
Sementara itu di loker karyawan,
Arini sudah berganti pakaian. Mengganti kemeja putihnya dengan seragam oren khas restoran itu. Wanita itu kini nampak berdiri di depan cermin, menata rambut panjangnya, mengikatnya ekor kuda sebelum memulai aktifitas kerja nya.
Glenca mendekat.
"Arini...." ucap wanita itu sambil menekuk kedua lengannya di depan dada.
Arini menoleh,
"iya, mbak..." jawab Arini.
"hari ini belum ada orderan delivery. Jadi kamu bantu bantu dulu menyajikan makanan ke meja pelanggan. Dan sebagai hukuman atas keterlambatan kamu hari ini, kamu harus lembur malam ini. Dan jadwal piket membersihkan resto ini sebelum pulang saya serahkan sama kamu. Inget, harus benar benar bersih..!" ucap Glenca masih dengan mode judesnya.
Arini mengangguk. Ia memang sadar atas kesalahannya pagi ini. Ia memang pantas menerima hukuman atas itu.
"iya, mbak" ucap gadis belia itu.
"ya udah, sekarang kerja, buruan..!" ucap Glenca.
Arini mengangguk lagi.
Gadis itupun lantas keluar dari tempat tersebut. Berjalan menuju dapur resto tempatnya bekerja, lalu mendekati seorang pelayan yang ditugaskan menata aneka masakan disana sebelum disajikan untuk para pelanggan tempat makan yang cukup terkenal itu.
"pak, ada yang bisa Arin antar?" tanya Arini.
"banyak..!" ucap seorang laki laki yang merupakan pelayan senior di tempat itu.
"meja nomor lima belas ya..." ucap si pelayan.
"iya, pak" jawab Arini.
"hati hati, jangan sampai tumpah. Nanti kamu kena omel lagi.."ucap si laki laki kurus yang sudah berusia tiga puluh delapan tahunan itu. Arini hanya tersenyum.
Gadis itu pun lantas meraih nampan berisi aneka makanan pesanan pelanggan tersebut. Dengan segera ia pun berjalan menuju meja nomor lima belas sesuai perintah si senior.
"permisi, kakak. Pesanan nya..." ucap Arini ramah sambil menyunggingkan sebuah senyuman manis. Raut wajah bersedih nya sudah tidak terlihat lagi. Senyuman manis merekah kembali ia sungging kan.
Arini meletakkan beberapa menu makanan pesanan pelanggan itu di atas meja. Tiga orang pemuda yang sepertinya masih anak kuliahan. Mungkin usianya sembilan belas sampai dua puluh tahunan.
"makasih, adek.." ucap salah seorang pemuda berkulit putih disana. Arini tersenyum.
"semangat kerjanya ya, manis. Jangan terlalu di ambil pusing omongan atasan" ucap salah seorang pemuda lagi menggoda. Arini kembali tersenyum simpul sambil meletakkan menu menu itu. Namanya juga pramusaji. Para pemuda itu mungkin hanya berniat bercanda. Tidak lebih. Jadi ya, sudah. Arini hanya menanggapi nya santai.
Gadis belia itu selesai dengan anek menu di nampannya.
"makasih, adek. Boleh minta nomor WA nya nggak?" tanya salah satu pemuda itu.
"entar kakak video call kalau mau bobok..." ucap salah seorang lagi.
__ADS_1
Arini lagi lagi hanya tersenyum tanpa menjawab.
"Masya Allah, aku mau wanita dihadapan ku ini, Ya Allah" ucap salah satunya lagi.
Gadis belia itu lagi lagi tak menjawab. Ia lantas berbalik badan setelah selesai dengan tugas nya. Berniat untuk kembali ke dapur untuk mengambil pesanan lain. Namun baru saja ia berbalik badan. Tiba tiba ...
Arini terdiam. Seorang lelaki matang yang duduk di bangku sebelah para pemuda itu nampak menatap tajam ke arahnya.
"daddy....??" gumam Arini.
Ya, itu adalah Diego Calvin Hernandez. Laki laki yang kini duduk seorang diri disana itu nampak menatap Arini dengan sorot mata garang. Sam dan satu klien nya sudah pergi. Namun laki laki itu seolah masih enggan untuk beranjak dari tempat tersebut. Laki laki itu sepertinya ingin memastikan kondisi Arini pasca keributan yang terjadi antara gadis itu, bosnya dan Calvin.
Ia pikir Arini masih bersedih. Tapi ternyata tidak. Arini sudah kembali menjadi Arini yang periang.
Arini terdiam sejenak. Ia bahkan baru menyadari jika ternyata Digo berada di tempat ini. Sejak datang is sudah terfokus pada Glenca dan Calvin. Ia sampai tak memperhatikan para pengunjung resto itu.
Arini celingukan. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu tersenyum ke arah sang ayah.
Arini lantas kembali melangkahkan kakinya . Ia tak mau lama lama berinteraksi dengan Diego. Ingat kan, Diego tak pernah mau mengakui dirinya sebagai anak?.
Arini pun mengayunkan kakinya. Namun tiba tiba....
