
"Anda butuh sesuatu Nona?" Tanya Ron setelah kembali ke kamar.
Gadis itu cepat menganggukkan kepala. "Aku bosan di kamar, mau ke taman belakang."
"Tunggu sebentar saya ambilkan kursi roda," ujar Ron menyanggupi keinginan gadis itu.
"Ron, aku ini hanya demam tidak lumpuh!" Seru Ellea tidak terima diperlakukan seperti orang penyakitan.
"Tetap saja anda sedang sakit Nona, tidak bisa berjalan sendiri. Kalau jatuh saya yang langsung dipecat Tuan Edric," sahut Ron dilebih-lebihkan. Mungkin dia tidak akan dipecat tapi ditenggelamkan ke sungai Nil.
"Ck, kau ini!!" Ellea bangun dari pembaringan tanpa mendengarkan penjelasan Ron. Karena kepalanya yang terasa berat dan melayang gadis itu terpaksa berbaring kembali.
"Sudah saya bilang anda tidak bisa berjalan sendiri!!" Ron berdecak, membantu Ellea untuk bangun. Kali ini jantungnya hampir berlompatan keluar karena berada sangat dekat dengan gadis yang sangat diinginkannya. Ia bahkan bisa merasakan hembusan napas gadis itu.
__ADS_1
Ellea tidak menjawab, hanya menurut saat Ron menuntunnya ke taman belakang dan mendudukkan di kursi. Rasanya tenaga yang ia miliki sudah habis untuk berdebat.
Gadis itu menyandarkan kepala ke sandaran kursi taman dengan pikiran yang menerawang jauh. Ia merindukan Jovie, tapi ia juga harus belajar untuk move on. Mengingat pria yang dicintainya itu memiliki hubungan spesial dengan mantan kekasih sang kakak. Kenyataan itu membuat hatinya terasa nyeri.
"Ron, bisa kau tinggalkan aku sendiri." Ujar Ellea, pria itu sedari tadi berdiri di belakang kursinya membuatnya merasa jengah. Ia jadi tidak bisa meluapkan segala perasaannya yang tertahan.
"Tidak bisa Nona, anggap saja saya tidak ada di sini." Sahut Ron dengan tegas, tidak ingin mengambil resiko adik tuannya itu kenapa-kenapa kalau ditinggalkan sendirian. Dan itu akan berimbas padanya.
"Saya disini tidak akan mengganggu anda Nona," jawab Ron tanpa bergerak dari posisinya berdiri.
"Suaramu yang menggangguku Ron!!" Sahut Ellea asal agar asisten kakaknya itu segera pergi. Ron tidak menjawab lagi, hanya memandang gadis yang sudah merebut hatinya itu dari belakang. Entah sejak kapan dia tertarik pada Ellea, karena dari dulu dia sudah mengenal gadis itu.
"Ron kau mendengar aku tidak?" Tanya Ellea kesal karena Ron tidak menanggapi ucapannya.
__ADS_1
“Mungkin dia sedang datang bulan jadi apapun yang aku lakukan selalu salah,” batin Ron. "Anda akan terganggu kalau saya menjawab Nona," ujar Ron saat gadis yang tengah sakit itu masih bisa menatapnya dengan tajam.
"Itu kau menjawab!" Sinis Ellea, Ron hanya bisa menarik napas tanpa suara. Menjaga anak gadis orang ternyata sangat merepotkan tidak seperti yang ia bayangkan.
...🌹🌹🌹 ...
"Elle kau dimana?" Sudah tiga hari Jovie menunggu gadis itu di kampus sejak keluar dari rumah sakit namun tidak pernah bertemu. Di telepon pun ponselnya tidak bisa tersambung.
Ia khawatir terjadi apa-apa dengan Ellea. Tatapan kesedihan gadis itu terus mengusiknya, membuat ketenangan Jovie terganggu. Gadis yang terlihat angkuh itu tidak pernah menampakkan kesedihannya pada orang lain. Tapi hari itu ia bisa melihat dengan jelas mata hazel itu nampak sendu.
Ia sudah berusaha mencari ke mansion Hansel namun tidak bisa masuk. Karena hanya anggota keluarga yang bisa masuk ke mansion yang dijaga ketat itu.
"Fredi, awasi mansion Hansel. Aku ingin kau mencari tahu keadaan Elle," perintah Jovie dari pesawat telepon. Ia terpaksa kembali ke kantor setelah pencariannya gagal kembali.
__ADS_1