My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 78


__ADS_3

11:00 siang hari....


Di sebuah meja makan di bangunan dua lantai milik Calvin Alexander....



Gadis itu kembali kembali melamun. Menatap nanar ke arah beberapa makanan yang sudah nampak dingin itu.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Namun sejak tadi, makanan yang sudah ia olah sejak pagi belum juga ada yang menyentuh.


Hanya pak Yanto yang sudah menyantapnya sedikit pagi tadi. Sedangkan Arini, sejak pagi ia belum makan.


Ya, gadis itu sengaja belum menyantap santap pagi hasil olahannya sendiri itu. Ia sengaja ingin menunggu sang ayah bangun lalu makan bersama, seperti yang biasa ia lakukan di rumah Diego. Namun hingga saat ini hari mulai siang, Calvin belum juga keluar kamar. Entah, apakah laki laki itu masih tidur atau bagaimana, tak ada yang tahu. Padahal teman teman bertato nya sudah pulang dari tadi. Namun Calvin belum juga terlihat batang hidungnya.


Pak Yanto datang dari ruang tamu. Ia kembali mendekati anak kandung Dewi itu entah sudah yang keberapa kalinya.


"Rin, ini udah siang. Kamu makan dulu aja. Nanti biar bapakmu makan sendiri aja" ucap Pak Yanto.


Arini tersenyum.


"Arin mau nungguin bapak aja, pak" ucap Arini.


Pak Yanto menghela nafas panjang.


"nanti kamu sakit lo, ndok.." ucap Pak Yanto.


Arini tersenyum lagi. Lembut, namun terlihat menyedihkan dengan raut wajah lesu dan mata sembab nya.


"Arin nggak apa apa, pak" ucap gadis itu.


Pak Yanto hanya bisa menghela nafas panjang. Didekatinya gadis belia itu lalu duduk di sampingnya.


"Rin, besok kayaknya sudah harus pulang. Istri bapak nelponin terus. Minta bapak untuk cepet pulang. Padahal baru kemarin bapak sampai sini. Ya, kamu tahu sendiri lah, Rin. Budhe mu itu kaya gimana wataknya.." ucap Pak Yanto.


Arini tersenyum.

__ADS_1


"Arini ngerti, pak" ucap gadis itu.


"bapak minta maaf ya, Rin. Bapak nggak bisa bantu kamu banyak. Andai bapak punya banyak uang dan rumah yang layak, bapak pengen ngajak kamu pulang, tinggal di kampung sama bapak dan anak anak dari pada disini, kamu malah kayak orang bingung" ucap Pak Yanto.


Arini tak menjawab. Ia hanya menunduk.


"Rin, bapak yakin kamu anak yang kuat. Yang sabar ya, ndok. Yang penting sekarang kamu sudah ketemu sama bapak kandung kamu. Baik buruknya beliau, dia tetap orang tua kamu."


"Rin, bapak cuma pesen. Mungkin bapak kandung kamu kehidupan nya keras. Orang orang disekitarnya juga orang orang yang watak dan sifatnya jauh berbeda dari orang orang yang sering kamu temui selama ini."


"Rin, dimana pun kamu berada. Dengan siapapun kamu tinggal, seperti apapun kondisi lingkungan tempat mu berpijak, tetap jadikan agama sebagai patokan hidupmu ya, ndok. Jadikan itu sebagai pegangan. Kamu sudah sembilan belas tahun. Kamu bukan anak anak lagi. Kamu sudah dewasa. Bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Bapak ndak bisa lama lama nemenin kamu. Laki laki yang sekarang tinggal sama kamu, itu adalah ayah kamu. Ayah kandung kamu. Seperti apapun dia, tetaplah berbakti selayaknya seorang anak pada ayahnya. Tapi jangan pernah sekalipun mengikuti jejaknya jika itu bukanlah jejak yang baik. Bapak ndak tau apa yang terjadi sama bapak kamu selama ini, sampai sampai kehidupan nya jadi seperti ini. Mabuk mabukan, berteman sama brandalan."


"Rin, tetap jaga baktimu untuk bapak mu. Sayangi dia. Rawat dia seperti yang seharusnya. Tapi kamu, tetaplah menjadi Arini, putri Dewi dan cucu nenek Ratmi yang selalu ingat Tuhan. Terapkan itu dimana pun, termasuk di sarang pemabuk sekali pun. Tunjukkan bahwa kamu adalah anak yang taat agama di depan ayahmu yang mungkin sekarang sedang jauh dari Pencinta nya. Tunjukkan bahwa kamu adalah anak yang selalu bisa menjaga ibadahnya meskipun ayahmu mungkin belum bisa menjadi contoh yang baik untukmu. Bukan untuk menggurui, tapi untuk memperlihatkan. Semoga dengan begitu bapakmu akan melunak hatinya dan mencontoh apa yang kamu kerjakan. Minta bantuan Allah, semoga dengan kamu yang menjadi dirimu sendiri, bapakmu akan tersentuh hatinya dan perlahan mulai mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Menasehati seseorang itu bukan hanya bisa dilakukan dengan lisan, ndok. Tapi bisa juga dengan mencontohkan tindakan yang baik untuk dia yang mungkin sedang tersesat.." ucap Pak Yanto lagi membuat Arini tersenyum haru. Di usapnya pucuk kepala gadis belia itu dengan lembut.


