My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 153


__ADS_3

11:00


Sebuah burung besi baru saja mendarat dengan sempurna di sebuah bandar udara bertaraf internasional di salah satu daerah ibukota provinsi di negara itu.


Lima belas menit setelah landing,


Dua orang remaja putri, salah satunya menggendong seorang bayi, nampak duduk bersebelahan dengan dua orang bocah laki laki yang terlihat begitu antusias menceritakan pengalaman pertama mereka naik pesawat. Keduanya terlihat begitu heboh. Salah satu dari mereka bahkan nampak memperagakan bagaimana bunyi pesawat yang tadi ia tumpangi dan bagaimana reaksi mereka kala berada di dalam kendaraan yang berjalan di udara itu.


Tak jauh dari kelima bocah, anak pak Yanto, yang nampak begitu bahagia itu, nampak seorang pria berambut gondrong dan berjambang lebat yang tengah memeluk seorang wanita cantik, putrinya. Wanita itu terlihat lemah, diam tanpa senyuman, sangat jauh berbeda dengan kondisinya pagi tadi saat masih berada di ibu kota.


"Kamu masih pusing? sabar ya, Diego sedang mencoba menghubungi anak buahnya.. " ucap Calvin.


"iya, pak. Arin cuma pusing dikit, kok..! tapi nggak apa apa. Masih kuat. Arin nggak se norak Bu Yati, kok" ucap Arini sembari memejamkan matanya dengan kepala yang tersandar di pundak sang ayah. Calvin hanya tersenyum. Pengalaman pertama orang orang ini naik pesawat cukup membuatnya geleng geleng kepala. Bahkan hingga saat ini, Bu Yati masih berada di kamar mandi bersama suaminya. Wanita itu mabuk udara. Membuatnya langsung mengeluarkan semua isi perutnya saat baru saja mendarat tadi.


Sedangkan Diego, laki laki itu kini nampak sibuk ber telfon ria, tak jauh dari tempat Arini duduk. Ia tengah menghubungi salah satu anak buahnya. Ingat kan, Diego adalah seorang pengusaha muda pewaris perusahaan orang tua yang bergerak di bidang transportasi darat?


Bukan hal sulit untuk laki laki itu mencari tumpangan yang akan membawa nya keluar dari bandara. Bahkan sebenarnya ia juga bisa menuju kampung halaman sang istri dengan menggunakan jasa transportasi milik keluarga nya sendiri. Namun ia enggan menggunakan nya. Enakan naik pesawat biar lebih cepat.


Dan benar saja, tak lama, dua buah mobil keluarga yang cukup mewah berhenti tak jauh dari tempat Diego berdiri. Dua orang pria paruh baya nampak keluar dari dalam sana lalu mendekati sang Diego. Itu adalah anak buah yang cukup senior di perusahaan Hernandez. Satu diantara mereka adalah orang yang beberapa tahun sebelum tuan Hernandez pensiun di tunjuk untuk menghandle anak cabang perusahaan yang berada di kota itu.


Diego memang tak terlalu mengenalnya, lantaran selama ia menjabat sebagai pemimpin di perusahaan keluarga nya, baru sekali ia berkunjung ke kota itu. Itupun masih bersama ayahnya dulu.


"tuan Diego?" ucap satu orang pria yang diketahui bernama Roni itu.


Diego mengangguk samar.

__ADS_1


"sudah lama menunggu, tuan?" tanya Roni.


"belum" jawab Diego singkat.


"itu mobilnya?" tanya Diego sembari menunjuk ke arah mobil putih yang berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri.


"iya, tuan" jawab laki laki itu.


"bawa barang barang gue, masukin ke mobil" ucap Diego sembari berbalik badan lalu mendekati sang istri yang nampak lemah. Roni dan satu temannya hanya membungkuk patuh. Ia pun bergegas mengikuti langkah bos besarnya itu. Diego pun lantas menunjukkan tas dan koper mana saja yang perlu Roni masukkan ke dalam bagasi mobilnya.


