My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 180


__ADS_3

"BAAAAPPPPAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKK.......!!!!!"


Suara itu terdengar melengking. Menyakiti setiap telinga yang mendengar nya. Digo yang berdiri di belakang Arini nampak nyengir sembari menjauhkan kepalanya dari sang istri.


Wanita itu terlihat begitu kesal. Ia pikir ayahnya sudah berubah. Tapi ternyata ia salah. Saat hari ini tak berada di samping Calvin, laki-laki berjambang lebat itu kembali pada tabiat buruknya. Meminum minuman haram itu lagi dan lagi. Pasti semalam Calvin baru saja berpesta dengan teman temannya. Makanya laki laki itu sampai tepar bahkan saat jam sudah menunjukkan hampir pukul empat sore.


Calvin yang masih setengah sadar itu nampak mengangkat kepalanya yang terasa sedikit pusing itu. Matanya masih terasa berat, kesadaran belum sepenuhnya terkumpul dalam memori otaknya. Namun suara melengking itu berhasil membuat Calvin tersentak dari tidur panjangnya.


Laki-laki berambut gondrong itu nampak mengedarkan pandangan yang ke seluruh penjuru kamar. Pria itu kemudian menoleh ke arah pintu. di mana ada orang pria wanita yang nampak berdiri di sana menatap ke arahnya.


Calvin menyipitkan matanya.


"Arini?" ucap duda itu pada wanita cantik bergaun merah yang menetap kesal ke arahnya dengan bibir manyun dan kedua tangan mengepal itu.


"bapak...!!!!" teriak Arini sambil merengek.


Calvin yang masih pusing itu lantas bangkit dari tidurnya. Mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk di tepi ranjang sambil memegangi kepalanya yang berat.


Ia pasrah. Ia ketahuan..! putrinya itu pasti marah padanya. Digo yang melihat adegan itu hanya menatap ke arah Arini dan Calvin secara bergantian.


Arini tak bersuara. Ia masih terlalu kesal.


Wanita itu kemudian bergerak. Mengobrak abrik seisi kamar itu seolah mencari cari keberadaan minuman keras lain yang belum ditenggak ayahnya.


"Rin..." ucap Calvin ditengah pusing yang melanda. Namun Arini tak peduli. Ia terus mencari keberadaan botol botol miras itu.


"nggak ada, nak..! udah abis..! bapak cuma minum sebotol doang semalem. Itupun juga karena temen temen bapak yang datang kemari..." ucap Calvin lagi sambil memijit mijit pelipisnya.


Arini tak peduli. Ia terus bergerak dengan kasar mengobrak abrik kamar sang ayah.


"Rin...."


"bapak nggak bisa dipercaya...!! udah dibilangin berhenti minum..! katanya iya iya iya iya....!! tapi sama aja..!! Arin nggak ada, bapak malah balik lagi bikin pesta dirumah ini...!!" ucap Arini kesal dengan suara lantang dan mata mengembun.


"maaf...." ucap Calvin.

__ADS_1


"bodo amat...!!" ucap wanita itu kemudian keluar dari kamar itu tanpa memperdulikan suami dan ayahnya.


Wanita itu belum menyerah. Tak mendapati miras di kamar ayahnya, ia lantas bergerak ke ruang televisi di lantai dua rumah itu. Ia kembali mengobrak-abrik ruangan itu. Seolah tak akan puas jika belum menemukan apa yang ia cari.


"baby, pelan pelan dong. Jangan marah marah gitu.." ucap Digo yang hanya mengikuti langkah istrinya dari belakang.


Calvin keluar dari kamar nya. Ia yang masih dalam pengaruh alkohol pun hanya bisa menyandarkan tubuhnya di salah satu dinding di sana. Mengamati pergerakan sang putri yang terlihat begitu kesal mencari cari alkohol miliknya.


Arini sama sekali menggubris ayah dan suaminya. Di ruangan itu ia menemukan apapun. Wanita itu kemudian turun menuju lantai dasar. Menuju ruang tengah dan mengobrak-abrik tempat itu.


Dikolong meja kosong..! ia kemudian membuka lemari lemari kecil di bawah meja tv. Dan...


benar saja..!


Sepuluh botol miras bersegel nampak berada di dalam sebuah kardus berukuran tanggung disana.


