My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 162


__ADS_3

Malam menjelang, di sebuah rumah ber cat kuning milik Bu Tri. Pemuda berkulit putih dengan postur tubuh tinggi itu nampak keluar dari kamarnya. Penampilannya cukup rapi, dengan kemeja berwarna biru serta celana cream yang membungkus kaki jenjangnya, Agus nampak keluar dari kamarnya. Bau parfum yang wangi khas seorang pria tercium jelas dari tubuhnya.


"Gus, mau kemana?" tanya Bu Tri yang berada di ruang televisi.


Laki-laki itu menghentikan langkahnya. Ia nampak diam, seolah tengah berpikir sejenak.


"eemm, mau..itu, buk. Mau nongkrong aja ama anak anak.." ucap Agus.


"kok nongkrong, sih? kan Ibu bilang datang ke rumahnya Arini..! labrak dia..! kok malah bisa-bisanya kamu mau pergi nongkrong!" ucap bu Tri kesal.


"apa sih, Buk?! Ya udahlah, gak usah diperpanjang..! nanti biar kapan kapan Agus ke sana. Tapi sekarang Agus sudah ada janji sama temen-temen. Nggak enak ditungguin" ucap laki-laki itu.


Bu Tri nampak melengos mendengar ucapan anak laki lakinya itu.


"kamu itu, selalu saja begitu...! lebih mentingin teman teman kamu dibanding ibu sendiri..!" ucap Bu Tri.


Agus tersenyum. Di dekatinya sang ibu yang nampak memasang mode kesal.


"udah, Agus mau pergi dulu. Mending sekarang ibuk ikut bapak, sholat. Udah adzan dari tadi juga, masih nonton tv aja.." ucap Agus mengingatkan si ibu.


"ya bentar, orang sinetronnya lagi seru serunya..!" ucap Bu Tri membela diri.


Agus hanya bisa menghela nafas panjang.


"ya udah, Agus berangkat dulu" ucap laki-laki itu kemudian meraih punggung tangan sang Ibu dan menciumnya.


"Assalamualaikum"


"waalaikumsalam" jawab Bu Tri.


Agus pun keluar dari rumahnya. Mendekati sebuah motor sport berwarna biru yang terparkir di halamannya.


Laki-laki itu nampak mengulum senyum. Ia berhasil mencari alasan untuk bisa keluar dari rumahnya malam ini. Apakah laki-laki itu benar benar ingin pergi nongkrong bersama teman-temannya? entahlah...!


...****************...


Sementara itu di tempat terpisah....


Di dalam sebuah ruang televisi rumah yang ditempati oleh keluarga Calvin Alexander itu. Diatas sebuah karpet beludru tebal disana, Arini nampak sibuk dengan ponsel di tangannya.


Meskipun di hadapannya ada televisi besar yang sedang menyala, menayangkan sebuah acara komedi di sana, namun rupanya Arini sama sekali tak menggubrisnya. ia justru sibuk dengan benda pipih di tangannya.


Buuuuuggghhhh....


Arini menoleh ke belakang. Diego tiba-tiba datang dari arah belakang. Menjatuhkan tubuhnya di belakang gadis yang tengah duduk bersila itu.


"daddy..." ucap Arini.


Diego tak menjawab. Ia menggerakkan tangannya. menarik celana piyama pendek berwarna biru yang Arini dikenakan. Laki laki itu kemudian menggerakkan kepalanya, memdusel di area pinggang bagian bawah, tepat di atas sebuah kain berwarna hitam yang membungkus dua bongkahan sintal milik sang istri.


Arini terkekeh karena geli. Hidung mancung dan bulu bulu jambang serta kumis Diego bergerak gerak mengenai kulit tubuh bagian belakang nya.

__ADS_1


"daddy, geli ih..!" ucap wanita itu menggeliat.


Diego terkekeh. Ia kemudian mengangkat kepalanya. Menepuk kedua belah paha Arini yang di tekuk, seolah meminta wanita itu untuk duduk selonjoran.


Arini pun menurut. Ia kemudian meluruskan kedua kakinya. Diego lantas merebahkan kepalanya di sana. Menggunakan paha bagian atas sang istri sebagai bantalnya.


"sssstt...." ucap sang Diego.


Arini menunduk menatap wajah pria tampan itu. Diego menggerakkan satu jari telunjuknya menyentuh bibir merah yang dikelilingi jambang dan kumis tipis itu, seolah memberi kode pada wanita itu untuk memberi kecupan singkat di sana.


