My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 123


__ADS_3

Hari berganti hari. Semua berjalan seperti biasanya.


Kehidupan gadis desa tak ber ibu itu kian hari kian bahagia saja semenjak hidup bersama ayah kandungnya.


Arini menemukan sosok terbaik yang pernah ia kenal. Cinta dan kebahagiaan seolah bertubi tubi datang padanya. Entah itu dari ayahnya, juga dari orang orang lain di sekeliling nya.


Seperti teman teman Calvin. Manusia manusia yang kebanyakan laki laki bertato dan bertindik, pemuja kebebasan itu kian hari seolah mulai menjelma menjadi pelindung lapis kesekian untuk gadis itu (karena garda terdepan tetap dipegang oleh Calvin, lalu Diego, Giselle, Sam, Fajar, dan lain lainnya).


Hal itupun membuat kebahagiaan Arini makin bertambah. Ia yang sejak kecil selalu di sia siakan kini perlahan menemukan penebus atas segala sakit dan luka yang dulu di terima nya. Dihujani kasih sayang dan perhatian dari semua pihak. Membuatnya kini seolah menjelma menjadi putri kecil kesayangan banyak orang.


Hari terus berganti, hubungannya dengan pria tampan itu juga kian hari kian akrab saja. Setelah mengajak Arini pergi berdua beberapa hari lalu, kini makin hari Diego makin gencar mendekati anak Calvin Alexander itu.


Diego sering kali mencuri curi waktu untuk bisa menghabiskan waktu berdua dengan gadis itu disela sela jadwal kuliah dan kerja Arini yang padat. Membuat hubungan itu kian hari kian dekat meskipun baru seminggu setelah Digo mengucap sumpah akan menaklukkan hati wanita itu dalam waktu dua minggu.


.


.


.


Siang ini, di sebuah cafe yang berada tak jauh dari kampus Arini.


Sepasang pria wanita yang tengah dekat itu kini nampak duduk berdua di sebuah bangku yang berada di dalam cafe itu. Menikmati makan siang mereka berdua yang lebih awal lantaran kini jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi.


Hal demikian memang sering Digo dan Arini lakukan. Makan siang lebih awal, lantaran Digo selalu mengajak gadis itu pergi berdua sepulang kuliah.


Digo mengulum senyum menyaksikan Gadis itu nampak asyik mengunyah makanan di hadapannya tanpa gengsi, khas seorang Arini yang memang selama ini ia kenal.


"enak?" tanya pria itu.


Arini menoleh lalu mengangguk tanpa menjawab.


Digo tersenyum lagi. Dimasukkannya sesendok makanan yang berada di hadapannya itu ke dalam mulutnya.


"aku senang kalau kamu suka makanan yang aku pesan" ucapnya pada sang gadis. Ya, makanan yang kini berada di atas meja semua adalah pesanan Diego. Laki-laki itu sengaja memesan makanan tanpa mengizinkan Arini untuk menyentuh buku menu dan memilih makanannya siang ini. Ia seolah ia ingin menunjukkan, walaupun sudah lama berpisah rumah, tapi ia masih ingat hal-hal apa saja yang Arini sukai dan yang tidak disukai.


Arini mendongak. Menatap sejenak pria yang kini nampak tersenyum manis ke arahnya itu.

__ADS_1


"aku masih ingat semua tentang kamu. Apa yang kamu suka, apa yang kamu nggak suka, kebiasaan baik dan kebiasaan buruk kamu, semuanya..! bahkan semua kata-kata yang pernah keluar dari mulut kamu selama kita tinggal bersama pun aku masih ingat" ucap pria itu sungguh sungguh.


Arini menunduk.


"Baby.." ucap pria itu sendiri menggerakkan tangannya menyentuh punggung tangan gadis cantik tersebut.


Jantung Arini berdegup cepat.


"aku ingin memperbaiki hubungan kita" ucap pria itu lagi.


Arini menghela nafas panjang.


"aku tahu, kesalahan yang aku buat sudah terlalu banyak sama kamu"


"seperti yang pernah aku bilang, di awal pertemuan kita, hanya ada rasa benci dalam hati aku. Kemudian perasaan itu berubah menjadi ketertarikan pada semua sikap dan perilaku kamu yang lucu"


"lamaaa... semua itu berjalan. Hingga pada akhirnya rasa tertarik itu berubah menjadi rasa ingin melindungi kamu. Hingga pada akhirnya, saat kamu pergi, saat semua kebohonganku terbongkar, aku baru sadar kalau ternyata aku suka sama kamu" ucap Digo.


