
Hari berganti....
Saat jam menunjukkan pukul setengah tujuh pagi...
daaaaaaaggggggghhhhh.....
Salah satu pintu kamar pelayan terbuka dengan cukup kasar. Seorang gadis masih terlelap di atas ranjang sempit itu. Membuat pria yang subuh tadi baru pulang dari rumah kekasih hatinya itu nampak membuang nafas kasar dengan mimik wajah tak bersahabat.
"eeekkhhmmm..!!" Diego berdehem.
Arini masih nyenyak di bawah balutan selimut yang tak terlalu tebal itu.
"Alini...!!" ucap pria itu lagi.
Arini masih tak bergerak. Suara dengkuran bahkan terdengar dari mulut mungil wanita itu. Diego makin menunjukkan ekspresi ketidaksukaannya.
"Alini bangun...!!!" ucap Diego tegas dengan suara yang sedikit meninggi.
Masih tak mendapatkan jawaban.
lalu.....
.
.
.
daaaaaaaggggggghhhhh.....!!!
"bangun...!!!!!"
"astaghfirullah haladzim...!!"
Arini terjingkat. Melompat dan seketika duduk tertegun di atas ranjang manakala Diego dengan kesalnya berteriak lantang sembari meninju daun pintu kusen bercat coklat itu.
Arini kaget..! Dadanya bergerak naik turun dengan jantung yang berdebar lebih cepat. Dilihatnya disana laki laki yang mengaku sebagai ayah kandung Arini itu kini nampak menatapnya tajam dengan sorot mata menyeramkan.
"bapak..?!" ucap Arini kaget.
"apa seperti ini caramu hidup selama ini?!" tanya Diego tak suka.
Arini tak mengerti.
"maksudnya, pak?" tanya Arini polos.
"kau tau ini jam berapa?!" tanya Diego kesal.
"nggak tau, kan nggak ada jam.." jawab Arini begitu polos lantaran memang tak ada jam dinding di ruangan itu.
Diego menelan ludah kasar.
Jawaban yang terdengar sangat polos dan menyebalkan..! membuat Diego pun terlihat makin kesal.
"ini sudah siang, Alini..! dan kau masih enak enakan tidur..?!" tanya Diego.
"namaku Arini, pak. Bukan Alini" jawab Arini polos.
"terserah...! sekarang bangun..! mandi..! kau harus segera memasak karena aku lapar..!" ucap Diego.
"kan ada pembantu, pak"
"apa kau tidak bisa diam jika ayahmu sedang berbicara...?!!" tanya Diego terdengar keras membuat Arini menunduk seketika.
"maaf, pak.." cicit wanita itu. Ternyata bapaknya ini galak juga.
"tunggu apa lagi?! bangun...! mandi...!!" ucap Diego sedikit membentak membuat Arini pun ikut tersentak mendengar nya.
"i...iya...iya, pak.." jawab gadis itu.
Arini dengan setelan piyama panjang itupun dengan segera bangkit dari posisi duduknya. Meraih handuk miliknya yang ia gantungkan di pintu kamar mandi dan dengan segera masuk ke dalam ruangan itu untuk membersihkan diri.
Diego tersenyum smirk. Lalu bergegas pergi meninggalkan tempat itu menuju rumah utama yang berada tak jauh dari bangunan yang merupakan kamar khusus para pelayan itu.
......................
Lima belas menit berselang,
Diego nampak masih memasang raut wajah tak bersahabat nya.
Seorang gadis cantik nampak berjalan menuju meja makan itu sembari mengikat rambut panjangnya. Wanita yang baru saja selesai membersihkan diri itu terlihat lebih segar dengan sebuah senyuman tersungging di wajahnya.
"pagi, bapak..!" ucap Arini riang sembari tersenyum. Diego hanya menatapnya datar dan terkesan angkuh. Arini duduk di samping laki laki itu. Dilihatnya meja makan masih kosong. Para pelayan juga sama sekali tak terlihat, membuat Arini kini nampak celingukan di buatnya.
