
Hari demi hari berganti. Hampir tiga minggu setelah sadarnya Arini, perlahan kondisi gadis manis itu mulai menunjukkan tanda-tanda membaik. Serangkaian pengobatan dan terapi Arini jalani demi untuk bisa segera beraktivitas normal seperti sedia kala. Sang ayah juga selalu siap siaga mendampingi putri kesayangannya. Laki laki itu seolah menjelma menjadi ayah siaga yang selalu ada disamping Arini dua puluh empat jam nonstop.
Setelah menjalani serangkaian perawatan dan pemulihan di rumah sakit selama hampir satu bulan lamanya, hari ini dokter sudah mengizinkan gadis cantik sembilan belas tahun itu untuk pulang kembali kerumahnya. Di jemput menggunakan mobil milik Calvin oleh Ivan, Arini pun kini sudah sampai di rumah berlantai dua milik Calvin yang akan menjadi tempat tinggalnya itu.
Mobil berhenti dihalaman yang tak terlalu luas disana, tepat di depan teras rumah. Calvin dan Ivan turun dari mobil. Ivan segera menuju bagasi untuk mengambil barang barang bawaan Arini dari rumah sakit. Sedangkan Calvin kini nampak membuka pintu di samping Arini. Hendak meraih tubuh putrinya itu dan membopongnya masuk ke dalam rumah, namun sepertinya gadis itu menolak.
"kenapa?" tanya Calvin.
"Arin jalan sendiri aja, pak" ucap Arini.
"udah, biar bapak gendong..! biar kamu nggak capek..!" ucap Calvin kemudian meraih tubuh sang putri dan membopongnya. Arini mengalungkan kedua lengannya ke leher sang ayah.
"bapak, bapak..! papa, ayah, daddy, gitu loh..! bapak...!!" ucap Ivan sembari mengambil dua buah tongkat yang nantinya akan Arini gunakan untuk membantunya berjalan.
"nggak mau..! aku maunya bapak aja..!" ucap Arini sembari menyandarkan kepalanya di dada bidang Calvin. Baginya, memanggil seorang pria dengan sebutan 'bapak' adalah impian terbesar nya. Ia tak mau mengganti sebutan itu selagi sang ayah tidak keberatan dengannya.
Calvin hanya diam. Laki laki itu lantas membawa sang putri masuk ke dalam rumahnya, diikuti Ivan di belakang nya yang membawa tongkat serta barang barang Calvin dan Arini dari rumah sakit.
Arini terdiam.
Rumah itu berantakan lagi. Botol miras berserakan di mana mana. Baju baju, sendal, sepatu, puntung rokok, piring, gelas, bungkus makanan, kulit kacang, semua berserakan bak kapal pecah.
Arini hanya diam tanpa menegur. Ia kembali menyandarkan tubuhnya di dada bidang Calvin.
ceklek....
pintu sebuah kamar yang semula kosong di lantai bawah terbuka. Calvin membawa gadis itu masuk ke dalam sana. Itu adalah kamar baru Arini. Arini sendiri yang minta di tempatkan di kamar itu, bersebelahan dengan ruang televisi disana.
Bukan tanpa alasan, untuk saat ini Arini belum bisa berjalan normal. Ia masih membutuhkan bantuan tongkat. Oleh sebab itu Arini meminta untuk di tempatkan di kamar bawah saja. Agar tidak merepotkan jika ia ingin melakukan sesuatu.
__ADS_1
Calvin pun hanya bisa mengiyakan. Meskipun sebenarnya ia ingin Arini tetap berada di lantai atas saja. Agar lebih dekat dengan dirinya.
Laki laki itu mendudukkan sang putri di atas ranjang. Sebuah kamar yang tak terlalu luas dengan cat yang didominasi warna biru. Sebuah lemari besar berisi baju baju baru milik Arini, satu buah gitar, beberapa pernak pernik di dalam sebuah rak kecil setinggi dada orang dewasa, serta beberapa foto berbingkai nampak terpajang indah disana. Foto foto itu adalah foto foto baru hasil jepretan kamera ponsel Arini. Berisikan gambar Arini, ada juga sebagian gambar dirinya dengan sang putri. Sebagian Calvin cetak dan ia pajang di dinding kamar itu.
Arini tersenyum bahagia melihat tampilan kamar barunya.
"kamu suka kamarnya?" tanya Calvin.
