
"Arini...?!!"
Suara itu sukses membuat gadis cantik itu menoleh. Dilihatnya disana seorang remaja pria berparas tampan nampak berdiri di sampingnya.
Arini memiringkan kepalanya dengan mata menyipit. Siapa laki laki ini? seperti nya ia kenal? tapi lupa..!
"kamu Arini, kan?" tanya pemuda itu.
Arini mengangguk samar.
"masih inget aku nggak?" tanya pemuda itu lagi.
Arini mencoba memutar otaknya sekuat tenaga. Mencoba mengingat ingat siapa laki laki ini.
"ish..! pasti lupa kamu...! aku Fajar..! temen SMP kamu..!! masak lupa sih?" tanya laki laki itu.
Arini diam sejenak. Ia lantas membuka mulutnya saat ingatannya mulai kembali. Ia ingat sekarang. Laki laki ini dulunya adalah teman sekolah nya. Tapi ia pindah ke kota ini saat lulus SMP, dan melanjutkan pendidikan nya di ibu kota ini.
"oh...! iya, inget...!! Fajar..! ya ampun, aku sampai nggak ngenalin..! maaf ya .." ucap Arini sambil tersenyum.
"iya nih..! kayaknya aku udah dilupain..!" ucap Fajar bercanda.
"nggak gitu..!" ucap Arini.
"canda, Rin..!" ucap Fajar lagi. Kedua remaja itupun tergelak.
"eh, kamu ngapain disini? kok kita bisa ketemu disini? kamu kuliah, atau kerja?" tanya Fajar. Arini tersenyum. Baru saja ia hendak menjawab, ibu warteg sudah memotong pembicaraan mereka dan menyerahkan satu plastik es teh pesanan Arini.
Arini pun menerimanya, lalu menyerahkan sejumlah uang untuk si ibu penjaga warteg.
Arini menoleh pada Fajar.
"kamu mau makan siang?" tanya Arini.
"iya, di suruh mama tadi buat beli makan siang" ucap Fajar.
"oh, ya udah. Aku duluan ya..." ucap Arini.
"loh, kok duluan? baru juga ketemu masak udahan?! duduk dulu lah, kita makan disini, aku yang bayarin" ucap Fajar.
"nggak usah, Jar.." ucap Arini.
"alah, udah..! nggak usah malu malu...! kayak ama siapa aja...! yuk, duduk...!" ucap Fajar sembari meraih tangan Arini dan mengajak wanita itu untuk duduk di salah satu bangku kayu panjang yang berada di sana.
Arini pun hanya bisa menurut. Ia lantas duduk di sana bersama teman SMP nya itu. Setelah memesan makanan dan menerimanya, kedua remaja itupun lantas memulai perbincangan mereka.
"jadi kamu disini lagi apa, Rin? kerja?" tanya Fajar yang memang sudah tahu tentang latar belakang keluarga Arini.
Arini tersenyum sambil mengunyah makanannya.
"aku nyari bapak kandung aku, Jar" ucap Arini membuat Fajar menoleh.
"oh, ya? serius?! terus? gimana? udah ketemu?" tanya Fajar antusias.
Arini tersenyum lembut lalu mengangguk.
__ADS_1
"Alhamdulillah...! kamu pasti seneng banget ya, Rin? selamat ya, akhir nya kamu bisa lihat salah satu orang tua kamu" ucap Fajar ikut bahagia.
Arini hanya tersenyum. Andai laki laki itu tahu seperti apa perlakuan Diego pada dirinya.
"berarti nenek Ratmi juga disini dong? apa kabar nenek, Rin? jadi kangen aku sama beliau" ucap Fajar.
Arini diam.
"nenek udah meninggal, Jar" ucap Arini sambil menunduk lemah.
"innalilahi wainnailaihi rajiun" ucap Fajar kaget.
"aku nggak tahu, Rin. Maaf ya..." ucap Fajar.
"nggak apa apa..! kayak sama siapa aja" ucap Arini.
Fajar mengamati wajah Arini sejenak. Wajahnya terlihat lesu, tak seperti Arini yang dulu ia kenal yang selalu tampil ceria. Arini sekarang terlihat lebih murung.
"trus kamu kuliah dimana?" tanya Fajar. Dalam pikirannya, selama dikampung orang orang mengenal ayah Arini sebagai orang kaya di kota. Jadi jika sekarang Arini ikut dengan ayahnya, pasti laki laki itu akan memberikan pendidikan lebih untuk gadis cantik itu. Iya, kan?
Arini menoleh ke arah Fajar.
