Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 77


__ADS_3

"Jadi kita ke rumah sakit hanya untuk mengantar Elle, kenapa kau tidak bilang dari tadi." Rengut Deandra yang berada di kursi roda. Edric memaksanya menggunakan kursi roda padahal dia masih bisa berjalan normal.


"Bukan hanya Elle tapi kau juga," jawab Edric datar. Ellea sudah dibawa Jovie lebih dulu ke ruang IGD. Mau tidak mau dia membiarkan Jovie yang mengurus Ellea karena dia tidak bisa mengurus keduanya sendirian.


"Kenapa aku juga, lukaku ini tidak parah Edric. Hanya melepuh, besok juga sembuh." Protes Deandra karena tidak mau dirawat di rumah sakit. Dia bisa sakit sungguhan kalau cuma disuruh berbaring seharian. Ya meskipun pahanya memang cenat-cenut.


"Kau itu bandel, tidak bisa diam. Jadi harus menginap disini biar cepat sembuh," beritahu Edric.


"Edric, kita rawat jalan saja ya." Pinta Deandra dengan wajah memelas.


"Tidak, kau harus menjalani operasi. Aku tidak mau kulitmu berbekas dan lama sembuhnya. Nanti aku kelamaan puasa," sambung Edric dalam hati. Tentu saja semua ini demi keuntungan dirinya juga.


"Baiklah, berarti boleh pakai celana pendek dong kalau kulitku sudah mulus kembali." Deandra menarik satu sudut bibirnya, membayangkan kata operasi saja tubuhnya sudah merinding. Ia harus bisa menggagalkan keinginan Edric.


"Boleh," sahut Edric singkat.


"Asyik!" Seru Deandra girang, padahal dalam hatinya kesal karena pancingannya tidak berhasil.


"Dalam kamar. Berani kau menggunakannya diluar kamar akan aku bakar semua pakaianmu," sambung Edric dengan wajah dingin.


"Ish, kau ini php. Biarkan saja kulitku seperti ini, aku tidak mau operasi!" Tolak Deandra.


"Sayangnya dokter sudah menjadwalkan operasi untukmu." Edric mendorong kursi roda, mengantar Deandra ke ruang pemeriksaan dengan wajah dinginnya.


"Kau itu menyebalkan Edric!!" Gerutu Deandra karena tidak bisa melakukan penolakan lagi.


"Biarlah aku menyebalkan, karena semua ini untuk kebaikanmu."


"Kebaikanku, kau tahu aku ini takut." Jujur Deandra dengan mata berkaca-kaca.


Mendengar suara wanitanya yang berubah serak Edric berhenti mendorong kursi roda dan berjongkok di depan Deandra.

__ADS_1


"Tidak akan ada darah Sweetheart," Edric menangkup kedua pipi Deandra. Mengelus-ngeluskan jempol tangannya.


"Tidak akan semenakutkan yang kau pikirkan, percayalah." Lanjut Edric meyakinkan.


"Tetap saja aku takut Edric. Aku cuma mau di rumah kau temani, nanti ini juga sembuh sendiri." Rengek wanita yang baru berusia sembilan tahun itu.


"Aku akan selalu menemanimu, kalau dibiarkan nanti semakin parah bagaimana. Kau mau lukanya membusuk?" Tanya Edric yang dijawab Deandra dengan gelengan kepala.


"Sekarang kita bertemu dokter," pria itu menepuk pipi Deandra untuk meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja.


🌹


🌹


Setelah melewati pemeriksaan, baik Deandra maupun Ellea dipindahkan ke ruang rawat VVIP yang sama. Edric duduk disisi Deandra sambil mengawasi adiknya yang masih belum tersadar. Jovie sedang pulang ke apartemen, sementara Ron membeli makan malam untuk mereka.


"Edric ini gak enak, pahaku jadi mumi." Deandra menunjuk pahanya yang diperban.


"Itu biar lebih aman saat kau bergerak, sebentar saja. Nanti kalau sembuh dilepas."


