
Malam menjelang di rumah sederhana yang batu saja selesai di bangun itu.
"ck...!!!"
"sssshhhh...."
"ck...!!"
"aaaahh....!!"
"ssssshhhh....!!!"
Wanita yang sejak tadi berusaha memejamkan matanya itu kini kembali membuka netra bulatnya. Jam sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam, tapi sejak tadi ia tak juga kunjung tidur. Padahal tidak ada aktifitas bikin anak malam ini. Harusnya ia bisa tidur dengan nyenyak dari sore lantaran Diego membebas tugaskan wanita itu untuk pertama kalinya semenjak menikah. Tapi kenyataannya justru sampai tengah malam wanita itu belum bisa memejamkan matanya.
Arini menoleh ke arah sang suami. Dilihatnya di sana, Diego yang hanya mengenakan bokser hitam nampak tak berhenti bergerak sejak tadi. Tengkurap, terlentang, nungging, menutupi wajahnya dengan bantal, miring, duduk, tiduran lagi, Kaki di atas bantal, kepala di kaki istrinya. Dan terus bergerak sejak tadi tanpa henti. Membuat ranjang yang tak terlalu luas itu seolah habis dikuasai Diego. Arini hanya bisa tidur meringkuk berselimut tak terlalu tebal di sudut ranjang sambil memperhatikan segala tingkah polah suami tampannya yang sepertinya memang jelmaan beruang kutub itu.
Digo kepanasan...! ia tak bisa tidur..!
Sejak tadi ia belingsatan merasakan hawa panas yang merasuk dalam tubuhnya. Padahal kipas sudah dinyalakan. Diarahkan padanya. Jendela kamar juga sudah dibuka lebar. Yang juga menjadi salah satu sebab mereka tak melakukan aktifitas rutin malam hari meraka. Namun rasanya masih kurang. Sungguh, pria itu benar benar tersiksa malam ini.
"daddy...! udah deh, coba diem. Trus tidur...! jangan gerak mulu..!" ucap Arini yang sudah sangat mengantuk.
"nggak bisa..! panas..!" ucap Digo yang kini nampak duduk bersandar pada dinding kayu disana sembari menggaruk garuk kepalanya frustasi.
Arini menghela nafas panjang.
"aku tidur di luar aja kali ya...!" ucap Digo.
"dimana?" tanya Arini.
"sofa...! gerah banget di sini, sayang...!" ucap Digo sembari menggaruk garuk sebelah dadanya yang gatal.
"ya udah, terserah daddy aja..!" ucap Arini yang sudah sangat mengantuk itu.
Diego meringsut. Ia mengecup pipi sang istri singkat sembari turun dari ranjangnya.
"kamu bobok sendiri nggak apa apa ya..." ucap Digo.
Arini tersenyum.
"nggak apa apa..." jawab wanita itu.
Digo kemudian menuju ruang tamu. Bersiap untuk tidur disana sembari membawa kipas angin.
Besok ia harus memanggil tukang AC. Bisa bisanya ia lupa untuk memasang pendingin ruangan itu di rumah tersebut. Padahal ia adalah manusia yang tak bisa tahan dengan udara panas. Ia tak akan bisa bertahan tidur di rumah ini jika udaranya sepanas ini..!
Malam pun berlanjut. Arini kini nampak tidur seorang diri di kamarnya, sedangkan Diego lebih memilih untuk tidur di ruang tamu tanpa selimut di temani kipas angin yang ia bawa kemana mana.
...****************...
Pagi menjelang....
Gema subuh berkumandang. Arini bangun dari tidurnya. Wanita itu nampak menggeliat. Meregangkan otot otot tubuhnya yang kaku setelah bisa tertidur tengah malam tadi.
Arini menatap di sekelilingnya. Diego tidak kembali ke kamarnya. Berarti laki laki itu masih di ruang tamu sekarang.
Arini bangkit. Mengikat rambut panjangnya dengan ikat rambut yang berada di atas meja. Wanita itu kemudian berjalan keluar kamar, menyibakkan tirai kain bermotif jadul yang menjadi pintu pembatas atas kamarnya dan ruang tamu itu.
Arini tersenyum. Dilihatnya disana Diego tengah tertidur pulas diatas sofa panjang di sana dalam posisi tengkurap. Dengkuran dengkuran halus terdengar dari bibir pria tampan itu.
