My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 173


__ADS_3

Setelah adegan permintaan maaf dari Bu Tri pada Arini dan keluarga. Kini saat malam mulai menjelang, di dalam kamar pribadi milik sepasang suami istri itu,


Arini masuk kedalam sana dengan membawa secangkir teh hangat untuk pria tampan yang kini nampak fokus dengan ponsel ditangannya itu.


Arini meletakkan cangkir itu di atas nakas di samping ranjang. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Arini lantas menuju pintu kamar untuk menutup dan menguncinya. Ia kemudian mendekati jendela besar itu guna menutup gorden abu abu yang berada di sana.


Arini menoleh ke arah ranjang. Pria itu masih asyik dengan ponsel yang berada di tangannya dalam posisi miring.


Wanita cantik itu menghela nafas panjang. Ia kemudian naik ke atas ranjang. Memposisikan tubuhnya di atas sang suami lalu menyusup memasukkan kepalanya di sela sela kedua tangan Diego yang tengah asyik memegang ponselnya.


Diego tak bereaksi. Arini mencium singkat pipi laki laki itu lalu merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami.


Arini melirik sekilas ke arah ponsel. Sebuah game online tengah Digo mainkan. Wanita itu kemudian menggerakkan tangannya. Mengusap usap jambang tipis yang tumbuh indah di rahang pria matang itu.


"daddy....." ucap Arini yang kini dalam posisi tengkurap di atas tubuh sang suami itu.


"hmmm....jawab Digo.


"Arin boleh tanya sesuatu?" tanya wanita itu sambil memainkan bulu bulu jambang pria tampan itu.


Diego melirik sejenak.


"apa?" tanyanya kemudian.


"daddy, apa daddy terlibat dalam kasus pencopetan bapaknya Agus?" tanya Arini yang sukses membuat Diego pun seketika menghentikan game nya, lalu sedikit mengangkat kepalanya menatap ke arah sang istri.


"kamu nuduh suami kamu copet?!" tanya Digo tak habis pikir.


"bu........" ucapan Arini terhenti.


"kamu pikir daddy kurang duit ampe nyopet...?!!" tanya Digo tak habis pikir.


"engg......." ucapan Arini dipotong Digo lagi


"lagian kamu kan tau kalau tiap hari daddy tuh ama kamu..?! bisa bisanya kamu bilang kalau daddy nyopet...?!!" ucap Diego tak suka.


"ih, sumpah ya daddy, kalau ngomong nggak ada remnya. Dengerin dulu makanya, jangan nyerocos mulu..!!" ucap Arini kesal.


"apa?!!!" tanya Digo ngegas.


"aku kan cuma tanya, apa daddy terlibat dalam kasus pencopetan itu..? bisa aja daddy nyuruh orang buat nyopet bapaknya Agus, biar keluarganya makin tertekan lalu bu Tri dateng ke sini..? kan bisa aja...!" ucap Arini.


"kamu nuduh daddy?? nggak percaya ama suami sendiri?!" tanya Digo kesal.


"bukannya nggak percaya..! cuma nanya, dad..! kalau enggak ya udah...!" ucap Arini ikut kesal.


"daddy nggak pernah ya nyuruh siapapun buat nyopet bapaknya dia. Itu terlalu brutal tau nggak..! ya kalau berhasil, kalau gagal? diserbu warga..?! bisa bisa malah daddy yang kena imbasnya..! kalau daddy mau, daddy bisa pakai cara yang lebih halus, nggak kayak gitu..! kurang kerjaan banget...!" ucap laki laki itu membuat Arini kini nampak mengerucutkan bibirnya. Ia kembali memeluk suami kesayangannya itu dengan hangat.


"ya udah, maaf. Arin cuma pengen nanya aja. Kalau bukan daddy kan, Arin lega..." ucap wanita itu kemudian.


"ya, mungkin itu balesan dari Tuhan buat orang orang kayak mereka. Yang suka merendahkan seorang anak tanpa ibu" ucap Diego sembari kini mulai menggerakkan tangannya mengusap usap lembut pucuk kepala sang istri.

__ADS_1


"tapi bapaknya Agus itu baik, dad. Dia guru SMP. Guru Arin juga, dulu. Dia nggak pernah menghina aku.." ucap Arini.


"tapi istrinya yang menghina kamu. Ya udahlah, kalau nggak gitu daddy yakin pasti tuh ibuk ibuk juga nggak bakal mau kesini dan minta maaf.." ucap laki laki itu.


"walaupun sebenarnya, daddy belum cukup puas sih. Kamu ngelarang dia sujud di kaki kamu..." ucap Diego.


Arini tersenyum.


"aku bukan Tuhan, dad" jawab nya.


Arini mengeratkan pelukannya pada suami tampannya itu.


"daddy..." ucap Arini.


"apa?" tanya Digo.


"makasih, ya. Daddy selalu berusaha melakukan apapun buat membela aku. Daddy selalu melakukan apapun buat membahagiakan aku. Makasih, udah menjadi orang selalu berdiri paling depan buat jagain aku. Aku seneng deh, aku punya orang orang hebat disamping aku, kayak daddy sama bapak.." ucap Arini.


Diego tersenyum. Sebelah tangannya tergerak lagi, kini mengusap usap lembut pundak sang istri sambil sesekali memberikan kecupan kecupan lembut di pucuk kepala wanita muda itu.


Arini makin meringsut. Digo menggerakkan tangannya mengangkat dagu wanita cantik itu. Dikecupnya bibir merah muda kesukaannya tersebut beberapa kali.


