
Malam semakin larut,
di atas sebuah ranjang empuk berukuran king size itu. Sepasang pria wanita nampak terbaring disana.
Dengan posisi tubuh dipeluk sang ayah, Arini yang sejak tadi rupanya hanya berpura pura tidur itu kini nampak membuka matanya. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, namun rupanya sejak tadi gadis itu belum benar benar terlelap.
Arini mendongak. Dilihatnya disana, Digo sudah nampak memejamkan matanya. Suara dengkuran halus sesekali terdengar dari bibir merahnya.
Arini meringsut perlahan. Menggerakkan telapak tangan itu ke kanan dan ke kiri tepat di depan wajah Diego untuk memastikan jika pria itu benar benar sudah terlelap.
Digo tak bereaksi. Itu artinya laki laki itu benar benar sudah tidur. Arini kembali meringsut perlahan. Dengan gerakan seringan mungkin ia menjauh dari tubuh sang ayah yang memeluknya sejak tadi.
Berhasil.. !
Arini terlepas dari Digo. Diraihnya guling disana dan menyandingkan nya dengan tubuh sang ayah seolah sebagai pengganti tubuhnya.
Gadis belia berkulit putih itu lantas turun dari ranjang dengan gerakan sepelan mungkin. Ia bersimpuh di depan nakas dengan tiga laci itu. Sesekali Arini menoleh ke arah Diego, memastikan laki laki itu masih aman terlelap dalam buaian mimpi mimpi indahnya.
Arini membuka laci paling atas. Masih ditempat yang sama, ia menemukan dua buah foto berbingkai. Foto Diego dengan seorang wanita. Arini nampak mengobrak-abrik isi laci dengan gerakan sepelan mungkin agar tak menimbulkan suara. Namun tidak ada hal lain yang ia temukan disana.
Arini menutup laci paling atas. Lalu membuka laci dibawahnya. Diobrak abrik lagi. Begitupun seterusnya, ia lakukan pada seluruh laci laci kecil di ruangan itu namun tidak membuahkan hasil.
Kurang lebih lima belas menit ia mengobrak abrik kamar itu. Namun nyatanya hasilnya nihil. Tak ada satupun benda yang menjadi petunjuk nya untuk menguak rahasia yang mungkin disembunyikan darinya.
Arini yang kini terduduk di lantai dingin itu nampak memejamkan matanya. Rasa rasanya ia tak akan bisa tidur nyenyak jika belum bisa menguap tentang semua teka teki ini.
Arini nampak mengedarkan pandangannya ke segala arah. Menyapu seluruh ruangan luas itu dari ujung ke ujung, atas hingga bawah.
Merasa tak mendapatkan jawaban apapun, gadis belia itu lantas bangkit. Berniat untuk kembali ke ranjangnya dan melanjutkan tidur malamnya.
Namun saat baru saja ia hendak naik ke ranjang, gadis itu menghentikan langkahnya. Dilihatnya di atas sofa, ada sebuah buku di sana. Sepertinya buku gambar.
Arini menatap sang ayah. Digo masih terlelap. Wanita itu lantas mengayunkan kakinya perlahan menuju sofa. Didudukkan nya tubuh itu disana, lalu meraih buku itu dan membukanya.
Arini terdiam.
Seperti buku agenda. Namun di dalamnya terdapat gambar gambar sketsa berbagai tokoh animasi yang sepertinya buatan tangan Diego.
Arini tersenyum. Ternyata ayahnya sangat pandai menggambar. Tangan itu terus bergerak. Hingga fokus matanya tertuju pada sebuah gambar seorang wanita cantik berambut panjang.
Sepertinya ini adalah wanita yang sama seperti wanita yang ia jumpai fotonya di dalam laci tadi. Sepertinya wanita ini memang benar benar berarti untuk seorang Diego Calvin Hernandez. Gambar nya ada di mana mana.