"aku nggak kuliah. Ini malah aku pengen cari kerja, Jar.." ucap Arini.
"loh, kok gitu, Rin?" tanya Fajar.
"ya, emang gitu..." ucap Arini
"emang bapak kamu nggak biayain kamu kuliah?" tanya Fajar.
Fajar yang semula terlihat bahagia kini justru merasa iba. Entah mengapa seperti nya gadis itu menyimpan duka yang tak biasa.
"terus kamu mau kerja apa, Rin?" tanya Fajar.
"ya, apa aja Jar. Yang penting halal" ucap Arini.
Fajar menghela nafas panjang.
"sebenarnya, di tempat kerja aku ada lowongan. Aku kan juga nyambi kerja di restoran. Kebetulan hari ini aku minta cuti, soalnya mama aku lagi sakit. Kalau kamu mau, ntar aku kenalin deh ama yang punya resto..." ucap Fajar.
"tapi aku nggak punya ijazah, Jar" ucap Arini.
"gampang..! ntar biar aku yang urus. Tapi kamu nya mau nggak?" tanya Fajar.
"aku mau kok...! mau banget...!" ucap Arini berbinar.
Fajar tersenyum.
"ya udah, besok biar aku ngomong sama bos aku. Ntar aku kabarin..!" ucap Fajar.
"makasih ya, Jar.." ucap Arini
"iya, iya, sama sama..!" ucap Fajar kemudian.
Dua muda mudi itupun lantas melanjutkan aktifitas makan siang mereka.
...****************...
__ADS_1
17:00
Setelah seharian berjalan jalan keluar rumah guna menghilangkan penat sekalian jalan jalan, Arini memutuskan untuk kembali ke rumah megah milik daddy nya.
Dengan langkah gontai, malas, berat, sembari sesekali menendang kerikil kerikil kecil di tepi jalan, gadis itu akhirnya melangkah memasuki gerbang rumah megah itu.
"non, nona kemana saja? tuan tadi nyariin" ucap si penjaga rumah yang baru saja melihat kedatangan Arini.
Arini tak menjawab. Sebenarnya ia malas untuk pulang dan bertemu dengan ayah kandungnya itu. Namun mengingat laki laki itu adalah orang tuanya, satu satunya keluarga yang ia punya, maka mau tak mau, Arini harus hormat, bukan? itu yang selalu nenek nya ajarkan pada nya.
Arini menarik nafas panjang. Diayunkannya kaki itu menapaki halaman luas kediaman sang daddy. Lalu berjalan menuju pintu utama dan membukanya.
ceklek....
"assalamu..........alaikum" ucap Arini memelan di akhir kalimat salamnya.
Dilihatnya disana sang daddy sudah berdiri di ruang tamu, bersandar di dinding menghadap tepat ke arah pintu seolah menyambut kedatangan sang putri dengan sorot mata tajam.
"dari mana saja kau?" tanya Diego dingin.
Arini menarik nafas panjang. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah seolah tak mau menatap ke arah daddy nya.
"abis keluar bentar, dad. Jalan jalan" ucap Arini tenang.
Diego mengangkat dagunya. Berjalan mendekati gadis yang seolah tak memperlihatkan raut wajah takut ataupun bersalah.
"keluar sebentar katamu? apa kau pikir daddy mu ini bodoh?! kau keluar sejak siang, Arini..! kemana saja kau?!!!" tanya Diego.
Arini menghela nafas panjang.
"Arin cuma pengen jalan jalan aja kok, dad. Bosen dirumah terus" ucap Arini.
Diego menatap angkuh gadis itu.
"bosen kamu bilang? apa jika di kampung kau juga suka kelayapan seperti ini? hah..??!! baru beberapa hari kau tinggal di rumah sudah bilang bosen...!!" ucap Diego murka.
"maaf" cicit Arini yang lebih memilih untuk mengalah dan minta maaf. Ia tak berani berterus terang tentang niatannya mencari kerja.
"sekarang kau masuk ke kamarmu, mandi, dan buatkan daddy makan malam...! ini yang terakhir kalinya kau berbuat begini, Arini..! daddy melarang mu keluar dari rumah ini tanpa izin daddy...! paham?!" tanya Digo.
"paham, dad" ucap Arini cuek.
"bagus...! sekarang cepat masuk kamar...!" ucap Diego.
"iya, dad .." jawab Arini.
Wanita itu pun berlalu menuju kamarnya, meninggalkan Diego yang nampak memperhatikan punggung sang putri yang berjalan menjauh dari dirinya.
...----------------...
Selamat siang
up 14:34
yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1