
"Jovie Alexander!!" Murka Edric menarik Jovie sampai menjauh dari Ellea. Ia tidak menghajar pria itu karena ada Deandra disana.
Jovie berdecak dengan senyuman sinis, "kau baru mencarinya setelah aku membawanya. Selama ini kau kemana saja!"
"Kapanpun aku mencarinya itu urusanku!" Balas Edric sinis mendekati Ellea lalu memeluknya dengan sayang. "Aku tidak suka melihat air matamu," ujarnya menghapus bekas air mata di pipi sang adik.
Ellea tidak menyahut, membenamkan wajahnya dalam pelukan Edric. Sungguh hatinya sangatlah lelah. Jika Tuhan ijinkan ingin rasanya istirahat sebentar saja dari semua hal yang membuatnya letih ini.
"Kita pulang Sayang," ajak Edric. Sudah cukup memberikan adiknya itu hukuman.
"Elle akan tetap disini bersamaku!!" Sela Jovie cepat, tidak ingin kehilangan gadis itu lagi. Entah kenapa hatinya jadi tidak rela jauh-jauh dari Ellea.
"Siapa kau berani mengatur hidup Elle!" Edric tersenyum sinis merapikan pakaian Ellea yang berantakan.
"Aku akan menikahinya," jawab Jovie enteng tanpa berpikir panjang.
__ADS_1
"Jangan mimpi kau bisa memilikinya!" Cetus Edric membawa Ellea beranjak dari tempat tidur. Sampai kapanpun dia tidak akan membiarkan penghianat brengsek itu memiliki Ellea.
"Edric," tegur Deandra pelan. Bukan karena membela Jovie, tapi ia kasihan pada Ellea yang jadi serba salah. Tahu adik iparnya itu sangat mencintai Jovie.
"Lihat saja, jangan panggil namaku kalau aku tidak bisa memilikinya!!" Pria itu melengkungkan satu sudut bibir ke atas, sangat yakin bisa merebut hati Ellea karena gadis itu masih mencintainya.
Ellea menahan debaran dalam dadanya mendengar ucapan pria itu. Seolah dia ini sangat berarti. Tidak mengerti kenapa Jovie jadi sangat gencar ingin memilikinya padahal jelas-jelas tidak memiliki perasaan padanya.
Sejak dari apartemen Jovie Ellea tidak bersuara apapun. Sampai di apartemen Edric gadis itu langsung masuk ke kamarnya tanpa mengucapkan apa-apa.
Deandra yang tahu Ellea sedang tidak baik-baik saja mengikutinya ke kamar.
"Tolong beritahu aku caranya menghilangkan perasaan ini," Ellea menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Aku tidak tahu caranya," jujur Deandra. "Semua memang tidak mudah, kecuali kau menemukan penggantinya yang mampu mengobati lukamu ini." Seperti dirinya yang bisa melupakan Om Azmi karena kehadiran Edric. Walau pernikahan mereka tidaklah berjalan mulus.
__ADS_1
"Jadi aku harus menikah dengan Ron!" Ellea tersenyum miris mendongakkan kepala menahan air matanya agar tidak kembali merembes.
"Terima Jovie," celetuk Deandra asal.
"Kau gila, dia itu bekas cacing kremi. Kau suruh aku menikah dengan bekasan cacing itu?" Ellea bergidik jijik.
"Tapi kau cinta bukan?"
"De, kau jangan buat kepalaku ini pecah. Aku memang cinta, tapi tidak sebodoh itu menyerahkan diri agar kembali jatuh ke dalam lubang yang sama. Realistis saja, aku ini cantik. Masih banyak yang mau denganku walau bukan Jovie," seru Ellea ngegas.
"Kalau dia bisa membuatmu bahagia, kau masih tidak mau menerimanya?"
"Please Deandra Adley berhenti omong kosong, keluar dari kamarku!" Teriak Ellea, bukannya memberi solusi kakak iparnya itu malah membuat kepalanya semakin ingin meledak.
"Ellea, aku tidak suka kau berteriak pada istriku!" Tegur Edric yang sedari tadi berdiri di tengah pintu mendengarkan pembicaraan keduanya tanpa dua orang itu sadari.
__ADS_1
Ellea menghela napas lelah, membaringkan tubuhnya lalu bekelumbun dengan selimut. Selalu saja dia yang salah, padahal Deandra yang memulai. Ia rindu Dad Harry, rindu Mom Linn.
"Rasanya aku ingin kembali menjadi gadis kecil kalian yang tidak perlu susah payah memikirkan masalah percintaan." Lirih Ellea menangis tanpa suara. Sia-sia saja dia melarikan diri kalau akhirnya tetap kembali ke tempat ini dan makan hati lagi.