
18:00
Di rumah mewah kediaman Diego Calvin Hernandez,
gadis cantik berkulit putih itu baru saja selesai mandi. Dengan daster sederhana berwarna putih pemberian anak tertua pak Yanto, gadis delapan belas tahun itu nampak berjalan menuju dapur.
Perutnya keroncongan minta di isi. Terakhir ia makan adalah siang tadi, saat jam makan siang di tempat kerjanya. Ia sengaja makan cukup banyak di sana guna mengisi tenaganya agar tahan lama. Tapi nyatanya percuma juga. Jam segini ia sudah lapar lagi. Sedangkan persediaan makanan di kulkas sudah tidak ada. Uangnya juga tinggal beberapa lembar. Membuatnya harus ekstra berhemat. Ia harus tetap punya pegangan agar bisa naik ojek untuk berangkat dan pulang kerja. Bisa repot ia kalau tak punya uang pegangan. Sedangkan sang daddy sama sekali tak peduli dengan dirinya. Bahkan sudah berhari hari Arini tinggal di rumah megah itu, Digo sama sekali belum pernah memberikan nya uang. Bukannya Digo yang menafkahi Arini selaku anak nya, ini malah Arini yang keluar uang terus untuk makan mereka berdua.
Arini membuka kulkas. Wanita itu nampak terdiam. Kulkas hampir kosong tak ada isinya. Hanya ada beberapa butir telur, beberapa botol selai yang hampir habis, dan lain lainnya. Jangankan daging, wortel sebiji pun tak ada. Hanya ada beberapa cabai merah di dalam plastik yang berada di sana.
Arini menghela nafas panjang.
"melarat amat bapak ku..!" ucap Arini sembari mengeluarkan beberapa biji cabai itu dan meletakkan nya di atas cobek. Mau makan telur pun ia merasa sayang. Lebih baik telur itu untuk makan daddy nya biar nggak ngomel mulu..!
"napa nggak dijual aja sih nih rumah buat beli cabe...!" gerutu Arini.
"Sib...nasib...! anak orang kaya tapi nggak kebagian kayanya...! melarat everywhere and anytime..!" ucap Arini lagi yang kini mulai mengulek cabai yang hanya beberapa biji itu.
Selesai, dengan sambal ala kadarnya buatan tangannya, ia pun mulai mengambil piring. Mengisinya dengan beberapa centong nasi hangat lalu membawanya serta cobek berisi sambal itu ke meja makan.
"rumah bagus, dapur keren, meja makan, kursi, harganya gila gilaan..! lah, aku anak yang punya rumah tidur di kamar pembantu, kerja kayak pembantu, makan pake sambel doang..? hahaha....! lucunya hidupmu, Rin..! harga kursi rumahmu ama ta* mu aja lebih mahalan kursi mu..! ckckck...! sib...nasib...!! anak bule kok makan sambel..!" ucap Arini seorang diri sambil sesekali mengulum senyum getir seolah ingin menghibur dirinya sendiri atas kekecewaan yang ia rasakan pada sang ayah yang seolah tak peduli akan dirinya.
Arini mengangkat satu kakinya naik ke kursi. Di raihnya rambut panjang itu, mengumpulkan nya jadi satu dan mencepol nya tinggi menggunakan jedai yang berada di saku dasternya.
Arini pun mulai mengucap basmalah, lalu bersiap untuk menyantap makanan ala kadarnya itu dengan menggunakan tangan. Namun tiba tiba......
.
.
.
"baby..."
suara itu berhasil membuat Arini mendongak. Dilihatnya disana seorang pria dewasa dengan tubuh tinggi tegap nampak mendekat. Menatapnya dengan sorot mata menyelidik.
Arini melongo. Itu Sam..! Sedang apa laki laki itu ke rumahnya jam segini..?
Sam menggerakkan lidahnya menyapu bagian dalam mulutnya. Matanya menatap nakal ke arah Arini. Fokusnya tertuju pada paha ramping yang terlihat putih mulus tak tertutup daster murahan itu lantaran kain tipis itu tersingkap turun. Arini yang menyadari hal itupun dengan segera menurunkan kakinya. Ia pun memperbaiki posisi duduknya.
"o...om, ngapain kesini? daddy belum pulang" ucap Arini.
Sam tersenyum.
__ADS_1
"aku nggak nyari daddy mu. Aku kesini mau ketemu kamu, baby" ucap Sam.
"saya Arini, om. Bukan Baby" ucap Arini polos.
Sam berdecih lalu terkekeh.
"kamu lucu banget sih. Kamu lagi ngapain?" tanya Sam makin mendekat. Pria itu lantas menatap ke arah piring dan cobek yang berada di hadapan Arini.
"astaga, kamu ngapain, baby?!" tanya Sam kaget.
"makan.." ucap Arini polos.
"kamu makan apa?! ini makanan apa?!" tanya Sam tak habis pikir. Arini hanya diam tak menjawab.
