My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 181


__ADS_3

Hari berganti, semua berjalan seperti biasanya.


Setelah kemarin pulang dari kampung halaman, kembali ke kota besar. Kini sepasang suami istri itu kembali memulai aktifitas normal mereka.


Digo mulai masuk kantor, sedangkan Arini pun kini juga mulai masuk kuliah.


Pagi ini,


Setelah kemarin saat Arini pulang, rumah itu terlihat bak kapal pecah, maka pagi ini, bangunan dua lantai itu sudah terlihat jauh lebih rapi.


ART yang seminggu ini tidak dipekerjakan oleh Calvin, kini kembali di panggil lagi. Ia kembali bekerja di rumah itu dari pagi hingga sore dan pulang saat hari mulai gelap.


Ya, selama seminggu ini Calvin memang tidak mempekerjakan pembantu lagi. Pria itu lebih memilih untuk tinggal di rumah itu sendiri. Makanya saat Arini datang semua terlihat berantakan. Karena memang tidak ada yang bersih bersih. Toh, Calvin juga jarang ada di rumah. Ia lebih sering menghabiskan waktu di studio tato nya bersama teman teman dan anak buahnya.


...



Pagi ini,


di meja makan rumah Calvin Alexander. Wanita cantik yang nampak sudah rapi itu terlihat sibuk menata piring piring di atas meja di bantu sang ART. Sembari menunggu ayah dan suaminya keluar dari kamar masing masing dan memulai santap pagi mereka.


tak..tak..tak...


suara langkah kaki terdengar menuruni tangga. Arini menoleh. Dilihatnya disana, pria gondrong dengan rambut terikat yang sejak kemarin ia diamkan itu nampak turun dari lantai dua tempat dimana kamar pribadinya berada.



"pagi, sayang .." sapa pria berjambang lebat itu.


Arini hanya tersenyum simpul. Ia masih sedikit kesal dengan ayah kandungnya itu.


Calvin mengamati mimik wajah putri kesayangannya itu. Pria itu lantas menghela nafas panjang.


"ini cerita nya masih marah sama bapak?" tanya Calvin.


Arini menggelengkan kepalanya tanpa senyuman


"bapak udah minta maaf nggak dimaafin?" tanya duda itu lagi.


Arini nampak bersungut. Lalu menggelengkan kepalanya lagi.


"terus bapak harus ngapain biar kamu percaya ama bapak? bapak cuma nurutin anak anak..!" ucap Calvin.


"iya, nurutin anak anak. Trus entar abis ini di studio bapak minum lagi ama anak anak...! gitu kan?" tanya Arini sewot.


Calvin menghela nafas panjang. Digo datang. Pria itupun mendekati sang istri yang masih nampak kesal pada ayah kandungnya itu.


"pagi, sayang.." sapa nya sembari mengecup pucuk kepala sang istri, lalu mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi di meja makan itu.



Calvin kembali melanjutkan ucapannya.


"nanti Ivan kesini. Dia sama Miko yang kemarin ngajakin bapak minum minum. Kalau kamu belum puas ngambek bapak, entar amuk aja tuh, Ivan sama Miko. Biar kamu puas. Tanyain sekalian sama mereka, siapa yang semalam ngajak minum bapak.." ucap Calvin.


Arini hanya diam. Ia mulai menyibukkan diri mengisi piring sang ayah dan suaminya itu dengan nasi serta lauk pauk disana.

__ADS_1


Digo menatap ke arah Calvin dan Arini bergantian. Sepertinya perdebatan tentang miras kemarin masih belum usai.


Digo hanya bisa mengulum senyum.


"Rin...." ucap Calvin lagi.


Arini menoleh.


"kali ini Arin percaya ama bapak. Tapi kalo sampai Arin liat bapak mabuk mabukan lagi, Arin bakal campur tuh air air bir ke sumber air komplek kita, biar mabok semua satu komplek..!" ucap Arini kesal.


Digo dan Calvin pun terkekeh mendengar ucapan wanita itu.


"iya, iya..! udah yuk, sarapan." ucap Calvin lagi.


Tiga manusia satu keluarga itu pun lantas memulai makan pagi mereka. Tak lama, sekitar kurang lebih 15 menit, ketiganya pun selesai.


Arini meraih tisu, mengusap area sekitar bibirnya yang kotor bekas makan. Begitu pula dengan Diego dia melakukan hal yang sama seperti yang istrinya lakukan.


"dah?" tanya Digo.


Arini mengangguk.


"bareng daddy aja ya, nggak usah naik motor. Udah ada Sam yang nunggu di depan" ucap Digo.


"iya..." jawab Arini singkat.


Digo tersenyum.


Ponsel pria itu tiba tiba berdering. Sebuah panggilan telepon masuk dari salah satu klien pentingnya.


