My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 31


__ADS_3

tiing....


Pintu lift terbuka.


"dah, keluar. Meja bu Carissa ada di ujung, di depan ruangan bos. Nanti kamu bisa kan turun sendiri?" tanya si security yang masih berada di dalam kotak besi itu.


"insya Allah bisa, pak" ucap Arini.


"ya udah, keluar gih. Saya mau turun lagi" ucap si security.


Arini mengangguk. Ia lantas keluar dari kotak besar itu.


"makasih ya, pak" ucap gadis itu lagi sebelum berpisah dengan si security.


Pintu lift tertutup. Pria dewasa itupun hilang di telah benda canggih tersebut.


Arini kembali mengedarkan pandangannya. Bangunan ini bukan hanya luas. Tapi juga sangat bagus dan mewah. Betapa kaya raya nya pemilik perusahaan ini. Arini tiba tiba jadi teringat daddy nya. Seperti apa ya kantor daddy nya yang sedang terpuruk itu? kasihan juga laki laki itu..!


Wanita itu terus melangkah kan kakinya maju, mencari keberadaan meja seorang wanita bernama Carissa.


Hingga...


"itu kali ya..." ucap Arini saat melihat sesosok wanita cantik berambut panjang yang tengah sibuk dengan ponselnya. Ini sudah jam makan siang, wanita itu pasti sudah sangat menunggu santap siang nya.


Arini pun mempercepat langkah kakinya. Didekatinya wanita itu.


"permisi, buk" ucap Arini sopan membuat wanita itu, Carissa menoleh ke arah gadis cantik itu.


"ya," jawab Carissa.


"dengan ibu Carissa?" tanya Arini.


"iya..! delivery dari resto depan ya, dek?" tanya Carissa sambil bangkit dari posisi duduknya.


"oh iya, buk" jawab Arini sembari menyerahkan dua paper bag berisi tiga paket makan siang komplit itu.


"silahkan, ini yang tadi nggak pedes katanya..." ucap Arini.


"em, oke. Tapi boleh minta tolong nggak? anterin yang nggak pedes ke dalem? ini pesanan bos saya soalnya. Saya laper, mau makan dulu" ucap Carissa.


"oh, baik, buk. Bisa..!" ucap Arini.


"makasih, ya" jawab Carissa.


Arini hanya mengangguk. Gadis cantik berkulit putih itupun lantas meraih satu paper bag yang berisi satu box paket makan siang lengkap itu. Di ambilnya benda itu lalu berjalan mendekati pintu ruang CEO yang berada di samping meja kerja Carissa.


tok....tok......tok.....


pintu diketuk...


"masuk" ucap seorang pria dari dalam ruangan itu.


Arini pun meraih gagang pintu itu lalu masuk ke dalam ruangan tersebut dan menutup pintu nya.


"permisi, pak. Ini pa........................"



"DADDY...?!!!!"


Arini melotot. Ia setengah berteriak mengucap 'daddy' saat melihat sesosok pria yang kini nampak duduk di sebuah kursi kerja sambil memegang sebuah gelas berisi minuman soda. Laki laki yang tak asing dengan suara cempreng Arini itupun kini nampak menatap tajam ke arah gadis dengan sebuah paper bag di tangannya.


Keduanya sama sama terkejut. Keduanya sama sama kaget.


Digo dengan cepat meletakkan gelasnya di atas meja lalu bangkit. Ia berjalan mendekati Arini. Begitu pula Arini yang kini pun melangkah maju mendekati sang ayah.


Keduanya pun bertemu di tengah tengah.


"ngapain kamu disini?!!" tanya Digo dengan wajah penuh selidik.


"daddy juga ngapain disini?!!" tanya Arini tak kalah menyelidik.


"daddy yang tanya sama kamu, Arini...! kamu ngapain disini?! ngapain pakai baju kayak gini?!" tanya Digo sambil menarik narik seragam oren milik Arini.


Arini nampak mengelak sambil memundurkan tubuhnya. Gawat...! ia ketahuan...!!


"kenapa diam?! hemm?! jawab...!! kamu kerja di restoran itu?!! heemm? iya?!!" tanya Digo memburu dengan sorot mata penuh selidik.


Arini nampak membuka mulutnya. Hendak bicara, namun urung dilakukan lantaran Digo sejak tadi terus menerus nyerocos tanpa henti.


"jangan diam saja, Arini...! jawab daddy..!! sejak kapan kamu kerja di tempat itu?! kenapa nggak bilang sama daddy...?! Jawab, Arini..!!!"