Baguslah jika ia bisa tidur semalam. Kasihan pria itu, demi membahagiakan istrinya yang ingin tidur dirumah masa kecilnya, Digo sampai rela kepanasan di malam pertamanya menginap di rumah itu.
Arini pun segera menuju dapur. Namun ia berhenti sejenak saat melewati kamar sang ayah.
Dibukanya tirai kamar itu. Dilihatnya disana laki laki berbadan tegap itu nampak tidur dalam posisi tengkurap di kamar yang dulu nenek Ratmi tempati.
Arini tersenyum. Ia kemudian kembali mengayunkan kakinya menuju dapur yang sudah sedikit di rombak menjadi lebih baik itu dan mulai melakukan aktifitas paginya sebagai seorang wanita.
Masak, bersih bersih, mencuci, semua Arini kerjakan sendiri. Hingga mentari naik dan jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, Arini masih berkutat di dapur. Wanita itu terlihat begitu cekatan mencuci semua piring dan gelas gelas kotor disana.
Hingga...
seeeeetttt....
Sebuah tangan kekar berbulu halus nampak memeluknya dari belakang. Arini terjingkat. Diego datang..!
__ADS_1
Pria itu kini bahkan nampak membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita cantik dengan sebuah gelas di tangannya itu lalu menciuminya lembut.
"daddy...jangan gitu ih, ntar kalau di lihat bapak.." ucap Arini.
"bodo amat...!!" ucap Digo.
"mandi buruan, biar seger..! abis ini kita kan mau nganterin bapak ke bandara.." ucap Arini lagi.
"ck..! biar berangkat sendiri aja dia...!" ucap Digo.
"heh..!! nggak boleh gitu..! dia bapakku...!!" ucap Arini sembari reflek menepuk punggung tangan pria tampan itu.
Diego terkekeh. Diciumnya pipi mulus istrinya itu cukup lama sembari makin mengeratkan pelukannya.
"kangen, baby..." bisik pria itu.
Arini terkekeh.
"semalem kan libur.." ucap Digo lagi.
"kan daddy yang bilang libur.." ucap Arini.
"disini nggak aman. Apalagi ada bapak kamu..." ucap Digo.
Wanita itu hanya tersenyum.
"ntar ya, kalau bapakmu udah pergi.." ucap Digo meminta.
Arini tersenyum lalu mengangguk.
"iya..." jawabnya.
"ya udah, mandi dulu gih. Bauk acem tauk..!" ucap Arini.
"masa?" tanya Digo.
"beneran.." jawab Arini.
Digo melepaskan pelukannya lalu mengendus endus tubuhnya sendiri.
"bauk..! tuh keteknya, bau asem..!" ucap Arini.
"masa sih?" ucap Digo sembari mengangkat satu lengannya.
"coba cium..!" ucapnya lagi sembari mengarahkan ketiaknya pada sang istri.
Arini terkekeh. Ia reflek menyentuh dada sang suami seolah ingin menahan pergerakan Digo agar tak mendekati nya.
Keduanya tergelak. Diego memeluk lagi tubuh Arini dan menciumi wajah wanita cantik itu sebelum memulai mandi paginya.
...****************...
Waktu terus berjalan. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Jadwal keberangkatan pesawat yang akan Calvin tumpangi masih setengah jam lagi. Namun laki-laki itu sudah berada di bandara bersama anak dan menantunya.
"bapak, inget ya...kalau kesepian di rumah minta ditemenin mas Ivan apa mas Miko aja. Arin juga nggak lama lagi kok disini, paling semingguan lagi.." ucap Arini pada sang ayah.
"iya.." jawab Calvin santai.
"minta ditemenin aja sama temen temen bapak kalau sepi..! tapi inget ya, pak..! nggak usah aneh aneh..!! nggak usah minum minum yang nggak enak
.! awas ya kalau Arin tau bapak aneh aneh selama Arin nggak ada..!" ucap gadis itu mewanti wanti sang ayah. Calvin hanya mengangguk santai sambil menggaruk garuk pelipisnya.
"ya udah..! bapak berangkat ya..! kamu baik baik di sini sama suami kamu" ucap Calvin.
"iya, pak" jawab Arini.
Calvin memeluk sang putri dengan erat. Lalu menciumi pucuk kepala wanita yang sejak tinggal bersamanya nyaris tak pernah jauh dari dirinya itu.
