My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 25


__ADS_3

Ceklek....


Pintu utama rumah megah itu terbuka. Arini dengan beberapa paper bag di tangannya itu pun masuk ke dalam rumah megah dan luas tersebut. Tiba tiba


.


.


.


"dari mana saja kau..?!"


Suara itu terdengar dingin dan tegas. Menggema memecah kesunyian rumah yang harusnya tak ada orang itu, membuat Arini pun terjingkat kaget di buatnya.


Itu daddy nya...! pria itu sudah berada di rumah..! ia sudah pulang dari kediaman orang tuanya.


Arini nampak celingukan. Ia melirik ke arah jam dinding. Setengah sembilan malam..! Ini masih terbilang sore untuk kepulangan seorang Diego. Biasanya laki laki itu bisa pulang tengah malam bahkan sampai pagi. Tapi kok tumben amat malam ini Digo pulang cepet.


Arini berjalan pelan mendekati sang ayah yang nampak menatapnya tajam dengan raut wajah garang itu.


" Da, daddy, udah pulang?" tanya Arini terbata bata. Sorot mata mengerikan itu berhasil membuat Arini gugup.


" Dari mana kamu?" tanya Digo dingin. Sesekali ia nampak melirik ke arah sang putri yang terlihat berbeda penampilan nya.


" Em, Arin..tadi...abis cari makan, dad." ucap Arini.


" Cari makan? dimana? makan apa? sama siapa kamu pergi?" tanya Digo berurutan.


" Em, tadi Arin diajak temennya daddy, om Sam" ucap Arini.


Digo diam.


" Untuk apa dia mengajak mu makan?" tanyanya. Ia lantas meraih dagu Arini lalu mengangkat nya membuat wajah cantik berbalut make up tipis tipis itu pun terdongak menatap ke arahnya. Di gerakannya kepala putri palsunya itu ke kanan dan ke kiri.


" Trus ini apa maksudnya..?! kenapa kau pakai make up menor seperti ini? hah? ini apa lagi?!" tanya Digo kemudian merampas beberapa paper bag yang berada di tangan Arini. Di bukanya paper bag itu satu per satu sambil mengeluarkan isinya.


Arini mulai takut kena semprot lagi.


" I...itu tadi dibeliin, dad. Tapi sumpah Arin nggak minta..! om serem itu yang beliin, dia maksa, katanya kasihan, baju Arin kekecilan semua..!" ucap Arini seolah buru buru meyakinkan sang ayah jika memang ini semua adalah keinginan Sam, bukan dirinya. Ia tak mau Digo keburu salah sangka dan ia akan kena omel lagi.


Digo diam diam memperhatikan penampilan gadis di hadapannya itu. Sam telah mengubah penampilannya menjadi cukup berbeda. Terlihat lebih cantik, rapi dan bersih. Make up nya juga tak terlalu tebal, namun berhasil membuat kesan yang berbeda dengan dirinya.


Arini masih diam.

__ADS_1


Digo melempar semua paper bag di tangannya itu ke lantai dengan angkuh. Ia harus tetap terlihat sangar di hadapan gadis itu.


Arini nampak awas. Mungkin ia akan kena marah lagi. Wanita itu mundur, mencoba menjauh dari laki laki yang kini mulai terlihat buas itu. Digo terus berjalan maju.


" Apa kau tidak bisa sekali saja tidak membuat daddy mu ini naik darah? hemm?!" tanya Digo.


" Emang Arin ngapain? Arin salah apa lagi?" tanya Arini tak mengerti.


" Kau tanya kau salah apa? apa kau tidak berfikir, kau itu seperti pengemis..! kau minta barang barang itu dari Sam, sedangkan kau tahu laki laki itu adalah bawahan daddy mu..!! hanya demi hp dan baju kau berani membangkang peraturan yang daddy buat...!!"


"kau lupa, daddy pernah bilang daddy melarang mu keluar dari rumah tanpa ijin daddy..! dan sekarang kau membangkang...!!" ucap Digo mulai naik darah.


" Arin kan udah bilang, Arin nggak minta...!!" ucap Arini ngeyel.


"JAWAB SAJA TERUS...!! JAWAB TERUS KALAU AYAHMU SEDANG BICARA...!!!!" ucap Digo dengan suara meninggi.


Arini menunduk.


"maaf" cicitnya kemudian. Lebih baik minta maaf walaupun ia tidak salah, dari pada harus terus berdebat dengan orang tuanya ini.


Digo mengangkat satu sudut bibirnya. Dikungkung nya tubuh Arini yang kini sudah mentok membentur tembok itu. Netra tajamnya tak lepas menatap wajah cantik yang mulai terlihat panik tersebut.


" Sekarang jawab, kemana saja Sam mengajakmu pergi tadi?!" tanya Digo angkuh.