Arini membuka lagi lembar demi lembar buku itu. Gambar sketsa gadis yang sama memenuhi halaman demi halaman buku dengan banyak lembar itu. Namun, saat Arini sampai di halaman terakhir, gadis itu terdiam.
"*kau tetap menjadi yang terindah. Sekarang dan sampai kapanpun."
"harusnya bukan seperti ini yang terjadi. Kau lepas darinya, dan memulai lembaran baru denganku, adalah angan angan yang kau ucapkan beberapa hari yang lalu"
"bukankah kau adalah gadis yang tidak pernah ingkar? tapi kenapa sekarang kau tidak menepati janjimu?"
"kau meninggalkanku..!"
"tidak masalah jika kau pergi dengan senyuman. Tapi kini kau pergi tanpa alasan yang bisa ku terima dengan akal sehatku. Apa yang sebenarnya terjadi padamu*?"
__ADS_1
Bunyi sebuah tulisan di samping sebuah gambar seorang wanita cantik dengan sayap yang mengepak.
Arini menutup buku itu. Ia lantas merebahkan tubuhnya di sandaran sofa panjang abu abu itu. Bukan jawaban yang ia dapatkan dari kamar itu, namun justru sebuah teka teki lagi yang makin membuat Arini penasaran.
Dari semua bukti yang Arini kumpulkan, gadis itu mulai mencoba mengambil kesimpulan. Wanita dalam gambar ini adalah wanita yang Digo sukai. Tapi wanita itu tidak bisa Digo miliki. Sepertinya begitu.
Lalu kemana wanita itu sekarang?
Siapa nama wanita itu?
Apa ada hubungannya dengan foto yang di coret coret dan dirusak yang ia temukan di dalam gudang.
Arini terperanjat. Di bukanya lagi buku itu. Diamatinya tulisan tangan itu. Ia memejamkan matanya mengingat ingat bentuk tulisan dibelakang foto pria yang masih utuh yang ia temukan di gudang. Apakah sama dengan tulisan ini?
Apakah tulisan itu adalah tulisan tangan Diego?
Apa orang yang membenci laki laki dalam foto itu adalah Diego? dan laki laki dalam foto itu, apakah itu Calvin Alexander? laki laki yang mengirimkan uang untuk pak Yanto?
Apa jangan jangan laki laki itu yang mengambil wanita itu dari Diego, lalu Diego benci. Kemudian Diego dendam, kemudian dia mengatakan jika ia adalah ayah Arini padahal sebenarnya ayah Arini adalah Calvin Alexander? Tapi jika Diego bukan ayah Arini, kenapa Diego bisa ada di rumah ini? ini kan rumah ayah Arini...?!! dan kenapa Diego bisa mengenal Arini, tahu seluk beluk Arini dan tahu tentang semua kisah yang terjadi antara ibu Arini dan ayah kandung Arini??!
Kan aneh?!!!
Ah...! ini terlalu rumit..! otak lemot Arini pusing memikirkan nya...!
Arini memejamkan matanya.
Diam....
Diam...
Diam....
dan........
Ah...! ia ingat...!!
Usia ayah kandung Arini lebih muda dari Dewi. Sejak awal Arini bertemu dengan Diego, Arini merasa sangsi dengan usia Digo. Lantaran ia terlihat sangat muda. Jauh lebih muda dibandingkan yang Arini bayangkan.
Almarhumah neneknya pernah bilang, ibu Arini hamil saat usianya dua puluh lima tahun. Dan ayah Arini saat itu akan segera menikah. Itu artinya, jika Dewi masih hidup maka usianya kini sekitar empat puluh tiga tahun. Dan jika dulu ayah Arini sudah akan menikah, dan usianya di bawah Dewi, besar kemungkinan usianya antara dua puluh sampai dua puluh empat tahun. Tak mungkin kan ayahnya dulu menikah di usia belasan tehun?? Berarti mungkin usia ayahnya kini berkisar antara tiga puluh delapan sampai empat puluh dua tahun.
