
Setelah disidang oleh tiga orang pria bermata elang, Edric diperbolehkan masuk ke kamar Deandra. Gadis itu sedang menangis sambil memeluk lutut.
"Apa selama ini aku sangat keterlaluan menyiksanya?" Tanya Edric dalam hati. Melihat tangisan itu membuat hatinya ikut merasakan sesak.
"Kakinya masih sakit?" Edric melepaskan pelukan Deandra dari lutut lalu mengganti dengan tubuhnya.
"Kenapa kau tidak mau bercerai?" Tanya Deandra to the point. Hal yang sangat mengganjal untuknya, dia ingin tahu apa yang ingin Edric rencanakan.
"Karena aku belum menghukummu, aku tidak ingin melihatmu bahagia bersama om-om itu." Edric merapikan rambut Deandra dan menghapus air matanya.
"Kau masih belum puas menghukumku?" Tanya Deandra dengan gelengan kepala.
Edric tersenyum lalu mengangguk, "kau harus tersiksa bersamaku. Dan aku belum puas menyiksamu." Bisik Edric kemudian menggigit cuping Deandra pelan. Membuat si empunya menegang dan merasakan olahraga jantung di malam hari.
"Pergi dari kamarku Edric!!" Usir Deandra melepaskan pelukannya. Takut terpesona dengan apa yang Edric lakukan. Padahal semua itu hanya akal-akalan Mr. Arrogant-nya ini saja.
__ADS_1
"Aku tidak mau," Edric melepaskan kancing kemeja Deandra satu persatu.
"Kau mau apa?" Deandra menahan kemejanya agar tidak terbuka. Dengan debaran yang semakin kencang. Ia bisa merasakan hembusan napas Edric yang membuat tubuhnya meremang.
"Membantumu ganti baju lalu memandikanmu. Nanti aku di marahi para pria kesayanganmu itu kalau tidak merawatmu dengan baik." Sahut Edric dengan senyuman licik.
"Aku bisa mandi sendiri, kau tidak perlu repot-repot jadi pelayanku." Sentak Deandra menyingkirkan tangan Edric dengan kasar.
"Ya, mulai hari ini aku akan menjadi pelayanmu di tempat tidur!" Edric memainkan alis semakin menggoda. Melihat wajah merah Deandra membuatnya semakin bahagia.
"Untukmu pengecualian, ralat perkataanku yang tidak ingin menyentuhmu karena bekas orang lain. Malam ini aku menginginkanmu," Edric semakin menggoda dengan seringaian jahil. Melupakan bibirnya yang robek bekas tamparan pria sialan itu.
"Ed, aku kotor bekas orang lain. Menikahlah dengan kekasihmu. Aku melepaskanmu dan aku akan menikah dengan Om yang sudah mengambil keperawananku." Bohong Deandra, padahal Azmi tidak pernah melakukan itu.
Mendengar ucapan Dea rahang Edric mengeras, tapi dia sudah bertekad untuk tidak melepaskan Deandra. Ia ingin membuat gadis ini tersiksa berada disisinya.
__ADS_1
"Tapi aku tidak ingin melepaskanmu!!" Tegas Edric yang menelan saliva susah payah saat berhasil melepaskan kemeja Deandra.
"Edric kau kenapa jadi seperti ini. Lebih baik kau menyakitiku seperti biasa daripada menghukumku seperti ini."
Deandra membuka laci nakas dan mengambil tisu basah untuk mengalihkan perhatian Edric. Ia membersihkan darah yang masih menempel di wajah Edric dengan pelan. Wajah tampan itu lebam-lebam.
Sedang Edric hanya diam menikmati perhatian Deandra. Dia semakin intens menatap gadis di depannya dengan segala pikiran yang ada dalam benaknya.
"Apa yang membuatmu jatuh cinta dengan Om itu?" Tanya Edric serius.
"Om mencintaiku, dia selalu menyayangiku. Tidak pernah marah dan selalu memperlakukanku dengan lembut." Jawab Deandra dengan senyuman merekah mengingat pertama kali saat dia bertemu Om Azmi.
"Aku juga bisa memberikan semua itu." Ucap Edric yang terdengar berat, entah kenapa dia jadi mengatakan hal seperti itu.
"Kau tidak perlu melakukannya, cukup kekasihmu yang kau perlakukan seperti itu." Deandra tersenyum, dia tahu bagaimanapun kerasnya berusaha memperbaiki hubungan ini, Edric tetap tidak akan bisa mencintainya. Karena di hati pria itu sudah ada wanita lain.
__ADS_1
"Aku kehilangan kekasihku, jadi kau yang harus bertanggung jawab atas semua ini!" Edric berucap tegas, tidak ingin dibantah.