__ADS_1
"pak? bapak nggak sarapan?" tanya Arini.
"pelayan pelayan yang banyak kemarin pada kemana?" tanya wanita itu lagi.
"mereka semua ku pecat...!" ucap Diego santai.
"haahh?? dipecat?!!" tanya Arini kaget.
"kenapa?" tanya Diego sambil menatap sinis ke arah Arini.
Arini diam tak berani menjawab.
"ayahmu ini sedang mengalami kesulitan ekonomi sekarang. Perusahaan ku sedang ada masalah. Membuatku harus ekstra berhemat untuk saat ini." ucap Diego sambil tak lepas menatap wajah Arini yang nampak diam.
"itulah sebabnya kenapa beberapa bulan terakhir ini aku tidak pernah mengirimkan mu uang..! dan mulai hari ini, berhubung kau sudah ada di sini sekarang, maka aku memutuskan untuk memecat semua pelayan dirumah ini. Dan sebagai gantinya, kau bisa kan membantu ayahmu ini untuk menggantikan tugas para pelayan pelayan itu?" tanya Diego dibarengi sebuah senyuman manis namun terkesan meremehkan.
"hah? aku?!" tanya Arini kaget.
"ya...! kau...!"
"aku yakin, sebagai seorang anak kau pasti sangat ingin menunjukkan baktimu padaku kan, sayang? terlebih kau adalah keturunan seorang pembantu. Kau pasti sangat cekatan sama seperti ibumu...! iya kan?" tanya Diego.Arini tak menjawab.
"inilah waktunya. Bantu ayahmu ini untuk sedikit berhemat. Ya, setidaknya sebagai balas budi atas semua uang yang sudah ku kirimkan padamu dari kau bayi sampai se dewasa ini. Lakukan pekerjaan yang biasa dilakukan para pelayan di rumah ini. Maka kau akan sangat membantu ayahmu ini untuk bertahan hidup. Kau tidak mau kan, ayahmu ini jatuh miskin di hari tuanya?" tanya Diego lagi membuat Arini kini menggelengkan kepalanya.
Diego tersenyum smirk.
"anak pintar..! sekarang bangun, buatkan sarapan untuk ayahmu ini. Aku sangat lapar, jangan membuatku terlalu lama menunggu karena ayahmu ini tidak suka" ucap Diego tenang dan angkuh.
"tapi Arin nggak bisa masak, pak" ucap Arini.
"itu bukan urusanku..! aku hanya butuh makan agar aku kenyang. Terserah mau bagaimana cara mu untuk membuatkan sarapan untuk ayahmu ini" ucap Diego lagi membuat Arini kini menjadi bingung.
Arini menganggukkan kepalanya ragu ragu. Diego mengangkat tangannya seolah meminta Arini untuk segera menuju meja dapur. Gadis lugu itupun bangkit dari posisi duduknya lalu berjalan menuju meja dapur. Arini celingukan. Apa yang harus ia lakukan. Ia hanya lah anak gadis yang baru lulus SMA yang sama sekali tidak memiliki keahlian memasak.
Ingat kan, Arini bukanlah gadis feminim yang mengerti tentang rutinitas dapur. Ia hanyalah anak gadis tomboy yang selalu asyik dengan dunia bermusik dan bela dirinya.
Arini sama sekali tak mengerti tentang masalah perdapuran.
Arini menyentuh kompor berwarna hitam di hadapannya. Ini kompor apa...? Bagaimana cara menghidupkan nya? benda ini sangat jauh berbeda dengan kompor gas di rumahnya yang cukup di putar knop nya maka akan menyala apinya.
Arini menggaruk garuk kepala bagian belakangnya. Ini gimana cara nyalain nya??"
"Arini...!!! cepat...!!" ucap Diego membuat Arini sedikit terjingkat.
"iya, pak" jawab Arini.
"bismillahirrahmanirrahim..." ucap Arini pelan kemudian menyentuh tombol on/off yang berada di sana.
Kok nggak ada apinya? ini gimana? pikir Arini sambil menggaruk garuk kepalanya.