"kamu bisa ya. Jangan sedih terus. Kamu perempuan dewasa yang kuat. Kamu perempuan dewasa yang hebat. Kamu bukan perempuan manja yang cengeng..! Gelut ae pinter kok nangisan...!" ucap Pak Yanto sedikit menghibur. Membuat Arini sedikit bisa tersenyum hingga memperlihatkan barisan gigi gigi putihnya.


"makasih ya, pak. Bapak orang yang paling baik yang pernah Arini kenal" ucap gadis itu.


"berarti kamu mainnya kurang jauh. Di dunia ini masih banyak kok, orang orang baik. Percaya sama bapak..." ucap Pak Yanto.


Tak...tak...tak...


Suara langkah kaki terdengar cepat menuruni tangga. Arini dan pak Yanto menoleh. Dilihatnya disana seorang pria berjambang lebat dengan rambut gondrong nampak berjalan dengan terburu buru sambil menerima panggilan telepon. Saking buru buru nya, ia sampai tak menyadari bahwa ada dua manusia di meja makan yang sejak pagi menunggu dirinya.


Calvin dengan kacamata coklatnya terus berjalan menuju pintu utama. Arini hanya diam. Pak Yanto yang menyadari gelagat Calvin yang hendak pergi itupun dengan segera berlari mengejar pria berambut gondrong tersebut.



"tuan...! tuan Calvin, tunggu..!" ucap pak Yanto sambil setengah berlari mengejar Calvin yang sudah berada di teras rumah.


Calvin yang sudah selesai dengan panggilan telepon nya pun menghentikan langkahnya, menoleh ke arah laki laki itu tanpa mengucap sepatah katapun.


"tuan, tuan mau kemana?" tanya Pak Yanto.


"saya bukan pengangguran, pak. Saya juga punya pekerjaan" ucap pria itu.

__ADS_1


"tuan, maaf, bukan mau ikut campur urusan tuan. Tapi ini sudah siang. Arini sudah bangun sejak sebelum subuh untuk membersihkan rumah tuan dan masak sarapan untuk tuan. Dari pagi dia belum makan, tuan. Dia nungguin tuan pengen makan bareng. Tolong, tuan. Kasihan putri tuan, sempatkan waktu tuan untuk menemani Arini sebentar saja. Dia......................"


drrrt.... drrrt.....


ponsel Calvin berbunyi lagi. Laki laki itu mengangkat tangannya seolah meminta pak Yanto untuk menghentikan ucapannya sejenak.


"halo..." ucap Calvin.


"cctv udah aman, bang. Anak anak udah ngumpul. Lu buruan kesini deh. Soalnya sebagian pada alesan pengen buru buru cabut. Gue sih belum liat rekamannya, nugguin lu. Kayaknya ada yang nggak beres deh, mukanya pada tegang. Buruan kesini deh, daripada rusuh nih semua.." ucap seorang pria dari seberang sana, Miko, anak buah Calvin.


"oke, oke..! gue cabut sekarang. Lu tahan mereka semua..! Jangan ada yang pergi sebelum gue datang..!" ucap Calvin.


"beres, bang" ucap Miko.


Sambungan telepon pun terputus. Calvin segera memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"tuan..." ucap pak Yanto.


Calvin menoleh.


"pak, saya buru buru. Bilang sama Arini. Suruh makan dulu. Soalnya saya udah ditunggu. Kapan kapan saya makan dirumah" ucap Calvin kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat itu menggunakan motor besarnya.


Pak Yanto mengelus dada.


"Ya Allah, curahkanlah cinta kasih dan rasa sayang pada keluarga hamba. Walaupun kami hidup serba pas pasan, setidaknya keluarga kami utuh, saling melengkapi dan saling menyayangi. Anak anak kami bahagia mendapatkan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tuanya"


"kasihan kamu, Rin. Kamu anak orang yang berada. Tapi kenapa kamu seolah tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang utuh dari orang orang yang harusnya menyayangimu. Laki laki itu harusnya bisa menjadi cinta pertamamu, ndok. Tapi kenapa ini malah.......hmmmmh, yang sabar, Rin" ucap pak Yanto sesak.


...----------------...


Selamat siang,


up 11:17


yuk, dukungan dulu 🥰😘😘🥰

__ADS_1


__ADS_2