
Malam menjelang,
Saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Arini dengan mata yang masih sembab kini nampak duduk di sebuah sofa di ruang tamu rumah dua lantai itu.
Ditemani pak Yanto, gadis itu nampak sesekali melirik ke arah jam dinding rumah yang kini sudah terlihat jauh lebih bersih dan lebih rapi setelah seharian Arini membersihkan bangunan itu bersama pak Yanto.
Pak Yanto nampak gelisah. Sejak sore kedua manusia itu duduk di tempat itu, hingga kini malam mulai larut, keduanya belum juga beranjak dari sofa panjang tersebut.
Tadi pak Yanto sudah mengirimkan pesan untuk Calvin. Arini masak lagi sore tadi. Gadis itu hanya ingin makan malam dengan ayahnya malam ini. Pak Yanto juga memohon agar Calvin bisa pulang cepat agar bisa makan malam dengan gadis itu. Calvin sudah menjawab "ya" pada pesan itu. Pak Yanto pikir laki laki itu akan segera pulang sesaat setelah dirinya mengirimkan pesan. Namun nyatanya hingga kini, Calvin belum juga kembali ke rumahnya.
Pak Yanto menoleh ke arah Arini yang sejak kejadian kemarin seolah kehilangan keceriaan nya.
"Rin, sudah malam. Lebih baik kamu tidur. Kita kan ndak tau bapak kamu pulang jam berapa" ucap Pak Yanto pada gadis yang lagi lagi menunggu kedatangan ayah kandungnya hanya untuk sekedar makan bersama.
Sungguh, sebagai seorang anak yang sudah teramat sangat merindukan kasih sayang orang tua, Arini hanya ingin hidup seperti anak anak pada umumnya. Memiliki orang tua sebagai tempat untuk bersandar ketika sedang berada dalam masalah. Memiliki tempat curhat. Memiliki orang yang mau mendengarkan segala keluh kesahnya. Memiliki teman yang bisa diajaknya berbagi.
Hanya itu, tidak lebih..!
Tapi kenapa hal itu rasanya susah sekali Arini dapatkan..? sejak kedatangannya ke rumah ini kemarin, hingga saat ini, Calvin belum pernah berinteraksi dengan Arini. Jangankan mendekati, memeluknya, mengajaknya berbicara dari hati ke hati lalu menenangkan nya. Bertanya bagaimana perasaan nya saja tidak..! menyentuh pun juga tidak...!!
Setidak peduli itukah seorang ayah pada anaknya??
Arini menoleh ke arah pak Yanto.
"bapak istirahat dulu aja. Kan besok balik ke kampungnya pagi. Bapak istirahat aja duluan. Besok Arini antar ke terminal" ucap Arini.
"nggak usah, ndok. Bapak bisa pergi sendiri. Kamu dirumah aja.." ucap Pak Yanto.
"Nggak apa apa, pak. Sekalian Arin berangkat kerja besok" ucap Arini.
"kamu kerja, Rin?" tanya Pak Yanto.
"iya, pak. Kerja di restoran. Kebetulan Arini ketemu temen SMP Arin di kota ini. Arin diajakin kerja sama dia" ucap Arini.
"Alhamdulillah, setidaknya kamu punya penghasilan sendiri, ndok. Itu lebih baik" ucap Pak Yanto.
Arini tersenyum. Wanita itu sudah terlihat lebih tenang sekarang.
"udah, bapak tidur aja duluan.." ucap gadis belia itu.
Pak Yanto tersenyum.
"ya sudah, bapak tidur dulu ya. Bapak juga sudah ngantuk. Kalau bapakmu nanti ndak pulang pulang, kamu juga tidur ya. Jangan lupa kunci pintu kamarmu kalau tidur" ucap Pak Yanto.
Arini mengangguk.
"iya, pak" jawab Arini.
