
"DEANDRA!!" Edric menggedor pintu kamar Deandra dengan kasar.
"Kau ini ada apa. Tidak lelahkah mulutmu itu berteriak!!" Ketus Deandra saat membuka pintu.
"Apa yang kau masukkan dalam makananku hah!!" Kesal Edric langsung menjewer telinga Deandra dan menyeret ke kamarnya.
Gadis ini benar-benar harus diberi pelajaran serius. Dia bolak-balik masuk toilet gara-gara makanan yang diracun Deandra. Untung saja Edric selalu sedia obat penawar penyakit kampungan itu.
"Apa yang aku masukkan? Kau tidak lihat aku makan dari tempat yang sama dan kau yang mengambil nasi goreng itu sendiri. Kenapa menyalahkan aku. Kau pikir aku punya obat pencahar. Dari pada aku membuatmu sakit perut lebih baik aku langsung meracunmu supaya cepat mati!!" Sarkas Deandra setelah Edric melepaskan telinganya karena sakit perut. Dia baru paham kalau pria itu sakit perut dan menuduhnya melakukan perbuatan itu.
Walau telinganya sakit Deandra tidak mengaduh sama sekali. Baru kali ini dia merasakan yang namanya dijewer dan sekarang dia dikurung di kamar Edric.
Edric tidak menjawab kekesalan Deandra masuk ke toilet kembali. Kenapa gadis itu ikut mengomel harusnya biarkan dia saja yang mengomel.
"Kalau kau tidak melakukannya lalu siapa lagi? Emang ada siapa lagi di rumah ini selain kau!!" Edric menatap dingin Deandra setelah menuntaskan hajatnya yang sudah kesekian kali. Walau tubuhnya lemas, namun itu tak membuat Edric surut semangat mengajak Deandra bertengkar.
"Aku tidak melakukannya Edric, kau itu menuduhku tanpa bukti!!" Deandra tidak tahu apa yang akan dilakukan Edric di dalam kamar seperti ini. Itu mengingatkannya pada saat Om Azmi menciuminya dengan penuh gairah.
Sejenak Edric berpikir, Deandra mengambil makanan dan minuman dari tempat yang sama dengannya. Pasti ada sesuatu yang salah karena gadis itu tidak kenapa-kenapa.
"Apa yang kau masak pagi tadi?"
__ADS_1
"Nasi goreng udang, kau tidak lihat?" Jawab Dea dengan menundukkan kepala karena Edric semakin mendekatinya.
"Duh, apa yang ingin manusia angkuh ini lakukan." Deandra berusaha menyembunyikan rasa cemasnya dengan memilin-milin ujung piyama.
Sedang Edric tersenyum sangat tipis melihat Deandra yang nampak ketakutan. Sekarang dia tahu apa yang bisa membuat gadis ini takut.
"Kau sengaja ingin membuatku sakit perut hah. Aku itu alergi udang!!" Edric mencengkram rahang Deandra dengan kuat meluapkan rasa kesalnya.
Deandra sampai meringis menahan sakit, lalu balas mencengkram tangan Edric dengan kedua tangan dan menghempaskannya. Dia tidak boleh bersikap lemah di depan Edric.
"Kau boleh tidak suka padaku dan menyalahkanku atas apa yang terjadi. Tapi aku tidak sudi menerima perlakuan kasarmu!!"
Setelah mengucapkannya Deandra keluar dari kamar Edric. Baru tiga hari menikah dia sudah diperlakukan dengan kasar seperti ini. Deandra duduk di depan cermin sambil mengelus-elus rahangnya yang sakit. Ternyata tidak hanya hatinya yang tersakiti tapi fisiknya juga.
Sementara Edric langsung berangkat ke kantor setelah perutnya merasakan lebih baik. Entah kenapa dia selalu ingin marah dan membuat Deandra marah. Kalau tidak seperti itu rumahnya pasti akan sepi seperti sekarang. Saat gadis itu meninggalkannya masuk ke kamar. Tidak ada lagi orang yang bisa dia marahi.
Hansel Grup
"Babe," Alice langsung menghambur ke pelukan Edric setelah menunggu sang kekasih selama setengah jam.
"Yes Honey, kenapa kesini?" Tanya Edric dengan lembut. Netranya menatap tajam Ron, asistennya yang berdiri di ujung ruangan.
__ADS_1
Dia bisa kena masalah kalau ketahuan Dad Harry membawa Alice ke kantor. Dengan isyarat mata Edric mengusir asistennya untuk keluar.
"Sudah punya istri cantik masih saja tergoda wanita murahan!!" Gumam Ron yang hanya bisa terucap dalam hati. Ia terpaksa meninggalkan ruangan tuannya karena diusir.
"Terus aku harus kemana kalau kangen, kan gak boleh ke apartemenmu lagi." Ucap Alice dengan manja.
"Aku kan bisa datang ke apartemenmu Sayang," Edric duduk di samping sang kekasih dan membawa Alice duduk di pangkuannya.
"Lama, aku sudah gak tahan lagi pengen ketemu kamu." Alice sengaja menggoda Edric agar bisa menjadi miliknya seutuhnya. Dia tidak rela kalau sang pacar jatuh kepelukan perempuan lain.
"Honey tangannya," Edric menahan tangan Alice yang menggerayangi tubuhnya. Karena itu membuat adik kecilnya bangun.
"Kita sudah lama bersama dan sama-sama menginginkannya. Kenapa selalu ditahan Babe," rajuk Alice dengan wajah cemberut.
"Bukan sekarang Honey," Edric mengecup singkat bibir sang kekasih kemudian tersenyum hangat.
"Tapi aku maunya sekarang," Alice lebih dulu membungkam bibir Edric dan memimpin percumbuan mereka dengan tangan yang tidak bisa dikendalikan. Sentuhan itu membuat Edric semakin terbakar gairah dan tidak bisa menahan hasratnya.
"Jangan menyesali ini," ucap Edric ditengah erangan karena permainan tangan Alice.
Gadis itu mengangguk dengan senang hati. Mana mungkin Alice menyesalinya karena ini saat yang sangat ia impikan.
__ADS_1
"EDRIC HANSEL!!!"
Teriakan dari depan pintu membuat kesadaran Edric kembali. Ia menatap tubuh bagian atas Alice yang sudah polos karena ulahnya. Edric bergegas merapikan pakaian sang kekasih yang masih menatapnya dengan kabut gairah meminta untuk dipuaskan.