Arini tersenyum. Ia meraih rambut panjangnya yang tergerai ke depan itu lalu menyibakkan nya ke belakang. Wanita cantik itu kemudian mengecup singkat bibir merah sang suami beberapa kali.


Diego kembali mengulum senyum. Ia kemudian mengubah posisi tubuhnya. Tidur miring sembari memeluk pinggang sang istri dan membenamkan wajahnya di perut Arini. Sesekali ia nampak menggerak gerakkan kepalanya, mendusel di salah satu organ istimewa yang berada di pangkal paha sang istri.


"dad..! jangan kayak gitu, geli...! nanti bapak lihat..!" ucap Arini.


"bodo amat..!" ucap Diego tak peduli.


Keduanya nampak terkekeh di atas karpet beludru di depan televisi itu.


Tiba tiba....


ceklek...


pintu kamar Calvin terbuka. Laki laki itu keluar dari kamarnya sambil mengenakan jaket kulit miliknya. Pria itu melirik sekilas ke arah sepasang suami istri yang berada di sana.


Arini sedikit mendorong kepala Diego agar menjauh dari pangkal pahanya.


"bapak..! bapak mau kemana?" tanya Arini.


"keluar kemana malem malem begini?" tanya Arini setengah teriak.


"cari bir...!!!" teriak Calvin sekenanya dari luar sana.


"astaghfirullah haladzim, bapak...!!" teriak Arini dengan suara meninggi namun tak digubris oleh laki laki gondrong itu. Calvin justru terdengar menyalakan mesin mobilnya.


Diego kembali meringsut. Membenamkan wajahnya di pangkal paha wanita yang duduk selonjoran itu sambil menggerak-gerakkan kepalanya.


Arini kembali terkekeh.


Diego kemudian mengubah posisi tubuhnya lagi. Kini ia nampak duduk bersila di samping sang istri.


"bobok, yuk" ucap Diego.


Arini tergelak.


"apasih, dad..! masih jam delapan...!" ucap Arini.


"nggak apa apa..! masuk kamar aja dulu, mumpung nggak ada orang. Kamu bebas kalau mau teriak teriak nanti, daddy nggak akan bekap mulut kamu" ucap laki laki itu mulai nakal.


Arini terkekeh lagi.

__ADS_1


"atau disini aja..?!" tanya Diego.


Wajah Arini makin merona merah. Laki laki itu kemudian meringsut. Mendekatkan lagi tubuhnya pada tubuh wanita cantik itu. Tangan itu tergerak, menyentuh dagu runcing sang istri. Ibu jarinya pun ia gerakkan mengusap usap lembut bibir merah muda kesayangannya itu.


"daddy..." ucap Arini.


"apa, sayang?" tanya Digo.


"ntar kalau ada orang yang tiba tiba dateng gimana?" tanya Arini.


"siapa yang mau datang ke sini? nggak ada..! udahlah, nurut aja sama daddy..." ucap Digo.


Arini mengulum senyum.


"terserah daddy aja..." ucap wanita itu manis.


"anak pinter.." jawab Digo kemudian.


Sepasang suami istri itu lantas saling mendekatkan wajah mereka. Membuat ujung hidung keduanya itu saling menempel. Jarak kedua bibir itu kini sangat dekat, sesekali nampak bergeseken.


Digo memiringkan kepalanya. Mulutnya setengah terbuka hendak melahap benda merah muda di hadapannya itu.


Hingga....


.


.


.


tok....tok.....tok....tok......


"assalamualaikum...!!!"


Suara itu menggema. Berhasil membuat sepasang suami istri yang hampir larut dalam suasana sepi malam itu pun kini terjingkat kaget dan reflek menjauh satu sama lain.


"bangs*t...!" umpat Diego kesal.


Arini yang gugup nampak merapikan penampilan nya yang sebenarnya tak berantakan.


Diego berdecak kesal. Sambil terus menggerutu, laki laki itu bangkit dari posisi duduknya dan berjalan menuju ruang tamu guna membukakan pintu untuk tamu tak tepat waktu itu.


ceklek....


pintu terbuka...


"malam, om...! Arini nya ada?" tanya seorang pemuda berkulit putih si sana.


...----------------...


Selamat pagi menjelang siang

__ADS_1


up 09:20


yuk, dukungan dulu 🥰


__ADS_2