"ya sudah, bapak ke atas ya" ucap Pak Yanto lagi. Arini pun hanya mengangguk. Laki laki paruh baya dengan rambut yang mulai beruban itu kini lantas pergi meninggalkan tempat tersebut. Menuju kamar yang sejak kemarin ia tempati untuk mengistirahatkan tubuhnya yang cukup lelah.
__ADS_1
Arini merebahkan tubuh rampingnya di sandaran sofa. Jarum jam terus bergerak kini hampir menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Arini melongok lagi ke arah jendela. Belum ada tanda tanda Calvin pulang malam ini. Wanita itu nampak memejamkan matanya sejenak. Hingga.....
Gadis itu terperanjat. Suara motor besar terdengar memasuki halaman rumah berlantai dua itu.
Arini buru buru bangkit. Dilihatnya dari balik jendela, ayahnya sudah pulang dengan mengendarai motor besarnya.
Arini buru buru menuju meja makan. Ini memang sudah terlalu malam untuk makan. Tapi tak apalah, ayahnya pasti sangat lapar. Itu artinya, makanan yang ia makan akan dilahap habis oleh ayahnya. Arini terlihat mengulum senyum di balik wajahnya yang masih sembab.
Dua piring tertata rapi di atas meja. Arini kemudian kembali ke ruang tamu berniat untuk membukakan pintu untuk sang ayah. Namun belum juga ia sampai di depan pintu, benda persegi panjang yang menjulang itu terbuka,
Seorang pria gondrong masuk ke dalam rumah itu di susul beberapa orang bertato dan bertindik yang nampak tertawa tawa.
Arini terdiam. Salah satu diantara mereka nampak membawa sebuah plastik berisi beberapa botol alkohol.
Calvin menghentikan langkahnya. Begitu pula para pria pria bertato itu yang seketika menghentikan tawa mereka manakala melihat sosok cantik bermata sembab berdiri di depan pintu.
Calvin menoleh ke arah anak buahnya. Ia lantas berjalan dengan sedikit canggung ke arah gadis muda yang nampak menatapnya dengan sorot mata nanar itu.
"a, em, lu, lu belum tidur?" tanya Calvin kikuk.
Arini menggelengkan kepalanya.
"aku nunggu bapak pulang" ucapnya lirih.
Calvin menggaruk garuk kepala belakangnya yang tak gatal seolah ingin menghilangkan rasa canggungnya pada gadis kecil yang ternyata adalah anak kandungnya itu.
"a, disini banyak orang. Mending sekarang lu tidur" ucap Calvin.
"aku udah siapin makan malam buat bapak" ucap gadis itu lagi.
Calvin mengangkat dagunya dengan mulut yang terbuka.
Astaga..! ia lupa pesan yang dikirim pak Yanto tadi..! mana ia baru saja selesai makan diluar dengan teman temannya..! astaga..!!
Calvin kembali menggaruk garuk kepala bagian belakangnya.
"a, sorry, tadi, gue lupa. Gue baru aja makan ama anak anak. Lu makan sendiri aja ya. Nggak apa apa kan? besok gue janji, kita sarapan bareng. Sekarang lo makan dulu, abis itu tidur. Ya...." ucap Calvin mencoba menghibur anak gadis nya itu agar tak kecewa.
Mata bulat itu kembali mengembun. Seolah tak ada keringnya sejak kemarin. Gadis itu menarik nafas panjang, lalu tersenyum simpul penuh kekecewaan di hadapan sang ayah.
Arini mengangguk. Calvin jadi merasa bersalah.
Gadis itu kemudian berbalik badan tanpa berucap sepatah katapun. Disaat yang bersamaan air mata mengalir deras tak tertahan. Sesulit itu seorang anak ingin sekedar duduk semeja dengan ayah kandungnya. Hidup macam apa yang kini dijalani gadis piatu ini..?
Arini berkali kali menarik nafas panjang. Berusaha menepis rasa sakit hatinya. Tak mau menunjukkan dan memperdengarkan tangisan nya meskipun air matanya jatuh bercucuran.
Calvin hanya menatap punggung sang putri dari belakang dengan hati bergetar. Entahlah, ada rasa berdosa dalam dirinya.
