Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 156


__ADS_3

"Kak Jo," lirih Ellea saat membuka mata. Hanya pria itu yang bersamanya saat ini di ruang rawat. Entah berapa lama ia tidak sadarkan diri.


"Yes Baby, aku disini." Jovie tersenyum mengusap puncak kepala Ellea dengan sayang.


"Mana Mom dan Dad?" Tanya Ellea. Ia butuh Mom Linn dan Dad Harry sekarang, berduaan dengan Jovie bisa membuat hatinya yang rapuh ini ketar-ketir.


"Mereka sedang sarapan dan Edric sudah pulang." Beritahu Jovie, "kau belum sarapan kan, ayo sarapan dulu." Pria itu mengambilkan sarapan yang sudah ada di atas nakas.


"Aku tidak lapar," jawab Ellea malas.


Kehadiran Jovie mebuat hatinya bahagia, namun sejenak terlintas dalam benaknya, saat dia bisa berjalan saja Jovie tidak menginginkannya. Apalagi sekarang, dia sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Ia benci melihat Jovie yang sok peduli, takut harapannya pada pria itu kembali bersemi.


Jovie mengangguk, tidak memaksa Ellea. Menghela napasnya dengan berat ketika melihat cincin di jari manis sang gadis.


Ia tahu kalau Ellea sebentar lagi akan menikah. Sebelum Ron datang melamar, ia sudah datang melamar gadis itu lebih dulu bersama Dad Johan dan Mom Desy tanpa sepengetahuan Ellea, namun ditolak. Edric sangat membencinya, sampai tidak mau memberinya kesempatan untuk bertemu Ellea.


"Bisakah Kak Jo pergi dari sini," pinta Ellea.


"Bolehkah aku merawatmu, setidaknya sebelum kau menikah." Ucap Jovie tulus, untuk menebus semua rasa bersalahnya selama ini. Tidak menuruti keinginan Ellea yang ingin ia pergi.


Deg!


Ellea terdiam dengan jantung yang berdebar kencang. Bagaimana dia bisa move on kalau terus melihat wajah Jovie ada didekatnya. Baru melihat wajah tampan itu, jantungnya sudah dibuat tidak bisa diam.


"Kak Jo tidak perlu merawatku!" Ketus Ellea menggerakkan tangannya mengusir Jovie.

__ADS_1


"Aku tidak akan pergi dari sini sebelum kau keluar dari rumah sakit." Jovie berucap dengan tenang, tidak peduli kalau kehadirannya tidak diinginkan.


Ellea berdecak, pria di depannya ini selalu saja sesuka hati melakukan pemaksaan.


Jovie tersenyum tipis karena Ellea tidak bisa menolak. Itu artinya ia memiliki waktu bersama gadis ini selama beberapa hari. Edric juga sudah tidak melarangnya berada di dekat Ellea.


Sementara di kantor Hansel Group, Edric tengah membujuk Deandra yang lagi-lagi merajuk. Sungguh kesabarannya sangat diuji. Ia harus memiliki stok sabar yang banyak agar tidak terpancing emosi karena ulah istrinya sendiri.


"Edric, aku tidak suka buburnya diaduk!" Rengek Deandra, karena Edric mengaduk buburnya sebelum menyuapi. Menatap jijik pada bubur ayam yang tadi sangat diinginkannya.


"Aku pesankan lagi," Edric tidak mau ambil pusing hanya karena masalah bubur ayam yang diaduk dan tidak diaduk. Tadi wanita itu tidak protes saat melihat ia mengaduknya, sungguh sangat menyebalkan tingkah ibu hamil ini.


"Mubajir Edric. Kau yang makan!" Suruh Deandra yang sudah tidak nafsu makan lagi.


"Kau harus makan!" Deandra tidak menerima penolakan, keukeuh ingin Edric yang memakan buburnya.


"No Sweetheart!" Tegas Edric, melihat saja dia tidak selera apalagi memasukkannya ke mulut.


Suara tegas Edric yang seperti bentakan membuat mata Deandra berkaca-kaca, sebentar lagi hujan akan turun. Sulung Hansel itu menarik napas panjang berulang kali untuk melepaskan emosinya.


"Oke aku makan," pasrah Edric agar istrinya tidak menangis. Besok dia akan membeli stok sabar yang banyak di supermarket agar tidak kesal pada wanita tersayangnya ini.


Deandra mengukir lengkungan di kedua sudut bibirnya. Menyendok bubur lalu dengan bersemangat menyuapi Edric.


"Sedikit-sedikit dulu Sayang," Edric sampai mencekik lehernya sendiri agar bubur itu tidak masuk ke perut.

__ADS_1


"Ini enak Edric. Lepas tangannya, nanti kau keselek." Ujar Deandra yang sudah siap melayangkan sendok ke mulut Edric.


"Sayang aku tidak bisa makan bubur," Edric kembali menghela napas panjang yang terdengar berat.


"Coba dulu, ini sangat Enak Sayang." Deandra memindahkan tangan Edric dari leher lalu menyuapkan bubur. Pria itu hampir memuntahkan buburnya kalau saja Deandra tidak menempelkan bibir pada sang suami.


Edric yang sedikit lagi emosinya meledak karena kelakuan sang istri akhirnya melunak. Menyesap bibir mungil yang memabukkan itu dengan penuh cinta. Sekarang ia mengerti kenapa Deandra memaksanya makan bubur. Wanita itu ingin bisa merasakan bubur dari mulutnya.


"Tidak mual?" Tanya Edric setelah melepaskan tautan bibirnya.


Deandra mengangguk, Edric dengan senang hati menyuap bubur lalu menyatukan bibirnya kembali pada Deandra. Jika dilakukan saat biasa mungkin dia tidak akan bisa menelan bubur itu. 


Pria itu tersenyum mengusap bibir Deandra dengan jempol. Membersihkan sisa bubur yang menempel di sana. "Kenapa tidak bilang kalau mau makan seperti ini. Kau tidak perlu mengamuk dulu. Kalau kau rewel kepalaku yang jadi pusing," ungkap Edric jujur. Ingin marah tapi sayang.


"Maaf selalu menyusahkan," Deandra melabuhkan dirinya dalam pelukan Edric. Dia juga tidak tahu kenapa jadi seperti anak kecil. Tiba-tiba saja ingin marah dan menangis tanpa sebab yang jelas.


"Tidak menyusahkan, suamimu ini hanya kebingungan." Edric mengusap perut Deandra sambil mengecup di pipi.


Ia yang pemarah dituntut menjadi penyabar karena suasana hati wanitanya yang tidak menentu. Sebisa mungkin Edric membuat Deandra selalu merasa bahagia dan segala keinginannya terpenuhi.


"Ngantuk," keluh wanita berusia sembilan belas tahun itu.


"Tidurlah," Edric membiarkan saja Deandra tertidur dalam pelukan sambil mengelus-elus punggungnya. Setelah wanita itu benar-benar tidur baru memindahkannya.


"Sehat-sehat Sayang, Dad tunggu kehadiranmu. Kerjasama sama Mom ya, jangan buat Mom capek." Bisik Edric lalu mengecup di perut Deandra berulang kali. Semoga dia selalu diberi kesabaran untuk menghadapi wanitanya yang sangat menguji kesabaran ini.

__ADS_1


__ADS_2