"Baby, aku keluar dulu, ya, angkat telepon.." ucap Digo.


Sedangkan di meja makan, Arini nampak bangkit. Ia menyambar tas selempang miliknya yang berada di salah satu kursi meja makan itu. Ia kemudian mendekati sang ayah yang kini juga nampak berdiri, bersiap menuju studio tato nya.


"pak, Arin berangkat kuliah dulu ya..." ucap wanita itu sembari meraih punggung tangan Calvin.


"iya, sayang...." ucap Calvin sembari mengacak acak lembut pucuk kepala sang putri.


Calvin dan Arini pun berjalan menuju keluar rumah. Tak lupa, duda berewokan itu menyambar helm hitam tersebut yang akan ia gunakan sebagai pelindung kepala saat menunggangi motor besarnya .


Arini dan Calvin sampai di teras. Dilihatnya di sana sebuah mobil mewah sudah terparkir di depan rumah. Dengan Sam yang nampak bersandar di salah satu sisi mobil itu sembari memainkan ponselnya.


"hai, baby..." sapa Sam.


"hai, om.." jawab Arini.


"tuan..." ucap Sam lagi kini pada Calvin. Pria gondrong itu lantas mengangguk sembari menyunggingkan senyuman simpul.


Digo selesai dengan telfonnya. Pria itu lantas memasukkan ponselnya itu ke dalam saku celananya kemudian menoleh ke arah sang istri.


"udah..? ayok..!" ucap Digo.


"dad..." ucap Arini.


"what..?" tanya Digo.


"salim dulu dong, ama bapak" ucap Arini.

__ADS_1


Digo mengernyitkan dahinya. Calvin mengulum senyum. Sam nampak terkejut.


"Baby, ini udah siang, sayang" ucap Digo beralasan.


"salim dulu, dad. Nggak nyampe tiga menit kok" ucap Arini.


Senyuman Calvin makin merekah. Ia mengulurkan tangannya, jarinya bergerak seolah meminta Digo untuk mendekat.


Digo berdecak kesal. Dengan sangat terpaksa ia pun mendekati sang mertua. Matanya melirik kesal ke arah Calvin. Laki laki itupun dengan sangat terpaksa meraih punggung tangan mantan musuhnya itu lalu mencium nya sebagai tanda bakti seorang menantu pada mertuanya.


Sam berdecih. Ia tak menyangka pria se angkuh Digo kini bisa menjelma menjadi menantu penurut seorang Calvin Alexander yang dulu sangat ia benci.


"makanya kalau ngomong jangan asal jeplak..! kemakan omongan sendiri ku sekarang...! tunduk, tunduk lo ama si gondrong..!" ucap Sam seorang diri.


Digo selesai dengan aksi cium tangannya.


"semangat kerjanya, mantuku" ucap Calvin meledek.


"berisik, lu...!" ucap Digo kesal.


Pria itupun lantas berjalan menuju mobilnya bersama sang istri. Ia masuk ke dalam sana, disusul Sam yang juga memposisikan dirinya di kursi kemudi.


drrrrttt..... drrrrttt....


ponsel Sam berbunyi. Duda satu anak itu lantas merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda pipih miliknya itu.


Dilihatnya disana, sebuah panggilan telepon dari seorang wanita cantik yang kini menjadi tambatan hatinya masuk ke dalam ponsel itu. Sam mengulum senyum. Ia tak mengangkat nya. Laki laki itu justru meletakkan ponsel itu di atas dasbor dalam posisi terbalik. Seolah tak mengizinkan layar ponsel bertuliskan nama seorang wanita itu dilihat baik oleh Digo maupun Arini.


Digo yang sudah berada di dalam mobil itupun nampak menyipitkan matanya.


"siapa?" tanya Digo.


"bukan siapa siapa" jawab Sam.


"cewek baru? anak siapa lagi yang lu mainin?" tanya Digo lagi.


"apasih? gue nggak kayak gitu orangnya..!" ucap Sam.


"ta* lo..!" ucap Digo membuat Sam terkekeh.


"kali ini gue mau serius ama dia..!" ucap Sam.


Digo berdecih.


"apes banget tuh cewek..! lebih apes lagi keluarga nya, ketambahan anggota keluarga modelan kek lu..!" ucap Digo.


Sam tergelak.


"keluarga nya justru pasti bangga..! karena salah satu dari anggota keluarga mereka berhasil jinakin buaya kayak gue...!" ucap Sam sambil tersenyum lebar.


"bangk* lu...!" ucap Digo sembari menendang bagian belakang jog kemudi tempat Sam duduk.


Kedua sahabat itu lantas tergelak. Arini yang menyaksikan interaksi dua pria dewasa itu hanya terkekeh melihat nya.


...----------------...


Selamat siang

__ADS_1


up 12:24


yuk, dukungan dulu 🥰


__ADS_2