"ya gimana Arin bisa jawab orang daddy nyorocos mulu..!! daddy juga aneh, ngapain di sini?!" sahut Arini cepat dengan kesalnya.


"heh..!! yang sopan sama orang tua..!! ini kantor daddy..!" gertak Digo.


Arini membuka mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu. Digo menarik nafas panjang. Dan... perdebatan antara ayah dan anak itu pun kembali terjadi.


Digo menoyor jidat putri nya...


"jawab, dasar bodoh..! ngapain kamu disini..?!" ucap Digo singkat.


"ih, sakiiitt...!!"


"jawab...!!" ucap Digo kesal.


Arini nampak menunduk sambil meremas jari jari tangannya. Bibir merah muda dengan polesan lipgloss yang mulai pudar itu terlihat mengerucut. Ia khawatir jika sang ayah tak setuju ia bekerja di tempat itu dan meminta nya untuk berhenti.

__ADS_1


"se, sebenarnya, Arin udah seminggu lebih kerja di tempat itu, dad." ucap Arini.


Digo masih diam mendengarkan.


" Temen SMP Arin yang beberapa hari lalu datang ke rumah yang ngajakin Arin kerja disitu."


" Ta, tapi emang Arin udah nyari nyari kerja dulu sebelum nya..! Arin emang udah punya niat buat nyari kerja...! kebetulan aja ketemu Fajar, temen Arin itu...! trus diajak deh Arin kerja ama dia...!" ucap Arini buru buru mejelaskan. Ia takut jika nanti Fajar ikut kena amukan sang ayah.


Digo mengangkat dagunya.


"lalu..." ucapnya.


"ya udah, Arin kerja disitu sekarang..!" jawab Arini sambil menunduk.


"lalu kenapa kau tidak memberitahu daddy?!" tanya Digo.


"ya... Arin takut daddy nggak ngijinin. Takut salah lagi. Kan Arin nggak pernah bener buat daddy" ucap gadis itu sambil terus menunduk. Bibirnya manyun. Kakinya bergerak gerak seolah menendang udara ringan. Menyalurkan rasa sedih yang tiba tiba datang mengingat perlakuan sang ayah selama ini.


"itu karena kau memang tolol, Arini..! sekarang kau kerja di restoran itu..! apa kata orang nanti kalau mereka tahu bahwa kau anak daddy...?! anak seorang Diego kerja di restoran sebagai pelayan?! mau di taruh dimana muka daddy...?!!" tanya Digo.


"wajan" cicit Arini.


"jawab teroooss...!!" ucap Digo kesal.


Arini tak menjawab


"Daddy nggak suka kamu kerja di tempat itu..! daddy nggak mau nama daddy tercoreng karena pekerjaan kamu..!" ucap Digo.


"ya nggak usah di kasih tau, dad, kalau aku anak daddy. Kan daddy sendiri yang bilang...."


"aku sama ibuk cuma aib buat daddy" ucap Arini kesal. Suaranya terdengar menahan kekecewaan mengingat perlakuan ayah kandungnya itu padanya. Membuat Digo yang sebenarnya masih sangat ingin meluapkan emosinya pun kini nampak diam.


Arini terlihat sedih. Digo tak bergerak. Tiba tiba saja laki laki itu merasa kasihan. Dilihat lagi Arini terlihat pucat. Ia seperti nya sangat kelelahan.


Digo membuang muka. Mencoba menepis perasaan nya yang aneh itu. Laki laki itu tak mau menatap wajah memelas sang putri. Mungkin takut oleng🤭


"sudah...! tidak usah dibahas lagi...! ini hari terakhir kamu kerja di tempat itu..! mulai besok, daddy melarang kamu untuk kerja lagi di resto itu..!" ucap Digo membuat Arini mendongak menatap wajah laki laki itu.


"loh? kenapa...?!!" tanya Arini.


"kau masih tanya kenapa?! kau sudah tidak jujur sama daddy..! sejak kapan kau berani bertindak diluar persetujuan daddy..?!! lama lama kau akan berani bohong sama daddy kalau begini caranya...!!"


"daddy juga nggak jujur...!!" balas Arini


"nggak jujur apanya?!!"


"daddy bilang daddy lagi punya masalah ekonomi...! kok perusahaan daddy bagus, gede...?!! karyawan juga banyak..! makannya juga enak...?!" tanya Arini.


