
Sore menjelang...
Di teras rumah berlantai dua itu, sepasang suami istri yang rupanya kini tengah menanti kelahiran anak pertama mereka itu nampak asyik berbincang di teras rumah.
Digo kini tengah menunggu kedatangan Sam. Laki laki pemimpin perusahaan Hernandez Group itu meminta Sam untuk membelikan nya kue donat, parfum seperti milik Calvin dan beberapa buah buahan segar.
Sepertinya Digo sudah menemukan makanan yang cocok di perut dan lidahnya. Makanan makanan dengan bau bau yang tidak menyengat serta makanan yang bercita rasa manis ataupun asam.
Digo tidak mau melihat nasi, daging, sayur mayur, ataupun lauk lauk yang biasa ia makan.
Rasanya perut seketika mual, jijik, eneg, pengen muntah...!
Sepasang suami istri itu masih asyik berbincang di teras rumah mereka. Sedangkan Calvin belum pulang. Arini mengupas satu buah apel yang berada di tangannya. Lalu memotong menjadi beberapa bagian lalu meletakkan nya di sebuah piring yang berada di hadapannya.
Digo meraih selembar tisu dari kotaknya yang kini seolah menjadi barang yang wajib ia bawa kemana mana itu. Ditempelkan nya tisu itu ke mulutnya. Lalu meludah disana kemudian membuang gulungan tisu itu ketempat sampah.
"nih, makan dulu..." ucap Arini pada sang Diego yang sedang hamil. Ehh...😁😁
Digo dengan sebuah pisang di tangannya itu pun melirik sejenak buah hasil kupasan sang istri. Dilahapnya buah pisang yang tinggal setengah itu, lalu meraih sepotong apel disana dengan menggunakan garpu di tangannya.
Arini tersenyum manis. Lahap sekali suaminya. Seolah ingin balas dendam dengan perutnya yang sejak kemarin menolak makanan apapun yang istri nya sajikan.
Tak berselang lama, sebuah mobil mewah nampak berhenti di depan rumah berlantai dua milik Calvin Alexander itu. Digo dan Arini menoleh ke arah kendaraan roda empat berwarna hitam yang berhenti di depan rumah mereka tersebut.
Dilihatnya di sana seorang pria berjambang cukup lebat nampak turun dari mobilnya bersama seorang wanita cantik berpenampilan anggun yang membawa dua kantong kresek berwarna putih di tangan kanan dan kirinya.
Ya, itu adalah Sam dan Giselle. Arini nampak tersenyum manis ke arah kakak iparnya itu. Sedangkan Digo nampak menyebutkan matanya melihat dua duda dan janda itu datang bersamaan.
"selamat sore..." sapa Giselle manis penuh senyuman. Ia berjalan terlebih dahulu di ikuti Sam dibelakangnya.
"kak Giselle..." ucap Arini sambil tersenyum. Ia nampak bangkit dari posisi duduknya. Menyambut kedatangan kakak iparnya itu dengan ramah.
Kedua wanita beda usia itu lantas berpelukan. Saling cipika cipiki selayaknya dua orang wanita yang baru saja bertemu.
Sam mendudukkan tubuhnya di samping Digo. Giselle kemudian menoleh ke arah sang adik.
"Go..." ucap Giselle sembari duduk di teras itu.
"masuk aja yuk, kak. Masak ngobrol di lantai teras kayak gini.." ucap Arini.
__ADS_1
"nggak apa apa, Rin. Disini aja. Kita juga nggak lama, kok. Anak anak udah nungguin di rumah" ucap Gisellle.
Digo tak bereaksi. Ia meraih beberapa lembar tisu dari kotaknya lagi lalu meludah di sana dan membuang gulungan tisu itu ke tempat sampah.
"lu perasaan beberapa hari ini keseringan ngeludah? mulut lu rusak?" tanya Sam sekenanya.
"iya kalik, keseringan di sedot ama dia..." ucap Digo sembari menggerakkan dagunya ke arah Arini. Membuat wanita hamil itupun melotot kearah sang suami.
plaaaakkk....
"apasih?! kalau ngomong..!!!" ucap Arini tak terima.