Arini jadi penasaran, berapa kira kira usia Diego sekarang. Laki laki itu kan tidak pernah memberitahukan pada Arini tentang usianya.
Arini celingukan. Ia butuh dompet Diego untuk mengambil KTP laki laki itu dan melihat tanggal lahirnya.
Arini mengedarkan pandangannya. Mana dompet Diego?! Dimana benda itu berada..?
Gadis itu berjalan menuju samping ranjang. Mendekati sebuah bakas yang berada tepat di samping ayahnya yang masih terlelap. Dibukanya satu persatu laci itu, namun tidak ada dompet disana.
Arini celingukan Dimana dompetnya?
Arini kembali mengobrak abrik ruangan itu. Tapi tidak juga jetemu. Ia lantas berjalan menuju ruang ganti, hendak mencari celana panjang Diego yang tadi digunakan pria itu. Mungkin dompetnya masih berada di saku celananya.
Arini pun berjalan dengan sedikit terburu buru menuju ruang ganti. Namun belum sempat ia sampai di sana, tiba tiba....
__ADS_1
"Arini..."
deeeeegggghhhh....
Suara itu berhasil membuat Arini terdiam dengan dada berdebar. Ia menoleh ke arah ranjang. Digo yang tidur dalam posisi miring membelakangi ruang ganti dan kamar mandi itu nampak bergerak celingukan mencari cari keberadaan putri nya .
Arini nampak merapikan rambutnya. Dengan segera ia mengurungkan niatnya menuju ruang ganti dan berjalan menuju ranjang sang daddy tampan.
"iya, dad.." ucap Arini sambil kembali naik ke atas ranjang.
Digo menyipitkan matanya yang setengah terbuka.
"kau dari mana?" tanyanya.
"em, pipis.." ucap Arini sambil tersenyum dan kembali masuk ke dalam selimut nya.
Digo tersenyum. Ia mengubah posisi tubuhnya yang semula miring kini terlentang. Arini meringsut. Ia meletakkan kepalanya di salah satu bongkahan dada bidang ayahnya. Dipeluknya erat tubuh itu seolah mencari kenyamanan dan mencoba mengabaikan sejenak segala prasangka yang kini menggelayuti nya.
Digo tersenyum. Dikecupnya lagi kening sang putri. Lalu...
degggghhhh....
jantung Digo mendadak berhenti berdetak untuk sepersekian detik. Sebelah tangan putih gadis itu menempel di atas salah satu bongkahan dadanya. Kulit tangan itu mengenai tombol coklat berukuran kecil disana. Tak berhenti sampai disitu, Arini kini justru menggerak gerakan telapak tangan itu. Membuat benda milik pria yang cukup sensitif jika dipegang itupun menegang di buatnya.
Diego memejamkan matanya. Tolonglah, ia ngantuk, tapi bocah dalam dekapannya ini malah seolah mengajaknya........ah sudahlah.
Digo meraih tangan itu. Ia kemudian meringsut, kembali memiringkan tubuhnya dan memeluk Arini seperti posisi semula.
Arini mendongak.
"daddy nggak pegel apa tidur miring terus?" tanya Arini.
Digo tersenyum.
"enggak. Kam biar kamu hangat. Katanya pengen dipeluk daddy?" ucap Digo.
Arini tersenyum manis. Digo terlihat bahagia melihat senyuman itu.
"Arin pegel, dad, miring ke situ terus.." ucap Arini kemudian mengubah posisi tubuhnya, tidur miring membelakangi sang ayah.
Digo tersenyum. Dipeluknya tubuh itu dari belakang. Ia kembali mengecup pucuk kepala gadis itu dengan lembut.
"dah, anak pinter bobok. Besok kerja" ucap Diego.
Arini mengangguk.
Keduanya pun kembali terlelap dalam satu ranjang. Menjelajahi alam mimpi mereka hingga pagi menjelang.
...----------------...
Selamat pagi,
salam dua rakaat...
__ADS_1
up 05:08
yuk, dukungan dulu 🥰