Diego mendekati sang istri yang nampak memejamkan matanya dengan kepala bersandar di pundak sang ayah.


"sssstt..! baby..! yuk, bangun, mobilnya udah sampai..!" ucap sang Diego pada Arini yang nampak lemah. Calvin mengusap usap pundak sang putri yang tak menjawab ucapan suaminya itu.


"Rin, bangun. Mobilnya udah dateng tuh.." ucap Calvin lembut. Wanita itu kemudian mendongak. Mendongak menatap ke arah Calvin kemudian Diego dengan sorot mata sedikit bingung, khas orang bangun tidur.


"pulang..." rengek Arini.


"ya udah, ayok..!" ucap Diego.


Arini memejamkan matanya lagi. Saking pusingnya, rasanya jadi begitu sulit untuk sekedar membuka mata lalu bangkit dan berjalan.


Diego terkekeh. Ia justru merasa gemas melihat tingkah Arini yang dirasa menggemaskan itu.


"cih, norak banget, gitu aja mabok..!" ucap Diego sembari menggerakkan tangannya mengusap wajah sang putri dengan gerakan yang cukup kasar saking gemasnya.

__ADS_1


"iihhh....!! daddy ..!" rengeknya sambil terus memeluk lengan sang ayah.


"ayok bangun, buruan ke mobil..! lemes amat, nyender mulu" ucap Diego sembari mencubit pipi cubby wanita muda itu.


"bapak..! lihat kelakuan menantu kesayangan muuhh..! dia menyakiti putri kecil muuuhh... !!" ucap Arini sedikit lebay membuat Diego dan Calvin yang sejak tinggal serumah belum bertegur sapa itupun nampak terkekeh mendengar nya.


"udah, sana, masuk duluan...! istirahat di mobil" ucap Calvin.


Arini mengangguk. Ia pun lantas bangkit, masuk ke dalam mobil itu bersama dengan sang suami. Sedangkan Roni dan satu temannya kini mulai memasukkan tas dan koper ke dalam dua bagasi mobil yang berbeda. Satu mobil untuk mengantar keluarga pak Yanto pulang, sedangkan yang lain untuk mengantar Diego, Calvin, dan Arini untuk menuju penginapan yang sudah Roni carikan dan siapkan untuk tempat tinggal sementara tiga manusia itu.


"Rasti, susul bapak dan ibumu ke toilet, bilang kalau mobilnya sudah sampai" ucap Calvin.


"baik, tuan" ucap Rasti yang kemudian berjalan menuju toilet untuk menemui ayah dan ibunya.


"yang lain, masuk mobil duluan" ucap pria berambut gondrong itu lagi pada anak anak pak Yanto. Semua pun mengangguk dan menurut.


Calvin pun lantas masuk ke dalam mobil berwarna hitam itu setelah saling berpamitan dengan pak Yanto dan keluarga. Sedangkan pak Yanto, anak anak serta istrinya yang sudah teler itu masuk ke dalam satu mobil lainnya untuk menuju rumah mereka.


Kedua mobil itupun melaju meninggalkan tempat tersebut. Sepanjang perjalanan, Arini nampak terus memejamkan matanya, memeluk laki laki tampan tercintanya itu dengan kepala tersandar di dada sang Diego. Sedangkan Calvin yang duduk di kursi depan hanya duduk tenang sembari memejamkan matanya dengan dua lengan yang di lipat di depan dada. Sebuah perjalanan yang minim obrolan, lantaran dua pria menantu dan mertua itu memang sangat irit bicara. Sedangkan wanita yang biasanya cerewet dan pandai mencairkan suasana itu kini nampak terlelap lemah di dada suaminya.


,


...----------------...


Selamat pagi

__ADS_1


up 06:48


yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰


__ADS_2