Arini diam tak bergerak.


Arini masih setia dengan posisinya yang diam membisu. Ditatapnya wajah laki-laki tampan itu dengan lekat. Diego ikut diam. Menunggu jawaban dari gadis cantik yang berada di hadapannya.


"apa kamu lupa, aku anak Calvin..." ucap gadis itu kemudian.


Diego diam.


Katakanlah laki-laki itu tidak tahu malu. Ia sudah membohongi Arini, menjauhkannya dari ayah kandungnya. Lalu kemudian hari ini ia datang sebagai laki-laki yang mengaku mencintai wanita itu. Namun hingga saat ini, ia belum menunjukkan etiket baiknya menemui laki-laki gondrong di luar sana.


Laki laki yang sudah sangat ia rugikan. Ia fitnah tanpa sebab. Ia jauhkan dari putri kandungnya, dan saat ini laki-laki itu sudah bertemu dengan putrinya, Digo masih tak mau datang meminta maaf dan mengakui kesalahannya.


Apa namanya jika bukan tidak tahu malu?


ia mengatakan cinta pada putri kecil dari seorang laki-laki yang sudah ia anggap sebagai musuh.


Bukankah seharusnya tidak seperti ini yang Digo lakukan? bukankah seharusnya ia datang terlebih dahulu pada ayah kandung Arini baru kemudian ia akan menyatakan cintanya pada gadis itu?


Go, langkahmu salah..!

__ADS_1


"kamu lupa, aku adalah anak dari musuh kamu, anak dari laki-laki yang kamu tuduh sebagai pembunuh wanita yang kamu sayangi" ucap Arini tenang.


"yakin, mau sayang sama aku?" tanya gadis itu lagi.


Diego tak menjawab.


"jangan buru-buru bilang sayang sama aku" ucap gadis itu lagi.


"asal kamu tahu, di dunia ini, manusia pertama yang paling aku sayang adalah ayahku. Setelah itu baru yang lainnya"


Arini tersenyum tenang.


"terima kasih, atas semua perhatian kamu. Atas semua kebaikan kamu. Atas cara kamu minta maaf sama aku selama ini. Aku sudah melupakan semua kejahatan dan perlakuan kamu sama aku dulu. Aku sudah memaafkan kamu. Kalau kamu tanya bagaimana perasaanku sekarang, jujur... mungkin perasaan kita sama. Tapi maaf, aku nggak mau menggeser posisi ayah ku demi siapapun. Ayahku tetap jauh lebih penting di atas segalanya. Kalau kamu memang ingin memulai hubungan yang baru dengan aku sebagai sepasang laki-laki dan perempuan seperti yang kamu bilang tadi, aku menantang kamu..." ucap Arini tegas.


"datang ke rumahku dengan cara baik-baik. Temui ayahku, bicara baik-baik. Aku yakin dia akan menerima kamu dengan cara yang baik pula. Bicara berdua, selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin. Baru Setelah itu kita bicarakan tentang hubungan kita" ucap Arini.


"maaf, aku bukan menolak kamu. Tapi apa mungkin aku bisa menerima laki-laki yang jelas-jelas membenci ayah kandungku sendiri? sedangkan ayah kandungku adalah manusia yang sejak kecil selalu aku idam-idamkan keberadaannya" ucap Arini.


"masalah aku dengan dia nggak segampang yang kamu pikirkan..!" ucap Diego.


"aku udah tau semuanya..! bahkan mungkin sekarang aku jauh lebih tahu dari kamu" ucap Arini.


"aku nggak memaksa kamu. Tapi kalau memang kamu serius dengan ucapan yang kamu ucapkan tadi, maka aku dan bapak akan menunggu kamu di rumah" ucap Arini.


Diego mengubah mimik wajahnya. Ya, bisa dikatakan Calvin adalah dinding terkokoh yang menjadi hambatan bagi hubungannya dengan Arini. Laki-laki dewasa yang sudah terlanjur mencintai gadis belia itu memang sudah sadar akan hal tersebut. Ada beberapa pilihan untuk Diego. Mundur, atau meleburnya kekokohan dinding itu. Dengan cara menurunkan egonya, lalu datang pada pria itu dan meminta maaf.


Digo diam tak bergerak.


Apa yang harus ia lakukan??


...----------------...


Selamat malam,


up 18:42


yuk, dukungan dulu 🥰

__ADS_1


__ADS_2