Digo hanya mengulum senyum. Sedangkan Sam dan Giselle hanya terkekeh.
"kalian kok bisa kesini berdua?" tanya Digo kini menatap ke arah Sam dan Giselle bergantian.
Duda dan janda itu nampak saling pandang sejenak.
"oo, em...tadi aku ke kantor kamu. Tapi kata dia, kamu lagi nggak ngantor hari ini. Dia bilang kamu sakit. Ya udah, kita janjian aja buat ke sini sepulang kerja. Sekalian pulang bareng..." ucap Giselle.
Digo hanya mengangguk.
"oh iya, nih pesenan kamu. Donat, parfum, ama buah buahan..." ucap Giselle sembari menyodorkan dua kantong kresek di tangannya itu pada sang Diego..
Satu potong donat diambilnya. Dalam sekali gigit, separuh dari donat itupun lenyap, masuk dalam mulutnya. Ia mengunyah sebentar. Lalu melahap lagi separuh sisanya.
Ludes..! dalam sekejap mata.
Digo melongo.
"Kamu kerasukan setan apa sih, Go? tumben lahap banget makan donat..? biasanya kan kamu nggak terlalu suka makanan manis?" ucap Gisell.
Digo tak menjawab. Ia terlalu asyik dengan donatnya.
Sam nyengir.
"lu nggak dikasih makan berapa hari ama mertua lu? kasian amat..!" ucap Sam meledek.
Digo begitu cuek.
"daddy lagi hamil, om..!" ucap Arini membuat Sam dan Giselle reflek menoleh dengan kagetnya.
__ADS_1
"eh, maksudnya aku yang hamil, tapi daddy yang ngidam..gitu..." ucap Arini meralat omongannya.
Sam dan Giselle yang masih melongo pun kini beralih menatap ke arah Digo yang terlihat begitu santai.
"kamu ngidam, Go?" tanya Giselle.
Digo yang baru saja selesai melahap donat keduanya itu nampak mengangguk sembari memasukkan jari jarinya yang penuh dengan krim donat itu ke dalam mulutnya. Seolah ingin membersihkan sisa-sisa krim itu tanpa mau menyia-nyiakannya barang setitik pun.
"lu serius?!" tanya Sam.
"lu ngeraguin gue?!" tanya Digo jumawa.
Giselle menoleh lagi ke arah Arini.
"kamu beneran hamil, Rin?" tanya Giselle manis dengan gurat wajah bahagia.
Arini tersenyum.
"iya, kak. Udah jalan tiga minggu..." ucap Arini.
"Alhamdulillah....." ucap Gisellle sembari mengusap-usap lembut perut rata sang adik ipar. Wanita itu terlihat turut bahagia mendengar kabar kehamilan Arini.
Akhirnya Diego akan punya keturunan setelah berhasil lepas dari masa galaunya yang ia geluti selama belasan tahun.
Pria itu menikah dengan seorang wanita yang dulu disaat masih bayi sangat ia benci. Lantaran dianggap sebagai biang dari terbunuhnya seorang wanita yang sangat Digo puja puja.
Tuhan memang begitu Agung dengan segala kuasaNya. Dalam sekejab mata Ia mengobrak abrik kokohnya dinding cinta sang Diego untuk Steffi. Menghadirkan gadis tak berdosa yang dulu sangat Digo benci. Membimbing tangan si gadis polos untuk meruntuhkan keangkuhan seorang Diego dengan segala tingkah polah nya. Menggeser posisi Steffi. Membuka mata laki laki keras kepala itu, bahwa dunia terus berputar dan melahirkan manusia manusia baru yang lebih baik dari seorang Steffi.
Kini Digo sudah berbahagia dengan istri kecil nya. Dengan segala tingkah polah Arini yang begitu menggemaskan. Membuat pria itu seolah menemukan kenyamanan dan kebahagiaan dari seorang wanita, yang masih hidup, bukan yang sudah mati.
@bersambung
...----------------...
Selamat malam
..
up 19:33
yuk, dukungan dulu...
__ADS_1
yang belum mampir, jangan lupa mampir