"atur suhunya, bodoh...!!" ucap laki laki itu. Arini menoleh ke arah sang ayah sejenak, lalu kembali fokus pada kompor. Di di sentuhnya tombol (+) disana guna menaikkan suhu kompor itu.
Iseng iseng ia menyentuh permukaan kompor dengan tiga garis lingkaran di atasnya itu.
"awww....!!" Arini terjingkat mundur karena kaget. Permukaan benda itu terasa panas. Oh, jadi begitu cara kerja kompor aneh ini. Pikir Arini.
Diego menahan tawanya melihat aksi kocak gadis itu. Arini dengan gerakan kaku meraih teflon dan spatula asal. Diletakkannya teflon itu di atas kompor tanpa api tersebut.
Arini celingukan lagi. Apa yang harus ia lakukan setelah ini. Ia terus memutar otaknya yang tak terlalu brilian itu, mencoba mengingat ingat langkah langkah apa yang biasanya neneknya lakukan saat memasakkan makanan untuknya.
Oh, iya..! dikasih minyak...!
Arini celingukan lagi. Mencari keberadaan minyak goreng yang tak nampak berada di situ. Sedangkan suhu teflon mulai meningkat lantaran suhu kompor yang terlalu besar. Arini panik. Diego mulai merasakan gelagat yang tak beres.
"Arini, kompormu..!" ucap Diego.
"bentar, pak...!" ucap Arini.
Gadis itu nampak berbinar. Ia menemukan botol kaca berisi minyak goreng itu. Dengan segera dituangkannya minyak ke dalam teflon. Tak terlalu banyak, karena kata neneknya harus hemat minyak goreng. Jaman sekarang minyak mahal...!
Arini nampak berbinar. Ia seolah merasa begitu hebat karena bisa menuangkan minyak pada teflon nya. Diego hanya diam menyaksikan
Arini lantas setengah berlari dengan riang menuju kulkas. Di ambilnya sebutir telur lalu dibawa menuju kompor. Dengan percaya diri, Arini memecah kulit telur itu tepat di atas teflon. Namun sepertinya gerakan Arini terlalu kasar, membuat cangkang telur itu pecah hancur dan jatuh ke atas teflon bersamaan dengan isinya. Arini menjerit sembari reflek mundur. Diego menunduk, mengusap dahinya menggunakan satu telapak tangannya. Bodoh sekali bocah itu.
"aduh, gimana ini...!!" ucap Arini panik. Wanita itu mencoba mengangkat cangkang telur itu dengan spatula, namun susah.
"Ya Allah iki pie...! giaaambreet...!" umpat Arini dalam bahasa daerah dengan suara pelan. Diego hanya diam memperhatikan dari jauh. Teflon mulai berasap. Telur sudah waktunya di angkat tapi Arini masih sibuk dengan si cangkang yang nyangkut di teflon.
Diego mengamati dari kejauhan kepanikan yang terjadi.
"Arini..! telur mu gosong..!" ucap Diego.
"iya, bentar...!" jawab Arini masih sibuk dengan cangkangnya.
__ADS_1
"itu gosong...!" ucap Diego lagi.
Merasa panik, Arini pun menggerakkan tangannya. Mencoba mengambil cangkang yang tersangkut itu dengan menggunakan tangan. Namun...
"aaaaaaaaaakkkkkhhhhhhhh.....!!"
praaaaanggg.....
"aaaaakkkkhhh....!!!"
Diego dengan cepat bangkit dan berlari ke arah Arini. Dilihatnya disana wanita itu nampak melompat lompat sambil memegangi pangkal telapak tangannya yang tak sengaja menyentuh bibir teflon yang panas. Teflon itu jatuh ke lantai beserta telur di atasnya. Membuat Arini pun memekik dibuatnya.
Diego mendekat dengan wajah marah. Di matikan nya kompor itu dengan cepat lalu diraihnya lengan gadis delapan belas tahun itu dengan kasar.
