
Arini 👇
Jam menunjukkan hampir pukul tujuh pagi.
Arini sudah nampak lebih segar. Setelah mengguyur tubuhnya dengan air mandi lalu mengganti bajunya, gadis belia yang sebentar lagi akan menginjak usia sembilan belas tahun itu kini nampak berjalan dari kamar tamu yang di tempati nya menuju meja makan.
Dilihatnya disana, aneka makanan hasil racikan bik Sumi sudah tersaji di atas meja. Juga menu sarapan khusus untuk Diego yang sedang sakit, semua sudah Bik Sumi siapkan.
Arini celingukan. Tak ada Bik Sumi disana. Sepertinya wanita itu sedang diluar, menyiram tanaman di taman kecil halaman rumah mewah itu.
Arini tersenyum. Semenjak ada bik Sumi di rumah ini, ia jadi merasa lebih terbantu. Semua pekerjaan rumah sudah diselesaikan wanita itu saat Arini baru membuka matanya. Bik Sumi benar benar cekatan.
Arini mendekati meja makan. Berjalan menuju dapur dan meraih piring serta mangkok disana, mengisinya dengan beberapa centong nasi di piring dan sup di mangkok, berniat untuk mengantarkan nya untuk sang ayah yang sedang sakit.
Namun tiba tiba...
"morning, babe..."
Suara itu berhasil membuat Arini menoleh. Dilihatnya disana seorang pria dewasa nampak berdiri tak jauh dari tempatnya. Tersenyum kearahnya dengan tatapan mautnya.
"om Sam?" ucap Arini pada pria dengan sorot mata dan senyuman khas itu.
Sam tersenyum. Ia berjalan mendekati gadis belia itu.
"kamu lagi ngapain, baby?" tanya Sam sembari menyandarkan tubuhnya di tepian meja, tepat di samping Arini.
Lagi, sebuah tatapan dan senyuman khas si duda tampan itu ia lemparkan untuk Arini. Arini mencoba tersenyum sambil kini kembali menggerakkan tangannya mengisi mangkok keramik putih itu dengan sup buatan bik Sumi.
"lagi ngambilin sarapan buat daddy, om" ucap Arini.
"daddy kamu masih sakit?" tanya Sam.
"em, udah mendingan kok..." ucap Arini.
Sam tersenyum.
"om ngapain kesini? emang nggak ke kantor?" tanya Arini.
"ini kan Minggu, aku juga capek, pengen istirahat. Makanya aku kesini, aku kangen sama kamu..." ucap Sam sambil menggerakkan tangannya mencoba membelai rambut panjang gadis itu namun Arini dengan cepat mengelak sambil tertawa garing.
Sam nampak mengulum senyum nakal. Gadis muda yang sangat menggemaskan, pikir Sam.
"kamu makin hari makin cantik..." puji Sam.
Arini nyengir, lagi lagi, tersenyum kaku.
"gimana kerjaan kamu di resto? kamu pasti sedih ya abis dimarahin sama bos kamu...?" tanya Sam.
"biasa kok, om. Kalau kerja ikut orang kan emang gitu. Harus siap kena marah kalau ngelakuin salah..." ucap Arini.
Sam tersenyum. Tangannya kembali tergerak, menyentuh pundak merembet hingga lengan Arini dengan satu jari telunjuknya. Lagi lagi, Arini meringsut sedikit menjauh dari pria itu.
"kalau kamu capek, bosnya galak, keluar aja. Nggak usah kerja" ucap Sam. Laki laki itu sambil ikut meringsut mendekati sang gadis belia. Ia lantas sedikit membungkuk, mendekat kan wajahnya lebih dekat dengan wajah Arini.
"aku bisa loh menuhin kebutuhan kamu tiap hari. Apa aja yang kamu minta, aku pasti kasih..." ucap Sam dengan tatapan dan senyuman mautnya.
Arini nyengir lagi. Nih bapak bapak kok makin hari makin serem ya, pikir Arini.
Gadis itu nampak menunduk. Mempercepat pergerakan nya agar segera bisa pergi dari situ dan menemui sang ayah di kamarnya.
Sam memperhatikan wajah cantik itu. Tangannya tergerak lagi hendak menyingkapkan beberapa helai rambut panjang Arini yang menutupi pipi gadis itu. Namun belum sempat ia melakukan nya. Tiba tiba...
"eeekkkhhmmm...!"
__ADS_1
Suara tersebut berhasil membuat kedua pria wanita beda usia itu menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya disana Diego yang nampak masih belum terlalu sehat itu nampak berdiri sambil tersenyum ke arah Sam dan Arini.
"daddy..." ucap Arini.
Digo tak menjawab. Ia berjalan ke arah mereka sambil menatap remeh ke arah Sam yang nampak tidak suka dengan kedatangan nya.
"masih idup lo?" tanya Sam kesal. Ganggu banget nih manusia satu...! batin Sam.
Digo lagi lagi tak menjawab. Ia mendekati Arini.
"daddy kenapa keluar kamar? padahal aku mau bawain sarapan ini ke kamar daddy. Biar daddy bisa makan disana" ucap Arini.
Digo tak langsung menjawab. Ia tersenyum ke arah putri perawan yang mulai menggoda imannya itu. Digerakkan nya tangan itu merengkuh pinggang Arini, membuat Sam kini melotot ke arahnya.