Arini tersenyum manis.


"daddy..." ucap Arini lagi.


"apa?" tanya Digo.


Digo melirik lagi ke arah sang istri.


"kenapa nanya kayak gitu?" tanya Digo.


"ya, Arin pengen tau aja. Kasihan, dad, kalau nggak daddy nggak nepatin janji" ucap Arini.


Diego tersenyum. Satu tangannya mulai bergerilya mengusap usap pinggang dan ****** sintal berbalut daster satin hitam tanpa lengan itu.


"daddy pasti akan nepatin janji daddy. Tapi daddy akan menempatkan dia di kota ini. Bukan di kantor pusat" ucap Digo.


"kenapa?" tanya Arini.


"pake nanya..! ya biar nggak bisa deket deket ama kamu lah..!" ucap Diego.


Arini terkekeh. Ia membelai rahang tegas berbulu tipis milik laki laki itu dengan lembut.


"jadi ceritanya daddy aku masih cemburu sama Agus?" tanya Arini.


Diego tak menjawab. Ia hanya diam menatap wajah cantik itu dengan sorot mata yang terlihat bangga. Memiliki wanita yang bukan hanya cantik parasnya tapi juga cantik hatinya.


"dad, suami aku itu jauh lebih baik dalam segala hal dibanding semua laki laki di luar sana. Nggak usah cemburu. Agus nggak selevel sama daddy..." ucap wanita itu.


Digo mengulum senyum. Diego mendekatkan wajahnya lagi. Mengecup pucuk hidung wanita itu lalu menggigitnya lembut.

__ADS_1


"pinter gombal sekarang" ucap Digo.


"ih, kok gombal sih? beneran..! kalau nggak ngapain aku mau nikah sama kumbang tua kayak daddy..."ucap Arini.


"apa?! kamu bilang daddy apa??" tanya Digo sembari mengernyitkan dahinya mendengar ucapan istrinya itu.


"kumbang tuaaakkk..." ucap wanita itu meledek.


"apaan?! jelek banget..! siapa yang ngajarin kayak gitu?" tanya Digo.


"aku sendiri..! aku kan masih muda..ibarat bunga, aku tuh lagi mekar mekarnya.. sedangkan daddy itu, kumbang senior yang nggak nemu nemu bunga yang pas buat daddy..!" ucap Arini membuat Digo melotot. Ia makin gemas melihat mimik wajah wanita kecilnya itu.


Diego menggerakkan tangannya. Mencubit gemas. sebuah area terjepit di antara belah paha wanita cantik itu.


"aaaww...!" pekik wanita itu.


"nyubit aja milih loh si daddy...! yang laen kek..! ke situ mulu arahnya" ucap Arini sembari terkekeh.


"ngomong apa tadi? coba di ulang..! kumbang tua kumbang senior..! apaan kaya gitu..?!" ucap Digo sembari kembali menggerakkan tangannya mencubit tempat yang sama.


"ih...!! jangan...!" ucap Arini sembari menjauhkan tangan kekar itu.


"jangan dicubit..!" rengek wanita itu.


Diego makin gemas. Dengan satu gerakan, ditariknya tubuh wanita itu.


Dan adegan selanjutnya pun berlanjut. Diego kembali melahap wanita cantiknya malam itu. Menciptakan suasana panas diantara keduanya seperti yang selalu mereka lakukan tiap malam setelah keduanya resmi menjadi sepasang suami istri.


Sementara itu di kamar lain di rumah yang sama. Laki laki berambut gondrong itu nampak asyik dengan sebatang rokok di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya kini tengah sibuk menerima sebuah panggilan telepon dari seseorang.


"bagus kalau lu udah dapat alamat rumah sakitnya. Gue mau lu balikin tas itu beserta isi isinya, lengkap..! Tapi jangan sekarang, beri jeda beberapa hari. Terserah mau lu lempar ke depan rumahnya, atau lu buang di depan kamar rawat inapnya, terserah..! yang penting jangan ada yang lu ambil satupun. Pastikan tas itu sampai di tangan salah satu dari anggota keluarga itu. Ingat, gue nggak mau ada yang hilang satupun..!" ucap pria gondrong itu melalui sambungan telepon dengan seorang pria yang ia kenal beberapa hari lalu saat membeli bir tanpa sepengetahuan Arini di salah satu agen miras di kota itu. Entah darimana laki laki itu mengetahui lokasi penjualan minuman haram tersebut. Ia membeli minuman yang sedikit demi sedikit mulai ia kurangi itu secara sembunyi sembunyi tiap malam saat sang putri tengah tertidur. Jika Arini tahu, tuan putri itu pasti ngomel ngomel.


"baik, bang. Pasti akan saya laksanakan" ucap seorang pria yang sepertinya mempunyai watak sebelas dua belas dengan para anak buahnya di kota itu.


"bagus..! bayaran lu bakal gue kasih kalau semua kerjaan lu udah beres.." ucap pria gondrong itu.


Sambungan telepon pun terputus. Calvin melempar asal ponsel itu ke atas ranjang. Ia kembali menghisap rokoknya, lalu membuang asapnya. Diraihnya sebuah minuman kaleng berkadar alkohol rendah disana lalu menenggaknya.


....


Bapak pas muda vs bapak pas tua, pilih mana?👇👇




...----------------...


up 12:25


yuk, dukungan dulu 🥰

__ADS_1


__ADS_2