
tok....tok.....tok.....
pintu kamar tamu diketuk dari luar.
Diego yang kini berada di dalam kamar bersama Arini pun menoleh ke arah sumber suara.
Laki laki itu lantas turun dari ranjang king size tersebut. Berjalan dengan tenang menuju pintu kamar itu dan membukanya
ceklek...
pintu terbuka.
Pak Asep, sang security nampak berdiri di depan pintu kamar itu bersama seorang pria paruh baya berkacamata, Dokter Irwan. Dokter pribadi keluarga Hernandez.
"tuan muda.." ucap sang dokter.
Digo tak menjawab. Ia mengangkat tangannya, seolah mempersilahkan laki laki itu untuk masuk ke dalam kamar tamunya.
Sang dokter pun masuk. Pak Asep pamit undur diri untuk kembali ke pos nya.
Diego pun menutup pintu kamar itu.
Sang dokter terdiam. Dilihatnya di sana seorang gadis belia nampak terbaring di atas ranjang. Badannya bergetar, menggigil hebat, kain kompres menempel di dahinya. Membuat sang dokter pun terdiam karena nya.
Siapa gadis ini? kenapa ada gadis muda cantik di dalam rumah sang putra mahkota keluarga Hernandez? padahal semua orang juga tahu, Diego belum menikah..!
Sang dokter masih sibuk dengan pemikirannya. Hingga....
"eeeehhhmm....!!"
Suara itu berhasil membuyarkan lamunan dokter paruh baya itu.
"aku memanggilmu kemari bukan untuk melamun, dokter Irwan" ucap Diego.
__ADS_1
Dokter Irwan nampak kikuk.
"ma, maaf, tuan.." ucap sang dokter.
Laki laki berkacamata itu lantas meletakkan tas berisi peralatan kesehatan yang dibawanya itu di sisi ranjang.
"ini siapa, tuan? cantik sekali. Calon istri tuan?" tanya dokter Irwan.
Digo menatap angkuh ke arah sang dokter.
"sejak kapan kau begitu ingin tahu tentang kehidupan pribadiku?" tanya Diego dingin. Membuat sang dokter pun kembali merasa canggung.
"ma, maaf, tuan" ucap dokter Irwan.
Sang dokter pun sudah tak berani bertanya tanya lagi. Digo sudah memasang mode garang nya. Pria paruh baya berkacamata itupun lantas segera mengeluarkan peralatan kedokteran nya. Ia mendekati Arini yang masih menggigil sambil mengigau dan mulai memeriksa nya.
Tak lama, setelah melakukan berbagai pemeriksaan ringan, Dokter Irwan lantas melepaskan stetoskop dari telinganya.
"bagaimana?" tanya Diego yang berdiri di samping ranjang dengan melipat kedua lengannya.
"em, gadis ini tidak apa apa, tuan. Dia hanya kelelahan, dehidrasi, dan seperti nya makannya terlalu sembarang dan kurang mengandung gizi, tuan. Saran saya, minta dia untuk lebih memperhatikan lagi pola makannya dan jangan terlalu lelah. Kasihan, dia sampai pucat begini. Padahal cantik..." ucap sang dokter sambil menatap iba pada wajah Arini.
Digo menatap tak suka ke arah dokter itu.
"aku hanya meminta mu memeriksanya, bukan menilai wajahnya..!" ucap Digo kesal.
Sak dokter menunduk. Salah lagiii...🤦
"ma, maafkan saya, tuan" ucap si dokter.
"sudah, sekarang berikan saja resep obatnya. Setelah itu kau boleh pergi..!" ucap Digo.
"baik, tuan.." ucap sang dokter.
__ADS_1
Pria paruh baya itupun lantas menuliskan resep obat yang harus Arini konsumsi. Sang dokter bergerak cepat dengan sedikit gugup lantaran kini Diego menatapnya dengan sorot mata penuh intimidasi.
Selesai
Sang dokter pun segera menyerahkan resep itu untuk Digo agar nanti pria itu dapat menebusnya ke apotik terdekat.
"ini resepnya, tuan" ucap dokter itu.
Diego pun menerimanya.
"hmm...! baiklah, kalau sudah kau boleh pergi" ucap Digo sambil mengamati kertas berisi tulisan daftar obat yang harus dibelinya itu. Ia berucap tanpa menatap wajah sang dokter.
"baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, tuan. Mari..." ucap sang dokter kemudian berlalu pergi.
Digo melangkah mendekati ranjang. Dimana sang gadis manis kini nampak tertidur setelah mendapatkan penanganan dari dokter. Meskipun sudah tak mengigau namun tidur nya masih terlihat gelisah dan tak tenang.
Digo tersenyum. Di sentuhnya wajah manis itu. Ditatapnya lembut wajah itu sembari menyunggingkan sebuah senyuman tipis. Entah mengapa ia merasa sedikit bersalah. Fisik Arini tumbang setelah dihajar serentetan pekerjaan yang melelahkan. Ditambah lagi segala makanan yang masuk ke tubuhnya adalah makanan ala kadarnya yang tak memiliki kandungan gizi dan vitamin cukup.
Ah, kenapa jadi seperti ini? harusnya kan ia senang..? bukankah niat awalnya memang ingin membuat anak Calvin itu menderita? kenapa ia malah jadi kasihan begini?
Digo menghela nafas panjang. Suhu tubuh gadis itu masih tinggi.
Pria tampan tiga puluh lima tahun itu lantas kembali merogoh sakunya. Mengeluarkan ponsel dari dalam sana, mencari nomor seorang mantan pembantu di rumahnya yang tinggal tak jauh dari kediaman nya tersebut lalu menulis kan pesan untuk nya.
"Bik Sumi, tolong untuk hari ini dan beberapa hari kedepan, bibik ke rumah saya, bersih bersih seperti biasa. Sama tolong nanti mampir sebentar ke apotik, belikan obat. Nanti daftar obatnya saya kirimkan" tulis laki laki itu.
Digo meletakkan ponselnya di atas nakas. Di raihnya kembali kain kompres yang bersarang di dahi Arini itu. Air kompres sudah dingin. Laki laki itu lantas bangkit. Membawa baskom kecil itu keluar kamar dan menuju dapur untuk menggantinya dengan air yang baru.
...----------------...
Selamat siang menjelang sore..
up 14:18
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰🥰🥰