
"Ekhem," Deandra yang sedari tadi mengamati interaksi kakak dan adik itu berdehem keras. Untuk menandakan kalau dirinya ada disana.
"Eh ada Mommy dedek, sini Sayang." Panggil Edric yang masih memeluk Ellea, wanita hamil itu mendekat dan mendudukkan diri di samping kiri sang suami.
Edric merangkul Deandra dengan tangannya yang lain. Agar ibu hamilnya itu tidak cemburu pada sang adik.
"Daddy bau acem," ujar Deandra dengan hidung dikerucutkan.
"Uh mentang-mentang sudah wangi," Edric mengecup pipi Deandra lalu beralih ke perut sang istri. Tangannya mengusap kepala Ellea dan Deandra bersamaan.
"Iya dong, yang bau itu Aunty Elle." Ledek Deandra yang berhasil membuat Ellea cemberut.
"Sayang," tegur Edric dengan menggelengkan kepala. Deandra mungkin bercanda tapi mimik wajahnya terlalu kaku, jadilah terlihat mengejek. Ya walau sebenarnya memang mengejek.
Deritanya memiliki istri yang seumuran dengan sang adik. Jadi jangan salahkan mereka kalau keduanya sering tidak akur. Ipar yang sama-sama dewasa saja kadang tidak akur. Apalagi mereka yang masih labil ini.
"Apa, hm." Deandra pura-pura tidak mengerti, mencubit-cubit gemas pipi Ellea.
"Kotor De, tangan kau itu belum dicuci. Tidak steril!" Pekik Ellea menepis tangan Deandra dari pipinya.
Edric sampai meringis karena suara sang adik yang membuat telinganya berdengung.
"Oh iya, aku tadi habis ngupil." Ujar Deandra mempraktekkannya di depan Ellea lalu mencubit pipi sang ipar kembali.
__ADS_1
"Hentikan tangan kau atau aku patahkan," Ellea menangkap tangan Deandra. Jangan sampai tangan yang menjijikkan itu menyentuh kulitnya. Bisa-bisa dia jerawatan.
Edric yang berada diantara keduanya menghela napas panjang. Mendekatkan kepala Ellea dan Deandra, sampai membuat kening mereka menyentuh satu sama lain.
"Kalian bisa tidak, sehari saja jangan buat kepalaku ini pusing!!" Desis Edric.
"Tidak bisa!!" Jawab Deandra dan Ellea serentak.
Lagi-lagi Edric hanya bisa mendesah. Kalau bukan istri dan adiknya mungkin sudah dia benturkan ke tembok kepala mereka ini.
"Terserah kalian saja, sekarang bertengkarlah puas-puas. Aku akan jadi wasit disini," pria itu melepaskan tangan dari keduanya lalu bersedekap dada.
"Tapi tidak boleh main fisik!!" Peringat Edric menatap tajam kedua wanita yang sama-sama tidak merasa bersalah sudah membuatnya pusing.
"Ayang marah," sungguh seperti tidak memiliki dosa Deandra menoel-noel pipi Edric agar tersenyum.
"Ngupil," jawab Deandra dengan cengiran lebar menampilkan deretan gigi putihnya.
Sedang Ellea menusuk-nusuk pinggang Edric dengan jari telunjuk. "Jangan marah-marah, nanti cepat punya cucu."
"Kenapa berhenti bertengkar!" Seru Edric dengan tatapan garang menyingkirkan tangan Deandra dari pipinya begitu juga dengan tangan Ellea. Sebenarnya Edric ingin sekali tertawa tapi ditahannya.
"Ayang beneran marah?" Tanya Deandra ulang dengan bibir mengerucut.
__ADS_1
"Siapa yang tidak marah kalau melihat kalian selalu bertengkar dan bikin pusing. Dan ini tangan nakal," ucap Edric seraya mencubit pelan tangan dua wanita yang mengira dia serius marah.
"Edric sakit!" Rengek Ellea dengan wajah di melas-melaskan.
Mendengar panggilan itu sontak membuat Edric menatap tajam sang adik. "Sudah lupa tadi harus manggil apa, hm?" Tanya Edric dengan nada datar.
"Kak Edric," ulang Ellea ingin melabuhkan kepalanya ke pelukan Edric tapi segera ditahan pria itu.
"Tidak ada peluk-peluk!" Edric berseru, melipat tangannya di depan dada kembali. Melihat wajah Deandra dan Ellea membuatnya ingin mengunyel-unyel gemas pipi kedua wanita tersayangnya ini.
Deandra menatap Ellea lalu mengedipkan mata. Kemudian keduanya serentak berhitung.
"Satu... dua... tiga...!!"
Edric mengernyitkan kening, tidak mengerti apa yang sedang dilakukan Deandra dan Ellea.
Dalam hitungan ketiga dua wanita itu berbarengan mengecup pipi Edric sampai membuat si empunya kesusahan menghirup udara bebas.
"Kalian ya," gemas Edric akhirnya tertawa gelak. Membawa keduanya dalam pelukan sambil mengecup di puncak kepala secara bergantian. "Tuh kan kalau akur gini enak, kenapa harus bertengkar terus sih."
"Gak seru kalau gak bertengkar," jawab Deandra dengan senyuman cerah.
"Kalau suka usil, jangan marah diusili orang balik," ujar Edric menggigit bahu sang istrinya. Tahu kalau Deandra memang sangat suka memancing keributan.
__ADS_1
"Gak janji eh," ucap wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
Sejenak Edric bisa merasakan kedua wanita tersayangnya berdamai. Hanya sejenak, karena pada menit ketiga Deandra membuat ulah lagi yang membuat Ellea mencak-mencak.