"bang...! buruan sini..!" ucap Miko yang juga berada disana. Mengajak sang atasan sekaligus kawan itu untuk bergabung dengan yang lainnya dan memulai pesta miras mereka.
__ADS_1
Arini mendekati meja makan. Dengan air mata banjir, namun tanpa suara tangisan yang terdengar, diraihnya piring piring berisi aneka makanan yang masih utuh itu dengan gerakan kasar penuh emosi dan kemarahan. Di masukkan nya semua makanan itu ke dalam tempat sampah beserta dengan piring piringnya sekaligus. Sebagian piring yang berbenturan pun pecah, menimbulkan suara berisik yang dapat di dengar oleh para pemabuk yang berada di ruang tamu itu.
Para pria pria itu melongok, menatap ke arah Arini. Dilihatnya gadis itu nampak memasukkan piring piring berisi makanan yang belum tersentuh itu ke dalam tempat sampah. Gerakannya kasar sambil sesekali tangannya mengusap lelehan air matanya. Sepertinya gadis itu sangat kecewa.
"bang, anak lu..." ucap Ivan pelan pada Calvin. Pria itu tak menjawab.
Semua piring sudah masuk ke tempat sampah. Arini lantas mengelap meja makan itu dengan gerakan yang sama. Air matanya makin banjir tak terbendung. Calvin diam tak bergerak di tempat nya.
Bersih bersih meja selesai,
Arini naik ke lantai dua. Menaiki tangga tanpa memperdulikan para pria pria yang kini terlihat memperhatikan nya.
daaaaaaaggggggghhhhh.....
pintu kamar di banting dengan kerasnya.
Arini menutupi wajahnya. Merosot di balik pintu kamar yang tertutup. Ia menangis lagi. Menangis sejadi jadinya. Tak terbendung. Sendirian didalam kamar. Sedangkan sayuk sayuk musik keras terdengar dari ruang tamu. Calvin dan teman temannya mulai berpesta. Arini menutup kedua telinganya. Ia benci tempat ini. Ia benci orang orang itu. Ia benci semuanya...!!!
Gadis itu menangis pilu. Menggerakkan kakinya menendang nendang udara di hadapannya. Menjambak rambutnya sendiri. Memukuli tubuhnya sendiri. Untuk apa anak haram ini di lahirkan jika hanya untuk disia siakan??
Gadis itu mengangkat wajahnya mendongak ke atas sambil terus menangis. Hingga....
drrrt... drrrrtt....
ponsel di atas nakas nya bergetar. Wanita itu menatap benda pipih itu dari kejauhan.
Arini lantas bangkit. Dengan kedua belah pipi yang terlihat basah, didekatinya nakas itu. Diraihnya benda pipih itu lalu mendudukkan tubuhnya di samping ranjang berukuran sedang tersebut.
*Daddy..
memanggil*...
Arini tersenyum sinis. Laki laki ini juga sama saja..! penipu..!
Dengan segera di usapnya tombol berwarna merah disana, pertanda ia menolak panggilan dari laki laki ayah palsu nya itu.
Arini lantas membuka WhatsApp. Dilihatnya disana tiga ratus lebih panggilan dan hampir dua ratus pesan dari Diego masuk ke ponselnya sejak kemarin.
Arini muak. Ia juga benci laki laki ini. Ia benci semuanya. Dadanya bergemuruh. Dengan segera gadis itu menuju room chat nya dengan Diego. Dicarinya tombol blokir di sana, dan dengan gerakan cepat ia pun menyentuhnya.
Selesai...
Arini memblokir nomor laki laki itu. Dengan sorot mata tajam penuh kebencian ia membuka laci nakas, lalu melemparkan benda itu ke dalam sana dan menutupnya kembali dengan gerakan kasar.
Arini lelah. Arini muak dipermainkan terus menerus...!
...----------------...
Selamat pagi menjelang siang
__ADS_1
up 10:44
yuk, dukungan dulu 🥰🥰😘