
Edric merasakan sesuatu yang aneh. Hawa panas tiba-tiba menyerang, membuat tubuhnya terasa terbakar.
"Sial mereka mempermainkanku!!" Umpat Edric mengambil ponselnya segera menghubungi Zain. Kepalanya masih bisa berpikir waras, dia harus segera pulang sebelum melakukan kesalahan fatal. Apalagi dengan banyaknya wanita-wanita berpakaian sexy yang bisa membangkitkan gairahnya.
"Edric," panggil seorang wanita.
Wanita yang sejak tadi Edric cari keberadaannya. Ada sesuatu yang ganjil, membuatnya ingin tahu rencana apa yang sedang wanita itu mainkan. Tapi sekarang kondisi tubuhnya sedang tidak bisa dikendalikan, Edric lebih memilih untuk pergi.
"Ada yang ingin bertemu dengan kau. Bisakah kau meluangkan waktu sebentar?" Pinta Alice dengan sopan.
"Tidak sekarang, aku harus pulang!" Tolak Edric cepat.
"Edric please, sebentar saja. Beliau sangat ingin bertemu dengan kau," mohon Alice dengan wajah memelas sambil menangkupkan tangan di depan dada. Dress berdada rendah yang Alice gunakan membuat benda menonjol dari wanita itu terlihat jelas oleh Edric.
Edric mencoba mengembalikan fokusnya yang mulai buyar. "Aku harus cepat pulang," kalimat yang dari tadi muncul dalam benaknya terus terngiang. Saat kepalanya semakin berat, Edric merasakan Deandra berada di sampingnya.
Melihat Edric mulai hilang keseimbangan, kesempatan itu Alice gunakan untuk membawanya ke suatu tempat.
__ADS_1
Zain tiba di tempat pertama mereka berpisah tapi bosnya itu tidak ada disana. Ia mencoba menghubungi ponselnya namun tidak bisa terhubung.
Pria itu bergegas ke parkiran, menduga Edric sudah keluar lebih dulu karena tadi mengeluh tidak enak badan. Namun di mobil pun tidak terlihat keberadaan tuannya.
Sementara di kamarnya Deandra terus merengek minta diantar menyusul Edric.
"Sayang tenang ya, Edric sebentar lagi pulang." Mom Linn menenangkan menantunya yang tidak mau diam.
"Mom, Edric itu gak bisa ditelepon." Ujar Deandra gelisah dengan air mata yang beruraian. Wanita hamil itu sekarang sangat sensitif, tidak bisa salah sedikit akan menangis seperti anak kecil.
"Enggak. Edric dalam bahaya Daddy!! Aku mau nyusul Edric, kalau Daddy gak mau antar aku berangkat sendiri." Kekeuh Deandra yang merasakan hatinya semakin tidak nyaman.
"Ini sudah malam Sayang, kita tunggu sebentar lagi. Kalau Edric tidak pulang baru kita susul," ujar Mom Linn.
"Enggak, aku mau nyusul sekarang Mom." Wanita itu beranjak dari tempat tidur dan tiba-tiba menjerit saat perutnya terasa kram.
"Mom sakiiittt!!" Teriak Deandra membuat pasangan suami istri itu panik.
__ADS_1
"Dea tarik napas Sayang," aba-aba Mom Linn yang sudah menidurkan Deandra kembali. Sedang Dad Harry sibuk menelpon dokter setelahnya memerintahkan anak buahnya untuk menyusul Edric.
"Edric sakiittt!!" Keluh Deandra merasakan perutnya semakin nyeri.
"Sayang tahan sebentar, dokter masih dalam perjalan." Dad Harry mengelus-elus perut buncit sang menantu. Menenangkan bayi yang ikut gelisah karena sang mommy yang gelisah berlebihan sejak tadi.
"Edric..." Deandra tidak berhenti bergumam memanggil nama Edric. Seolah bisa merasakan apa yang sedang dialami sang suami.
Pria yang dibawa Alice ke sebuah kamar itu tidak menyadari siapa yang ada di sampingnya. Dalam bawah sadarnya merasakan Deandra yang memanggil dan membelai-belai tubuhnya.
"Sweetheart," panggil Edric membawa Alice ke pangkuannya. Saat ini tubuhnya tidak hanya sekedar menginginkan sentuhan. Tubuhnya sedang mendamba sebuah pelepasan.
Alice tidak menyahut, sudah lama ia menginginkan prianya ini. Pria yang tidak pernah mau menyentuhnya di tempat tidur.
"Kenapa perut Dea sudah tidak buncit lagi Sayang?" Gumam Edric dengan mata terpejam meraba-raba perut Alice.
Membuat wanita yang haus akan sentuhan Edric itu menegang. Tidak peduli Edric menganggapnya sebagai Deandra. Yang terpenting dia bisa memiliki prianya ini.
__ADS_1