"bapak hati hati ya. Jaga kesehatan. Jangan telat makan" ucap Arini yang sebenarnya cukup berat berpisah dengan sang ayah.
"iya..." jawab Calvin tenang. Pelukan pun berakhir. Arini meraih punggung tangan sang ayah. Lalu menciumnya sebagai tanda hormat. Calvin mencium lagi kening sang putri beberapa kali sebagai salam perpisahan.
Selesai...
Calvin kemudian menoleh ke arah pria tampan berkaca mata yang berdiri di samping putrinya. Laki-laki itu nampak cuek. Ia sejak tadi sibuk memainkan ponselnya, berbalas pesan dengan Sam yang berada seberang sana.
__ADS_1
Arini menyenggol lengan Digo dengan sikunya.
"daddy..!" ucapnya pelan.
Digo menoleh.
"hmmm?" tanya Digo.
"bapak mau pergi..!" ucap Arini dengan suara pelan dan bola mata bergerak gerak seolah ingin memberi kode pada sang suami untuk mencium tangan ayah kandungnya itu.
Diego tidak paham. Dilihatnya di sana Calvin sudah mengangkat tangannya rendah. Seolah bersiap untuk berjabat tangan dengan menantu tengilnya itu.
"oh, oke..! hati hati...!" ucap Digo yang justru mengajak Calvin tos di tambah dengan adu kepalan tangan ringan kemudian.
Arini nyengir. Calvin mengulum senyum samar sembari memalingkan wajahnya.
"nggak gitu..!!" ucap Arini lagi.
Digo menoleh lagi.
"apasih?!!" tanya Digo.
"salim..!! ama orang tua, nggak sopan kayak gitu..! salim yang bener..!!" ucap Arini lagi.
"apasih? kayak anak kecil..!!" ucap Digo.
"bukan kayak anak kecil, dad...! itu tuh tanda hormat kita ama yang lebih tua..! buruan...!!" ucap Arini setengah memaksa.
Calvin mengulum senyum penuh kemenangan. Ia menggerakkan tangan kanannya. Lalu mengarahkannya pada Diego. Pria tampan itu nampak berdecak kesal. Dengan sangat terpaksa diraihnya punggung tangan pria berkacamata hitam yang dulu sempat ia benci setengah mati itu.
Dengan sangat terpaksa pria itu membungkuk, menempelkan keningnya di punggung tangan Calvin.
Dalam hati Digo menggerutu.
Besar kepala pasti nih orang..! pikir suami Arini itu.
Tak lama, Diego hendak mengangkat kepalanya menjauh dari punggung tangan Calvin. Namun laki-laki gondrong itu kini justru meraih kepala Digo dan menekan nya disana seolah tak mengizinkan kepala pria tampan itu berpindah dari posisinya.
"jaga diri baik baik ya, nak. Bapak titip Arini..!" ucap Calvin seolah mewanti-wanti menantunya itu.
Diego berdecak kesal. Ia mengelak, lalu melepaskan tangan laki laki itu dengan wajah kesal.
Calvin mengulum senyum kemenangan.
"mantu gue ganteng banget.." ucap Calvin lagi sambil kembali berusaha mengacak acak rambut Digo. Namun lagi lagi Digo mengelak.
Arini terkekeh melihat interaksi dua pria itu.
Calvin pun berbalik badan sembari membawa ranselnya. Diego menatap angkuh punggung pria itu.
"pergi lu jauh jauh...!" ucapnya sembari mengusap usap kening nya seolah ingin menghilangkan jejak tangan Calvin di sana.
"daddy...!! itu bapakku...!!" ucap Arini dengan mata melotot ke arah sang suami.
Digo tak menjawab. Ia menggerakkan tangannya, merangkul pundak wanita cantik kesayangan nya itu.
"pulang, yuk..! kamu kan harus kerja..!" ucap Digo.
"kerja? kerja apa?" tanya Arini.
"tuh..!" jawab Digo sembari mengarahkan pandangannya ke arah bawah, tepat di bawah perut istri nya itu.
Arini nyengir. Digo mulai menatap nakal istri kecilnya itu.
Arini menggerakkan tangannya. Menoyor pipi Digo dengan gemas.
"mesum..!" ucapnya kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Digo tergelak. Ia pun melangkah mengikuti sang istri di belakangnya.
...----------------...
Selamat siang.
up 11:51
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰🥰😘