"tau apa kau soal perusahaan?! yang bermasalah itu keuangannya..! bukan bangunan perusahaan nya...! apa jika keuangan perusahaan ku sedang bermasalah aku harus merobohkan bangunan perusahaan ku dan menggantinya dengan warung remang remang...! lalu aku harus jualan disana...! makan nasi sisa...! dan memecat karyawanku..! jangan bodoh..! dasar sok tahu...!" ucap Digo lagi sambil kembali menoyor jidat anaknya.


"iiihhh...sakiiitt...!!!" ucap Arini kesal.


"ih, daddy apaan sih?! nggak mauk...!!" ucap Arini.


"apa?! daddy melarang kamu kerja di tempat itu, Arini..! tugas kamu itu bersih bersih rumah..!" ucap Digo.


"aku juga masih bersihin rumah kok..! semua pekerjaan aku beres..! aku gak mau keluar dari tempat kerja aku, dad..! aku nyaman kerja di situ..! aku bosan di rumah sendiri..! jangan suruh aku berhenti...! lagian kan aku kerja juga buat daddy..! buat bantu perekonomian daddy..! ntar kalau kita jadi gembel gimana?!!" ucap Arini membuat Digo menoleh seketika.


"jangan bicara ngawur kamu...!!" ucap Digo


"oh, daddy tahu...! jadi beberapa hari belakangan kau sering bangun sebelum subuh itu agar kau bisa menyelesaikan pekerjaan mu di rumah sebelum berangkat kerja? iya?!! jangan bodoh kau..!! kau pikir power ranger?! kau biss sakit, tolol...!!" ucap Digo.


"emang aku ranger pink...!"


"jawab lagii..!! kau sama sekali tidak lucu...!" ucap laki laki itu kesal.


Digo menatap jengkel ke arah bocah keras kepala itu.


"udah...! nggak ada alasan...! daddy akan bilang sama bos kamu kalau besok kamu udah nggak akan kerja lagi ditempat itu..!!" ucap Digo sembari mengayunkan kakinya. Hendak berlalu pergi menuju resto tempat Arini bekerja.


Arini panik..! Dengan segera gadis itupun bersimpuh dilantai. Menahan kaki sang ayah agar tidak pergi dari tempat tersebut.


"yah...daddy..! jangan...!! aku nggak mau berhenti kerja..!!" ucap Arini sambil menarik lengan daddy nya. Namun Digo tak menggubris. Ia terus berjalan menuju pintu.


Merasa tak berhasil dengan aksinya. Arini tak kehilangan akal. Ia bersimpuh dilantai. Menarik celana panjang laki laki itu agar berhenti mengayunkan kakinya.


"Arini apa apaan kau ini?! jangan kayak anak kecil..!!"


"aku mau tetep kerja...!!" rengek Arini


"Arini, lepas...!"


"mau kerja...!!!"


"celanaku..!!"


"nggak mau...! mau kerja...!!"


"Ari...ni...kau...!!!"


"kerjaaaaaa....!!" rengek Arini terus menerus. Ia terus menarik celana ayahnya. Digo nampak kewalahan. Bisa bisa celananya melorot jika begini terus. Ia lantas mengkibas kibaskan kakinya agar tangan Arini lepas dari celana mahal nya.


Arini mengubah posisi. Ia memeluk kaki jenjang itu. Mengiba lagi, meminta lagi agar daddy nya tidak pergi menemui bos restoran itu.


Digo kembali berusaha menjauhkan kakinya dari kepala Arini yang terus mendusel di sana. Gadis itu membenamkan kepalanya di antara dua belah paha atas Diego. Membuat pucuk kepala dengan rambut panjang milik gadis delapan belas tahun itu tanpa sengaja menggesek gesek benda menonjol di sana. Namun sepertinya gadis itu tidak menyadari hal itu.


"Arini, kamu apa apaan..?!!!" ucap Digo mencoba menjauhkan kepala gadis itu.

__ADS_1


Namun alih alih menjauh, gadis belia itu justru makin menjadi jadi. Ia terus menggerakkan kepalanya. Membuat sesuatu yang tanpa sengaja tergesek itu kini mulai mengeras karena ulah gadis itu.


"Arini..? jangan kayak gini..!! lepasin...!!"


"nggak mau...!! daddy nggak boleh pergi...!!!"