Arini mengangkat dagunya saat berhasil menemukan barang bukti yang ia cari cari itu. Arini berbalik badan, menatap tajam kearah sang ayah yang kini nampak berdiri di ujung tangga rumah itu, seolah minta penjelasan.


"a..i..itu punya Ivan, nak. Dia titip, nanti malam mau di ambil" ucap Calvin.


Diego membuang muka. Mencoba tak menampakkan tawanya yang hampir pecah. Lucu sekali, seorang Calvin yang gagah dengan tampilan sangarnya bisa tunduk dan tak berkutik dihadapan wanita manis setengah oon seperti Arini.


Wanita itu masih memasang mode ganas. Tanpa banyak bicara, di angkatnya kardus berisi miras miras itu. Dibawa menuju ke belakang rumah tempat dimana sebuah kolam berisi ikan ikan mahal milik sang ayah berada.


Calvin yang masih setengah sempoyongan pun mengikuti langkah sang putri sambil terus memanggil manggil namanya. Diikuti Digo dibelakangnya yang nampak tak henti mengulum senyum lucu melihat adegan antara bapak dan anak itu.


"Rin..! Arini, jangan ,nak...! kamu udah pernah bunuh ikan satu akuarium loh, nak..!" ucap Calvin lagi.


Arini tak menggubris. Dibukanya tutup miras itu menggunakan pembuka tutup botol yang juga berada di dalam kardus temuannya itu.


"Arini, sayang. Bapak minta maaf. Bapak janji nggak akan minum lagi. Jangan dong, nak. Itu bapak baru beli loh ikan nya, nak.." ucap Calvin seolah ingin menjinakkan hati sang putri yang sudah terlanjur kesal.


"Rin, ja......adduuuuhhh....."


Satu botol bir masuk ke dalam kolam ikan. Calvin memejamkan matanya sembari mengusap wajahnya.

__ADS_1


"waduuuhhh...." ucap Digo melongo melihat ulah sang putri.


Satu botol, dua botol, sepuluh botol..! habis...! semua masuk ke dalam kolam ikan. Si ikan pun mulai menggelepar. Calvin menggaruk garuk kepala bagian belakangnya.


Mau marah, tapi anak kesayangan. Mana bisa? ia terlalu menyayangi tuan putrinya ini.


Arini berbalik badan menatap kesal ke arah sang ayah.


"Rin...mati, Rin, ikannya, Rin..." ucap Calvin memelas sembari menatap nanar ke arah ikan ikan mahalnya.


"innalilahi wa inna ilaihi Raji'un..!" ucap Digo yang berdiri di samping sang mertua.


"Arin kesel ama bapak..!! udah dibilangin jangan minum minum lagi susah bangeeettt...!! Arin nggak suka...!!!" rengek wanita itu sembari menghentak hentakkan kakinya ke tanah.


Calvin menghela nafas panjang. Ia tahu ia salah. Ia tahu Arini sangat tak suka melihat dirinya minum minuman haram itu. Tapi saat wanita cantik itu tak ada dirumah, godaan dari teman temannya begitu merajalela. Membuatnya tak kuasa untuk menolaknya.


"ya udah, bapak minta maaf..! sini peluk bapak dulu..." ucap Calvin lagi sembari mencoba meraih tangan sang putri dan memeluknya, namun Arini mengelak.


"nggak mau..! bapak tukang bohong...!" ucap Arini lagi.


"enggak, nggak bohong..! sini, peluk bapak dulu..!" ucap Calvin lagi.


Arini yang nampak mengembun itu kemudian menurut. Calvin memeluk wanita itu. Mendekapnya erat sembari berkali kali mengucap kata maaf.


Arini mengusap lelehan air matanya. Tak lama ia bertahan dalam pelukan sang ayah, wanita itu kemudian sedikit mendorong tubuh pria itu agar menjauh darinya.


"kenapa?" tanya Calvin.


"badan bapak bauk..!" ucap Arini lagi.


Calvin dan Digo terkekeh. Calvin berusaha memeluk putri nya itu lagi, namun Arini kembali mengelak.


...----------------...


Selamat siang

__ADS_1


up 11:45


yuk, dukungan dulu 🥰


__ADS_2