"nggak... nggak....nggak...! kamu nggak boleh makan ini..! ini nggak sehat...! masa iya kamu makan makanan kayak gini..!" ucap Sam sembari menggeser piring dan cobek itu menjauh dari Arini.
"ta, tapi, om..! itu makanan aku........." ucap Arini.
"itu bukan makanan, Arini..! yang bener aja kamu makan makanan kayak gitu..!" ucap Sam.
Arini diam. Laki laki itu lantas meraih lengan wanita tersebut.
"dah, kamu ikut aku...!" ucap Sam sambil menarik lengan gadis cantik itu.
"kita cari makan diluar..!" ucap Sam.
"nggak, nggak usah, om..." tolak Arini
"kenapa? kamu harus ikut ..!" ucap Sam.
"nggak usah, om. Beneran..! Arin makan itu aja udah cukup kok" ucap Arini sedikit takut pergi berdua dengan laki laki itu.
"cukup gimana?! itu nggak layak makan, baby..! udah lah, nggak usah takut. Kita cari makan..!" ucap Sam ngotot.
"tapi..........."
"nggak ada tapi tapian..! ayok...!" ucap Sam lantas kembali menarik lengan wanita itu. Arini hanya bisa pasrah. Dengan hanya mengenakan daster murahan itu ia pun mengikuti langkah Sam menuju mobil pribadinya. Entah mau di bawa kemana ia. Laki laki itu begitu memaksa untuk Arini ikut dengannya.
Mobil jeep dengan warna kombinasi merah dan hitam itupun lantas melaju pergi meninggalkan tempat tersebut.
Sepanjang perjalanan, Arini hanya diam. Ia sibuk menata daster murahnya yang tak terlalu panjang itu agar bisa menutupi bagian paha hingga lututnya. Sedangkan satu tangan kanannya nampak sibuk menata bagian depan dasternya, memastikan bagian dadanya tak terlihat. Mengingat kini ia tengah bersama seorang Samuel. Yang ia sendiri juga tak tahu sosok dengan watak dan sifat yang seperti apa pria itu. Namun jika di lihat dari tindak tanduk dan gerak geriknya, cukup bikin risih sih.
Sam melirik ke arah wanita cantik bertubuh ramping itu.
__ADS_1
"kamu kenapa?" tanya Sam sambil melirik ke arah Arini yang sepertinya tidak nyaman sejak tadi.
Arini hanya tersenyum kaku.
"nggak kok, om. Nggak apa apa" ucap Arini.
"kayaknya kamu kurang nyaman sama baju kamu" ucap pria itu lagi. Arini menoleh sejenak, lalu kembali menunduk.
Sam memperlambat laju mobilnya. Ia lantas membelokkan laju mobil itu menuju sebuah toko pakaian dan salon yang berada di tepi jalan raya tersebut.
"kita ngapain kesini, om?" tanya Arini.
"kita cari baju buat kamu. Aku nggak mau kita pergi makan tapi kamu nya nggak nyaman sama baju yang kamu pakai" ucap Sam sembari melepas sitbelt nya.
Arini hanya diam.
"yuk, turun" ucap Sam.
Arini pun hanya pasrah mengikuti langkah Sam. Keduanya pun berjalan memasuki toko pakaian yang tak terlalu ramai itu.
Arini nampak celingukan. Ia berjalan dengan canggung di belakang Sam yang nampak mengedarkan pandangannya menyapu ke segala arah.
Pria itu lantas menuju ke barisan pakaian pakaian wanita yang dipajang di sana. Sam mengambil beberapa potong baju yang dirasanya bagus dan cocok untuk Arini lalu menyerahkan nya pada gadis belia berparas manis itu.
"o...om, kok banyak banget..! satu aja..!" ucap Arini.
"baju baju punya kamu tuh nggak ada yang layak, baby. Kan aku bilang tadi pagi, kapan kapan kita pergi buat beli baju." ucap Sam sambil tersenyum.
"tapi ini kebanyakan, om..!" ucap Arini. Sam menoleh ke arah Arini lalu sedikit membungkuk kan tubuhnya.
"ssssstttt....! aku nggak mau dibantah, baby. Aku suka gadis penurut" ucap Sam pelan sambil tersenyum sembari menyentuh dagu Arini lembut dan mengangkat nya.
Gadis itu hanya diam. Sam tersenyum manis. Ia melepas kan dagu itu lalu mengacak acak lembut rambut anak kandung Diego itu. Laki laki itupun kembali melanjutkan aktifitas pilih pilihnya. Arini hanya bisa pasrah. Jujur saja ia sebenarnya merasa tak nyaman dengan laki laki itu. Mungkin Arini harus lebih berhati hati malam ini.
...----------------...
Selamat siang,
up 12:31
yuk, dukungan dulu 🥰😘😘
Semoga nggak bosen ya....yuk, ramaikan kolom komentar nya🥰
__ADS_1