Arini mengangguk.
"maaf ya, bapak nggak pernah desain kamar sebelum nya. Jadinya cuma kayak gini" imbuh pria itu lagi.
"ini bagus kok, pak. Ini udah lebih dari cukup.." ucap gadis itu lagi.
"oh, ya. Bapak masih punya satu foto lagi. Bapak mau kamu yang milih tempat, mau di pasang dimana foto ini" ucap Calvin.
"oh ya? mana?" tanya Arini.
Calvin tersenyum.
Calvin menuju rak kecil itu. Mengambil sebuah foto berbingkai disana lalu menyerahkan nya pada Arini.
Gadis itu nampak berbinar. Terlihat sangat bahagia dengan mata yang nampak mengembun karena haru.
Sebuah foto keluarga. Berisi ayah, ibu, serta seorang anak gadis remaja yang duduk di tengah tengahnya. Yang paling mengharukan adalah, wajah wajah di foto itu adalah wajah nya, wajah ayahnya, serta wajah mendiang ibunya.
Ya, Calvin memang sengaja mengedit sebuah foto keluarga. Mengubah wajah wajah dalam sebuah foto yang ia temukan di internet itu dengan wajah dirinya, Arini, dan Dewi. Calvin tahu, Arini sangat mengidam-idamkan keluarga yang utuh. Laki laki itu tidak bisa memberikan hal tersebut pada sang putri, maka ia berinisiatif untuk membuatkan foto editan itu untuk Arini.
"nak..." ucap pria itu. Arini dengan mata berair mendongak menatap sang ayah.
__ADS_1
"bapak minta maaf. Bapak belum bisa mewujudkan impian kamu untuk mempunyai keluarga yang utuh. Bapak cuma bisa kasih ini sama kamu. Tapi kalau foto ini nantinya cuma bikin kamu sedih, kamu buang aja nggak apa apa." ucap Calvin. Arini mengusap lelehan air matanya sembari menggelengkan kepalanya.
"enggak..! ini foto yang paling bagus yang pernah Arin punya. Arin nggak akan buang ini. Walaupun cuma editan, tapi Arin seneng, pak. Arin udah lama kehilangan foto ibuk." ucap Arini.
Calvin tersenyum. Ia menggerakkan tangannya mengusap lelehan air mata sang putri. Arini lantas bergerak, meletakkan foto editan berbingkai itu di atas nakas, menghadap ke arah ranjang.
"aku taruh sini aja, pak. Biar deket terus sama aku" ucap Arini dengan senyuman merekah.
Calvin menatap haru ke arah gadis itu.
"udah, sekarang kamu istirahat. Tidur siang, biar kondisi kamu cepet pulih.." ucap Calvin.
"oh ya, bapak juga akan daftarin kamu kuliah. Kalau kondisi kamu udah memungkinkan, kamu bisa secepatnya melanjutkan pendidikan kamu. Bapak nggak mau kamu berhenti di SMA. Kamu harus jadi anak yang pinter, biar ibu dan nenek kamu juga bangga sama kamu" ucap Calvin.
Arini lagi lagi mengembun. Hidupnya berubah penuh kebahagiaan dan kasih sayang setelah ia terbangun dari tidur panjangnya. Rasa sakit yang teramat sakit itu kini berbuah manis. Arini mendapatkan sosok ayah yang ia damba dambakan sejak lama. Air mata duka nya dibayar tuntas dengan kasih sayang dan perhatian bertubi tubi dari sang ayah.
Gadis itu sesenggukan. Ia terlalu bahagia. Ia sangat bahagia. Hal hal semacam inilah yang ia tunggu tunggu sejak dulu. Bersama orang tua, disayang orang tua. Di perlakukan selayaknya seorang anak yang memang sangat pantas untuk mendapatkan cinta kasih dari orang tua.
Arini meringsut. Ia memeluk erat sang ayah. Menangis sesenggukan disana seolah ingin menggambarkan betapa ia sangat bahagia dengan semua pemberian dari Calvin ini.
"makasih, pak. Arin sayang bapak." ucap gadis itu disela sela tangisannya.
...----------------...
Selamat sore,
up 17:36
Ini udah diusahakan banget bisa up nggak terlalu malam. Takutnya review nya lama lagi.
__ADS_1
Yuk, dukungan dulu 🥰🥰