"bawakan aku secangkir kopi..! aku mau kau yang mengantar" ucap pria itu membuat Arini menghentikan langkahnya. Gadis itu menoleh ke arah pria tersebut.
Digo nampak menatapnya datar tanpa ekspresi.
Arini diam. Dilihatnya di atas meja tempat Digo duduk sudah ada tiga cangkir kopi yang sudah kosong.
"kau bisu?" tanya Digo.
Arini tersenyum simpul, lalu mengangguk samar. Gadis itu lantas berlalu pergi meninggalkan tempat itu menuju meja barista untuk mengambilkan kopi pesanan ayah kandungnya tersebut.
Tak lama, Arini datang menghampiri Digo dengan secangkir kopi untuk sang ayah. Gadis itu lantas meletakkan satu cangkir itu ke atas meja. Digo hanya diam menatap wajah gadis itu tanpa bergerak.
"kau marah padaku?" tanya laki laki itu pelan.
Arini menghentikan pergerakan nya, lalu menoleh ke arah laki laki itu. Gadis itu lantas tersenyum.
"enggak, kenapa harus marah? emang daddy ngerasa bersalah?" tanya Arini pelan juga.
Diego diam.
"lain kali daddy melarang mu terlalu dekat dengan orang asing" ucap Digo.
"siapa?" tanya Arini.
"laki laki preman tadi (Calvin)..! para anak ingusan meja sebelah yang tadi menggoda mu..! apa kau pikir daddy buta tidak bisa melihat itu semua?" tanya Digo kesal.
Arini tersenyum.
__ADS_1
"mereka semua pelanggan, dad." ucap Arini.
"termasuk preman tadi?" tanya Digo lagi.
"dia bukan preman...! namanya om Ale. Dia baik kok. Daddy tenang aja. Aku tetap anakmu..." ucap Arini. Digo menatap malas ke arah putri perawan nya itu.
Arini menegakkan posisi tubuhnya.
"oh ya, dad. Hari ini Arin pulang malam. Arin dihukum lembur karena dateng telat. Nanti Arin pulang bareng Fajar. Jadi daddy nggak usah nungguin aku pulang.." ucap gadis delapan belas tahun itu.
"ciiih... siapa juga yang mau menunggu mu pulang..?!" tanya Digo sok angkuh.
Arini tersenyum.
"ya siapa tahu daddy kangen ama anak gadis daddy yang cantik ini" ucap gadis belia itu kemudian.
Arini kembali melongok ke arah meja.
"daddy yakin mau minum kopi lagi? katanya punya masalah lambung? nggak boleh banyak banyak loh minum kopi" ucap Arini yang memang sudah hafal dengan pantangan pantangan hidup Diego.
"cih, tau apa kau?! sudah, masuk sana...! nanti diomeli lagi sama bos mu..!" ucap Digo.
Arini menghela nafas panjang. Susah sekali daddy nya ini dibilangin...! pikir Arini. Gadis belia itupun lantas berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
Digo hanya diam mengamati pergerakan gadis yang semakin menjauh pergi itu. Pria itu lantas menyunggingkan senyum samar nyaris tak terlihat.
Mental Arini memang tak selemah itu.
Entah mengapa ia merasa sedikit lega saat melihat Arini sudah kembali menjadi Arini yang ceria seperti bisanya.
Padahal pagi tadi ia sengaja meninggalkan gadis itu dan tak memberinya tumpangan. Harapannya memang agar gadis itu terlambat, dimarahi, lalu sedih.
Tapi begitu melihat Arini benar benar dimarahi bos nya di depan umum, entah mengapa ada Digo merasa tak terima. Ia juga begitu khawatir, takut jika Arini terpuruk mentalnya. Membuatnya rela untuk tidak meninggalkan resto itu meskipun acara pertemuannya dengan salah satu rekan bisnis nya telah selesai. Ia masih tetap di sana untuk memastikan apakah Arini benar-benar baik-baik saja atau tidak.
Entah mengapa Digo menjadi se khawatir itu.
Meskipun rasa khawatir itu sempat berubah menjadi kesal mana kala ia melihat Calvin yang tiba tiba datang lalu membela Arini bak seorang pahlawan kesiangan.
Dia tidak suka kedekatan wanita itu dengan laki-laki musuhnya tersebut.
Digo juga tidak suka dengan para pemuda pemuda yang duduk di bangku sebelah. Yang dengan lancangnya menggoda gadis itu dengan kata kata yang terdengar menjijikkan di telinga Diego.
Ck, emang susah sih punya anak perawan cantik..! di cuekin bapaknya bentar aja di rumah, eh diluar udah banyak buaya, kadal dan biawak yang sok sokan memberi perhatian.
Nggak bisa di diemin ini mah...! Mungkin mulai sekarang Diego harus memberikan perhatian lebih untuk Arini, agar gadis itu tidak oleng ke laki laki lain. Terutama Calvin. Jangan sampai mereka menjadi semakin dekat. Karena itu akan sangat berbahaya untuk Diego si fake daddy 🤦
...----------------...
Selamat sore,
__ADS_1
up 16:06
yuk, dukungan dulu 🥰😘