Kampret nih orang...! batin Sam mengumpat.
Arini terdiam. Ia melirik ke arah tangan Digo. Kok agak nggak enak ya kalau bapak ama anak begini posisinya. Pikir Arini. Tapi wanita itu secepat mungkin menepis pemikiran anehnya.
"daddy mau makan di sini aja sama kamu" ucap Digo.
Arini mengangguk.
"oh, oke. Ya udah, kalau gitu daddy duduk aja..." ucap Arini sambil menarik kursi yang biasa Diego dudduki.
Digo tersenyum. Ia melepaskan dekapannya pada pinggang ramping itu. Lalu mengecup lembut pucuk kepala putri cantiknya itu sebelum duduk di kursi meja makan tersebut.
Sam nampak kesal.
"om Sam mau sarapan sekalian? bareng bareng, om..." ucap Arini.
Sam tersenyum.
"boleh..." jawab pria itu.
Digo menatap tajam duda mes*m itu. Arini mulai bergerak. Melayani dua pria dewasa itu secara bergantian. Digo nampak menatap jengkel ke arah Sam. Sedangkan Sam sama sekali tak melirik Digo. Ia lebih menikmati pemandangan indah nan menenangkan dihadapan nya. Seorang gadis muda berparas rupawan yang kini tengah menyajikan santap pagi untuk dirinya.
Sudah lama Sam tidak diperlakukan seperti ini oleh seorang wanita. Semenjak perceraian nya dengan sang istri dua tahun lalu.
Arini selesai dengan aktivitas nya. Gadis belia itu lantas mendudukkan tubuhnya di samping Sam dan hendak menyendok makanannya. Namun tiba tiba....
sreeeeetttt....
Digo menarik kursi itu beserta Arini di atasnya. Seolah meminta gadis cantik itu untuk lebih dekat dengan dirinya dan menjaga jarak dari Sam.
Arini kaget. Ia menoleh ke arah sang ayah. Sam yang menyadari ulah Digo itupun nampak menatap kesal ke arah sahabat nya itu.
Digo menatap angkuh Sam. Mengangkat dagunya seolah menantang.
Sam ikut menyeret kursi nya. Seolah tak mau jauh jauh dari Arini.
"lu ngapain ngikut sih..?! anak gue sempit...!" ucap Digo tak suka.
"apa sih?! Arini biasa aja kok..! ya kan, baby?" tanya Sam pada Arini.
Arini lagi lagi hanya bisa nyengir.
Gadis itu nampak menggelengkan kepalanya. Duo bapak bapak aneh. Batin Arini.
Acara sarapan pagi terus berlanjut.
Arini meraih sambal di atas meja.
"kamu suka pedes juga ya, baby?" tanya Sam.
Arini hanya tersenyum.
__ADS_1
"aku juga suka. Nggak bisa makan kalau nggak pedes.." ucap Sam kemudian ikut ikutan mengambil sambal.
Digo kembali mendengus kesal. Ia tak mau kalah. Laki laki itu lantas menggerakkan tangannya. Hendak ikut meraih sambal disana, namun....
plaaaaakkkk....
"anj*nk...!" ucap Digo reflek. Manakala punggung tangan miliknya di pukul menggunakan sendok oleh putri perawan nya. Ia pun menarik tangannya dengan spontan
"Arini..!! kau apa apaan...?!!" ucap Digo kesal.
"mau ngapain?!" tanya Arini sambil melotot.
"aku mau ambil sambal itu..!" ucap Digo.
"nggak usah cari penyakit...!! lupa apa kalau masih sakit?! lupa kemarin dokter bilang apa?! nggak usah makan yang aneh aneh..!" ucap Arini cempreng.
"apasih?! aku bukan anak kecil..! cuma sambel doang daddy kuat...!" ucap Digo sok kuat. Ia kembali menjulurkan tangannya. Dan....
plaaaaakkkk.....
Sendok menghantam punggung tangan itu lagi.
"Arini...!!!"
"iki menungso kok ndablek men seh?!! tak raupi sambel temenan koen...!" ucap Arini geram dengan gigi mengetat dan mata melotot.
(ini manusia kok ngeyel banget ya? aku cuci mukamu pake sambel..!)
Sam sekuat tenaga menahan tawanya.
"taruh nggak sambelnya??! kalau nggak di taruh Arin lempar nih sambel beneran...!! taruh...!!!" ucap Arini garang.
Digo mendengus kesal. Di letakkan nya dengan kasar mangkuk sambal yang sudah berada di tangannya itu.
Sam menggigit bibir bawahnya. Baru kali ini ada wanita yang berani mengancam seorang Diego. Man bocil lagi 🤣🤣
Ketiga manusia itu pun kembali melanjutkan aktifitas sarapan pagi mereka. Namun tiba tiba....
.
.
.
"Go...!! Digo...!!!"
Suara itu menggema. Dibarengi suara langkah kaki cepat yang nampak makin mendekat ke arah meja makan. Arini, Diego, dan Sam nampak menatap ke arah sumber suara.
Dan....
.
.
.
.
"Kak Giselle?!"
...----------------...
Selamat sore...
up 16:01
yuk, dukungan dulu 🥰😘😘
__ADS_1