sama cucu kesayangan kalian saja. Aku mau menemani istriku istirahat." Ujar Edric yang terpaksa mengalah hanya sempat menggendong putrinya sebentar. Karena diperebutkan oleh para kakek nenek yang demam baby.


"Nanti kita buat sepuluh lagi Sayang biar mereka gak rebutan." Decak Edric menyingkirkan tangan Dad Denis dari Deandra.


"Kau keluarkan saja sendiri!" Seru Deandra dengan pelototan tajam. Edric menanggapi dengan cengiran lebar.


Denis yang tidak terima dipaksa menjauh dari putrinya memeluk Deandra kembali.


"Daddy!!" Geram Edric, kapan Deandra istirahat kalau terus diganggu.


"Mas, putrimu itu mau istirahat loh. Nanti lagi dipeluknya," tegur Mom Aru. Mereka para wanita saja tidak diperbolehkan Edric mendekati Deandra.


"Minggir Dad, minggir!" Seru Edric tersenyum penuh kemenangan. Biar saja putrinya yang jadi rebutan asal jangan istrinya.


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


Terima kasih supportnya para reader tercinta 🥰


Edric dan Dea sudah bahagia jadi boleh tamatkan😄


__ADS_2