"Semakin kau mengeluh lukanya akan semakin lama sembuh. Jangan terlalu dipikirkan," Edric menepuk-nepuk bahu Deandra untuk menenangkan.


"Aku mau tidur sambil dipeluk," rengek wanita itu lagi agar Edric membawanya pulang. Dia sungguh tidak betah berada di rumah sakit. Apalagi saat melihat Ellea yang pucat tidak bangun-bangun, hatinya jadi cemas.


"Aku tahu kau itu hanya mencari alasan agar aku bawa pulang. Kalau kita pulang siapa yang menjaga Elle," Edric mengusap rambut panjang Deandra. Menatap netra wanitanya dengan lembut, ia bisa melihat kegelisahan di mata itu.


"Tapi aku beneran takut disini," Deandra membawa tangan Edric ke dadanya yang bergemuruh.


"Ternyata istri sombongku yang manja ini punya rasa takut," goda Edric. Mengecup di pipi untuk mengalihkan perhatian Deandra.


"Aku masih termasuk dalam golongan manusia Edric, bukan jin." Seru Deandra kesal, suami macam apa yang senang melihat istrinya ketakutan.

__ADS_1


"Aku pikir kau titisan bidadari," rayu Edric. Semakin gencar mengecup pipi Deandra yang bersemu merah. Ia melakukan ini untuk mengalihkan pikiran istrinya yang tegang.


"Ekhem."


Suara deheman membuat pasangan suami istri yang tengah bermesraan itu menoleh ke arah pintu.


"Daddy," gumam Deandra melirik ke arah Edric.


Pria itu seolah mengerti arti tatapan mata Deandra yang seakan bertanya, apakah dia yang memberitahu ayah mertuanya itu kalau mereka sedang berada di rumah sakit. Edric menjawab dengan gelengan kepala.


"Kalian kenapa tidak langsung memberitahu Daddy?" Tanya Tian dengan nada sedikit tinggi. Ia marah karena putrinya itu tidak memberitahu kalau ada yang mencelakainya. Tian bukannya tidak tahu dengan apa yang terjadi. Dia hanya menunggu putrinya itu mengadu.


"Dea lupa naruh hp Daddy," ringis Deandra.


"Oh ya, apa Dea hari ini ingat ngasih makan pou?" Pancing Tian yang sangat tahu putrinya sangat suka memainkan game alien yang menyerupai bakpao itu.


"Tentu saja tidak, aku sudah memberi makan dan memandikannya agar tidak sakit." Jawab Deandra sumringah karena Dad Tian mengingat game kesukaannya.


Denis mengerutkan kening menahan tawa, sedang Edric menepuk jidat menyadari kebodohan wanita yang berstatus istrinya. Walau tidak mengerti apa yang dibicarakan ayah dan anak itu, tapi dia tahu inti pembicaraannya.


"Hm, hari ini pou makan apa?" Tanya Tian lagi dengan raut dingin.


Otak Deandra yang tadi lancar untuk berbohong tiba-tiba macet saat melihat ekspresi suaminya dan Dad Denis.


"Hee lupa Daddy," jawab Deandra dengan cengiran ketika menyadari kebodohannya.


"Sudah berani bohong sama Daddy, mau dipukul lukanya hah!!" Pria itu menatap tajam putrinya yang menunduk takut.


"Dad!" Tahan Edric saat Dad Tian mengayunkan tangan.


"Jangan dipukul nanti sakit, pukul aku saja. Aku yang salah tidak memberitahu Daddy." Ujar Edric spontan menutupi paha yang terbalut perban itu dengan tangannya untuk melindungi Deandra.

__ADS_1


"Kau kemana saja tidak bisa menjaga istrimu dengan benar!!" Netra elang Tian beralih menatap menantunya dengan tajam.


Edric yang ditatap menelan salivanya. Bukan karena takut pada Dad Tian, tapi takut kalau dia melawan istrinya dibawa pulang.


__ADS_2