Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 169


__ADS_3

"Edric, katanya kau sibuk kenapa sudah pulang. Ini belum jam pulang kantor," celoteh Deandra yang berbaring dengan nyaman di pangkuan Buba Ressa.


"Kangen kalian," Edric tersenyum manis mengecup perut Deandra. Setelah dari restoran ia kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya dan langsung pulang karena sangat merindukan istrinya ini.


"Bangun Sayang, Buba capek loh mangku kalian." Ujarnya mengulurkan tangan, membantu Deandra bangun dari pangkuan sang mertua.


"Enggak kok, Buba gak capekkan?" Wanita ayu yang sedang hamil itu mengedipkan mata pada sang ibu.


"Capek banget. Kan sekarang sudah ada yang manjain ayo bangun," godanya pada sang putri. Mendorong pelan tubuh Deandra yang malas-malasan bangun agar duduk dengan benar.


"Ish Buba gak asik, aku cuma numpang tidur belum juga satu jam." Ujar Deandra cemberut yang mengundang kekehan.


"Mau tidur-tiduran disini apa mau Buba masakin?" Perempuan setengah baya itu memberikan pilihan sambil menepuk-nepuk pangkuannya.


"Mau dimasakin lah, dedek sudah lapar ini." Sebut Deandra cepat sambil menunjuk perutnya yang membuncit.


"Oke, tapi makannya gak boleh dimuntahin seperti tadi siang." Pesan Ressa yang mendapat anggukan dari sang putri. Yang penting mengangguk, kalau muntah urusan belakangan pikir Deandra.


"Peluk," Deandra merentangkan tangan pada Edric setelah ditinggal Buba Ressa ke belakang.


"Kangen ya jadi peluk-peluk," goda Edric menusuk-nusuk pipi Deandra dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


"Enggak, dedek nih yang mau dipeluk. Dingin katanya," kilah Deandra mendusel-dusel leher sang suami.


"Sayang, kita ke kamar kalau mau manja-manja. Gak enak disini dilihat Buba," ajak Edric pada ibu hamilnya yang semakin agresif.


"Malas jalan Ayang," tolak Deandra sengaja dimanja-manjakan.


"Panggil apa tadi, coba ulang?" Usil Edric mendekatkan telinganya ke bibir sang istri.


"Ayang!" Ketus Deandra menggigit telinga Edric kesal, kebiasaan merusak suasana hatinya.


"Kok digigit, disayang dong hm." Gemas Edric menciumi pipi Deandra sampai basah.


"Biarin, kan sudah bau acem jadi biar menyatu baunya." Edric menangkup pipi Deandra lalu mengecup seluruh wajahnya sampai puas.


"Hemm, ada anak kecil!" Tegur Tian yang tidak sengaja lewat ruang tengah. Dengan gerakan cepat menutup mata putranya menggunakan telapak tangan saat melihat anak dan menantunya sedang bercumbu.


"Daddy," Deandra menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena malu.


"Kan sudah dibilangin kita masuk ke kamar," Edric menarik tangan Deandra yang menutupi wajah sambil tertawa. Pipi istrinya itu memerah seperti tomat matang.


"Salah kau Edric, kenapa cuma ngajak. Gak langsung digendong biar romantis!" Omel Deandra yang membuat Edric membelalakkan mata.

__ADS_1


"Lalu mulut ini kenapa gak bilang kalau mau digendong," gemas Edric menjepit pelan hidung Deandra.


"Sudah-sudah, lanjut di kamar sana!" Tian menengahi, orang lagi kasmaran tidak bisa dipisahkan juga.


"Daddy sudah belum, aku gak bisa napas ini!!" Protes Raindra yang matanya masih tertutup. Ia tidak bisa mengintip karena telapak tangan Dad Tian sangatlah lebar.


"Hei, yang Daddy tutup itu mata bukan hidung!" Deandra ikut protes, biar adiknya itu pintar membedakan mana mata dan mana hidung.


"Suka-suka aku, huh!" Dengus bocah kecil berusia tujuh tahun itu saat matanya sudah bisa melihat dunia dengan bebas.


"Heh sini kau. Mauku pites-pites, berani melawan orang tua!" Deandra melotot tajam pada sang adik.


"Pantesan cerewet, sudah tua!!" Cebik Raindra diikuti gerakan bibir mengejek membuat wanita muda yang sedang hamil itu bertanduk.


"Sweetheart sudah," tegur Edric sambil mengulum senyum. Ternyata tidak hanya Ellea yang suka diajak Deandra bertengkar.


"Awas kau HUJAN PETIR!!" Pekik Deandra tidak mempedulikan ucapan Edric.


"Rain, ngomongnya yang lembut tidak boleh kasar." Tegur sang daddy mensejajarkan tubuhnya dengan Raindra, "minta maaf sama kakak Sayang. Dan kakak juga minta maaf sama adek."


"Ogah!" Sahut keduanya bersamaan yang membuat Dad Tian menghela napas panjang. Sedang Edric susah payah menahan tawanya.

__ADS_1


__ADS_2