Arini memberanikan diri menatap wajah sang ayah.


Arini mengangguk.


"ke toko pakaian?"


Arini mengangguk lagi.


"lalu ke hotel?" tanya Digo lagi.


Arini dengan cepat menggelengkan kepalanya dengan wajah yang berhasil membuat Digo cukup terhibur melihatnya.


" Kita cuma makan, dad. Soalnya tadi om serem nya kesini, dia lihat aku makan nggak ada lauk makanya aku diajak keluar...! kita nggak ngapa ngapain...! sumpah..! kalau daddy nggak percaya daddy telfon aja om nya, atau ambil aja deh itu baju bajunya sama hp nya. Balikin aja sama dia. Orang Arin juga nggak minta kok...! Arin juga mikir mikir, dad, mau nerima..! takut..! kan temennya daddy serem...! ambil aja deh, balikin...! dari pada daddy marah marah mulu...!" ucap Arini menggebu gebu dan sedikit kesal di akhir kalimat nya.


Diego tak bergerak. Diam diam pria itu memejamkan matanya, menikmati aroma wangi dari tubuh serta nafas gadis belia itu. Mimik wajah Arini yang nampak kesal dengan bibir yang mengerucut terlihat sangat lucu. Membuat laki laki itu tanpa sadar mengeluarkan sebuah senyuman samar.


Niatan awal Digo ingin membuat Arini menangis. Namun melihat ekspresi sang putri, sepertinya kini ia berubah pikiran. Mungkin akan lebih menyenangkan jika ia mengerjai gadis itu saja malam ini.


Digo kembali mengangkat satu sudut bibirnya.

__ADS_1


"Sam itu mata keranjang, Arini. Daddy tidak suka kau dekat dekat dengannya. Kalau sampai dia memperkosaa mu dan kau hamil bagaimana? aku tidak mau menanggung aib untuk kedua kalinya...," ucap Digo dengan suara yang sedikit memelan. namun tetap terdengar angkuh.


Arini menunduk..


Lagi, Digo mengangkat satu sudut bibirnya. Di raihnya dagu wanita cantik yang kini berada di hadapannya itu. Lalu memutar kepala itu agar menatap ke arahnya


" Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Digo.


"ma, maaf" ucap Arini kemudian.


"hanya itu?" tanya Digo.


"maaf, dad. Arin janji nggak akan ngulangin lagi" ucap wanita itu pada sang ayah yang sepertinya tengah dalam mode kalem itu.


" Baiklah, untuk kali ini daddy memaafkan mu. Tapi, tetap ada hukuman untukmu karena kau sudah berani keluar dari rumah ini tanpa ijin" ucap Digo.


" Hukuman? hukuman apa? kan Arin udah bilang om serem yang maksa...! Arin juga udah minta maaf..!" ucap Arini.


" Daddy tidak peduli, sayang. Dan hanya sekedar maaf saja itu tidak cukup..! Kau salah, dan kau harus di hukum..! peraturan itu selalu daddy terapkan pada karyawan maupun pembantu daddy, tak terkecuali kau." ucap Digo tanpa menghentikan pergerakan tangannya.


" Terus aku harus ngapain?" tanya Arini.


Digo tersenyum. Tangannya kini tergerak, memainkan jari telunjuknya membelai anak rambut gadis manis itu.


"kolam renang nya kotor. Besok pagi daddy ingin berenang, kamu bersihkan sekarang, ya" ucap Digo.


Arini membuka mulutnya.


"yang bener aja dong, dad...! ini udah malem..! masak aku harus bersihin kolam renang jam segini..?!" tanya Arini.


"sejak kapan daddy mengizinkanmu protes?" tanya Digo membuat Arini diam tak bergerak.


Digo menegakkan posisi tubuhnya. Di gerakkannya tangan kekar itu, menyisir ringan dan menata rambut panjang sang putri sembari menyunggingkan sebuah senyumannya.


"sudah, ini sudah malam. Lebih baik sekarang kau kerjakan hukuman mu..! daddy yakin, kau pasti ingin segera istirahat kan?!"


"lakukan sekarang..! daddy melarang mu beristirahat sebelum pekerjaan mu selesai" ucap Digo lagi dengan sebuah senyuman yang justru membuat Arini nampak kesal.


" mau mode kalem ataupun buas, tetap aja daddy mu ngeselin...! Sabar, Rin...! umur segini emang lagi lucu lucunya..!" batin Arini berbicara.


Digo menggerakkan tangannya menunjuk kearah kolam renang yang berada di bagian belakang rumah megahnya. Arini menghela nafas panjang. Dengan sangat terpaksa, Arini pun berjalan menuju kolam untuk menjalankan hukuman yang diberikan oleh sang ayah.


...----------------...

__ADS_1


up 14:34


yuk, dukungan dulu 🥰🥰😘😘


__ADS_2