"anj.....!!" Digo mengumpat pelan. Tolong lah, ini bahaya. Ini kalau terus terusan ia tak punya pelampiasan setelah nya..! kan repot..!!🙈


Digo terus berusaha menjauh kan tubuh Arini. Arini masih setia pada posisi dan pergerakan nya sambil terus merengek. Hingga....


ceklek ...


"permisi tu......... ASTAGHFIRULLAH HALADZIM...!!!!"


seeeeetttt.....


buuuuuuuuuuggggghhhhh.....


"aaaawwww...!!!"


Seorang karyawan laki laki tiba tiba masuk tanpa permisi. Melihat posisi yang tak biasa dari dua manusia itu, sang karyawan pun reflek mengucap istighfar sembari memalingkan wajahnya.


Digo yang menyadari kedatangan bawahan nya itupun lantas dengan segera mendorong tubuh Arini. Membuat gadis itu terpental dan terduduk sedikit jauh dari sang ayah.


Digo nampak merapikan jas nya. Wajahnya nampak tegang antara kaget sekaligus menahan sesuatu yang sudah mengeras disana akibat ulah Arini. Sedangkan Arini kini nampak meringis, bersimpuh di atas lantai marmer itu.


Pria matang berparas tampan itu lantas mencoba menetralkan ekspresi nya..


"eeeehhhmm...! ada apa?!" tanya Digo.


Karyawan laki laki yang diketahui bernama Anton itu lantas berbalik badan. Dengan raut wajah canggung, pria itu lantas berjalan mendekati sang Diego.


"maaf, tuan. Saya mau mengantar dokumen yang tadi tuan minta" ucap Anton sambil menyerahkan sebuah map merah disana.


Digo berusaha untuk bersikap setenang mungkin. Diraihnya map ditangan Anton dengan raut wajah di buat se datar dan setenang biasanya.


Anton diam diam melirik ke arah gadis ABG yang memasang mode cemberut tanpa mengubah posisi duduk nya di lantai.


Mendapati Anton yang diam diam melirik ke arah sang putri, Digo pun nampak menatap tajam ke arah pria paruh baya itu.


"ada keperluan lain?" tanya Digo.


Anton pun seketika terkaget sembari menoleh ke arah sang bos besar.


"oh, tidak, tuan. Tidak ada..!" ucap Anton.


"lalu kenapa kau masih di sini?" tanya Digo angkuh.


Anton kelimpungan.


"ma, maaf tuan. Kalau begitu saya permisi dulu. Mari .." ucap Anton kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.


Seperginya Anton,


Digo kembali menatap kearah Arini yang terduduk di lantai itu, kini dengan sorot mata angkuh...


"bangun...!" ucap Digo.


Arini pun bangkit dari posisi duduknya.


"daddy......." rengek Arini


"sudah, sudah...!! daddy pusing dengan ulahmu...! sekarang kamu pergi...! masalah ini kita bicarakan lagi nanti di rumah...!!" ucap Digo membuat Arini pun kembali mengerucut kan bibirnya.


"tapi...."


"sudah...! kita bahas dirumah...! urusan kita belum selesai...!" ucap Digo tegas.


"nggak mau berhenti kerja...." rengek Arini dengan wajah memelas, mata bulat mengembun yang terlihat bak bola kristal nan indah, dan bibir mengerucut.


Astaga, kenapa jadi menggemaskan begini, batin Digo.


"pulang dulu...! kita bicara dirumah nanti...!" ucap Digo terdengar tegas.


Wanita itu hanya bisa mengangguk. Ia pun meraih paper bag berisi paket makan siang yang terjatuh di lantai itu. Lalu meletakkan nya di atas meja.


Arini mendekati laki laki itu.


"apa lagi?!!!!" tanya Digo ngegas.


"SALIIIMMM...!!!" ucap Arini tak kalah membentak sembari mengulurkan tangannya. Digo menahan senyumannya. Ia pun menyambut uluran tangan wanita itu. Arini mencium punggung tangan sang ayah sebagai tanda bakti.


Gadis itu lantas berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.


Digo nampak berdecih. Di sentuh nya benda pusaka kebanggaan nya yang sudah menegang itu.


"anjritt..! ini gimana?!! nggak inget dosa gue makan lu...!!" ucap pria matang itu kemudian berlalu pergi menuju kamar mandi di ruangan pribadi nya.


Sepertinya dia lupa bahwa dia sudah sering berbuat dosa dengan para wanita wanita yang jauh lebih tua itu🤦



...----------------...


Selamat siang menjelang sore,


up 15:17

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰😘


__ADS_2