"kenapa kau bodoh sekali...?!!!" ucap Diego kesal sembari mencengkeram dan menarik lengan Arini. Di tatapnya wanita itu dengan tatapan penuh amarah saking jengkelnya dengan kebodohan Arini.
Arini nampak gugup sekaligus takut jikalau sang ayah yang baru ia temukan kemarin itu murka. Ditatapnya wajah lelaki itu dengan mimik muka penuh ketakutan. Pandangan keduanya saling beradu untuk beberapa saat. Diego tak bergerak dengan mata melotot.
"maaf, pak. Arin nggak bisa masak" cicit gadis itu.
Diego menelan ludah nya kasar. Mungkin wanita itu benar benar payah..!
Diego terfokus pada mata bulat yang terlihat begitu bening dan indah itu. Tanpa sadar ia membuang waktunya beberapa menit hanya untuk menikmati sorot mata indah wanita itu.
Diego melepaskan lengan itu kasar. Lalu merapikan kembali kemeja putihnya yang terlalu berantakan.
"tidak usah bikin sarapan. Aku makan diluar saja...!" ucap Diego angkuh. Arini menunduk. Sedikit menyesal karena ia gagal membuat ayahnya puas pagi ini.
"bersihkan semua kekacauan ini..!" ucap Diego sembari menggeser teflon di lantai itu dengan kakinya.
"iya, pak" jawab Arini lirih.
Diego mengayunkan kakinya menuju meja makan. Meraih ponsel dan segera pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar dan cepat.
Tiba tiba...
"bapak..! tunggu....!!!" ucap Arini saat Diego sudah berada di ujung pintu utama.
Gadis itu berlari menyusul laki laki yang katanya ayahnya itu.
"pak...!!!" teriak Arini membuat Diego yang kini sudah berdiri di samping pintu mobil bersama Sam itupun menoleh.
Arini mempercepat langkahnya mendekati Diego.
"apa lagi?" tanya Diego pada Arini yang ngos ngosan.
Arini mengusap kedua telapak tangannya pada kaos panjangnya. Lalu....
diraihnya punggung tangan kanan laki laki itu lalu diciumnya sebagai tanda bakti seorang anak pada ayahnya. Membuat Diego yang tak pernah diperlakukan seperti itu pun kembali tertegun tak bergerak. Begitu juga Sam yang nampak melotot melihat pemandangan itu.
"bapak hati hati ya..." ucap Arini ngos-ngosan.
Diego diam. Arini melepaskan punggung tangan itu lalu sedikit memundurkan tubuhnya. Seolah mempersilahkan Diego untuk masuk kedalam kendaraan roda empat tersebut.
Diego mengangkat satu sudut bibirnya. Didekatinya gadis polos itu. Berdiri di hadapannya lalu sedikit membungkuk membuat kedua wajah itu kini berada dalam posisi yang cukup dekini. Kedua netra itu kembali saling pandang.
"jangan panggil aku bapak..! aku bukan ketua RT mu..!" ucap Diego.
"terus, aku harus panggil apa?" tanya Arini polos.
"panggil aku daddy" ucap Diego dengan sebuah senyuman manis namun terlihat sedikit nakal.
Arini melongo.
"daddy" ucap Diego lagi.
"da...dad...daddy.." jawab Arini terbata bata. Diego mengangguk sambil tersenyum. Arini ikut tersenyum melihat lengkungan bibir sang ayah.
Diego menggerakkan tangannya lalu mengangkat satu jempolnya ke arah Arini.
Diego menegakkan posisi tubuhnya. Di acak acak nya lembut pucuk kepala itu
"jadi anak baik di rumah...!" ucap Diego.
"iya, pa...eh...daddy..." jawab Arini.
Diego mengangkat satu sudut bibirnya. Lalu masuk ke dalam mobilnya bersama Samuel selaku asisten, sahabat dan supirnya.
Mobil itupun melaju meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Arini yang nampak tersenyum simpul melepas kepergian sang ayah.
...----------------...
Selamat pagi,
__ADS_1
up 04:16
yuk, dukungan dulu 🥰🥰