My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 18


__ADS_3

"Arini....!!!!"


pria itu terlihat sangat murka...! ia berjalan dengan langkah cepat dan lebar. Wajahnya terlihat begitu garang. Deru nafasnya menggebu dengan mata yang terlihat penuh amarah. Dengan tangan memegang kemeja putih yang kini sudah bolong itu, Digo berteriak teriak memanggil manggil nama Arini dengan suara lantangnya.


Emosi terlihat jelas dari wajahnya. Suaranya menggema. Membuat Sam yang berada di lantai dua pun terusik dibuatnya.


"apa sih itu?!" ucap Sam yang kemudian bangkit untuk melihat apa yang terjadi.


Suara lantang itu bahkan terdengar sampai ke pos satpam. Membuat pak Asep yang lagi asyik ngopi pun nampak menajamkan pendengarannya. Seperti nya ada yang tidak beres. Entah kenapa bos besarnya itu berteriak teriak memanggil nama Arini.


Laki laki paruh baya itupun menghentikan aktivitasnya. Sepertinya bosnya itu sedang tidak baik baik saja. Ia kemudian berjalan cepat mendekati Arini yang nampak asyik berbincang dengan Fajar di depan gerbang rumah itu.


"non....! non Arin...!!" ucap Pak Asep.


Arini dan Fajar yang asyik berbincang itupun menoleh. Saking asyiknya ngobrol mereka sampai tak mendengar teriakkan Diego dari dalam rumah besar itu.


"ada apa, pak?" tanya Arini.


"tuan teriak teriak manggil nama nona, buruan masuk. Kayaknya tuan lagi marah..!" ucap Pak Asep.


Arini dan Fajar nampak memasang mimik wajah heran


"emang kenapa?" tanya Arini.


"nggak tahu, non..! udah buruan masuk...!" ucap Pak Asep.


Arini diam sejenak, mencoba mengingat ingat kesalahan apa yang mungkin ia lakukan sampai sampai ayahnya berteriak teriak di dalam rumah sana.


Hingga.....


"astaghfirullah haladzim....!!!" ucap Arini kemudian.


"ada apa, Rin?" tanya Fajar.


"tadi Daddy minta kopi...!! kok aku bisa lupa..?!!" ucap Arini.


Fajar nampak mengernyitkan dahinya tak mengerti. Cuma lupa bikin kopi sampai teriak teriak seperti itu?


Baru saja Fajar membuka mulutnya hendak bertanya lagi apa maksudnya. Tiba tiba...........


.


.


.


.


"ARINI....!!!!!!!!!!!!!" suara itu berhasil membuat Fajar, Arini, dan pak Asep terlonjak kaget dan menoleh. Dilihatnya disana Digo berdiri di teras rumah dengan mimik wajah garang bak harimau lapar yang siap memangsa buruannya.


Arini panik. Ia membuka mulutnya melihat raut wajah mengerikan yang Digo tampilkan.


"i....iya, daddy..! bentar...!!" ucap Arini gugup. Ia lantas menoleh ke arah Fajar.


"Jar, kamu pulang ya...!!" ucap Arini.


"kenapa?!" tanya Fajar tak paham.


"udah, pulang aja...!!" ucap Arini mengusir.


"tapi............"


"udah, Jar...! buruan...!!" ucap Arini makin panik.


"ARINI...!!!!" teriak Digo lagi dari teras.


"iya.....!!!" jawab Arini.


Fajar pun akhirnya menurut. Ia pun pergi dari tempat itu meskipun masih dengan hati yang bertanya tanya, ada apa sebenarnya? jika hanya tentang kopi, kenapa daddy Arini se marah itu?


Arini berlari menuju teras. Sam datang dari dalam rumah.


"iya, dad..." ucap Arini setelah sampai di hadapan ayah kandungnya itu.


.


.


.

__ADS_1


buuuuuggghhhh.....!!


Digo melempar kemeja bolong di tangannya itu ke arah Arini hingga tepat mengenai wajahnya.


Arini terdiam. Perasaannya tidak enak. Di ambilnya kemeja putih yang kini jatuh di lantai itu.


"astaghfirullah, ya Allah, Arini...g*bloook...!!!" batin Arini saat melihat lubang besar berbentuk setrika pada kemeja itu.


Arini menunduk. Tak berani menatap ke arah Digo yang nampak bak seorang iblis itu.


"m..ma....maaf, daddy..Arin nggak sengaja.." cicit Arini.


Digo dengan dada naik turun pun mendekat. Mengikis jarak dengan gadis yang kini nampak ciut itu.


seeeeetttt....


Di raihnya kaos putih wanita itu. Digo mencengkeram kerah kaos Arini dan mengangkat nya seolah mengajak wanita itu untuk duel satu lawan satu dengan dirinya. Arini pun berjinjit dibuatnya.


Wanita itu nampak kaget. Kemeja jatuh lagi ke lantai. Arini mendongak menatap ke arah sang ayah dengan mimik wajah takut.


"da... daddy, maaf...!" ucap Arini.


"maaf kau bilang?! kau tahu berapa harga kemeja itu? itu jauh lebih mahal dari harga dirimu...!!" ucap Digo pelan dengan gigi mengetat. Arini mengembun. Kata kata laki laki itu sangat menyakitkan.


"apasih yang kau bisa? hemm??! apa kau tidak bisa bekerja dengan becus sekali saja..?!! semua pekerjaan mu itu berantakan, Arini...!!" ucap Digo masih dengan tangan mencengkeram kerah baju Arini.


Arini makin takut. Di sentuhnya dada bidang Digo. Didorongnya pelan tubuh sang daddy seolah meminta untuk laki laki itu agar melepaskan cengkeraman tangannya.


"dadddy..."


"jangan menyentuhku...!!!" gertak Digo tepat di depan wajah Arini dengan lantangnya. Arini memejamkan matanya dengan bulir bulir bening menetes perlahan dari sana.


"hebat juga kau ya...! baru beberapa hari kau tinggal disini kau sudah bisa dekat dengan laki laki?! siapa dia?" tanya Digo masih dengan suara pelan namun mengerikan.


"dia temen SMP aku, dad" ucap Arini sambil terus memalingkan wajahnya tak mau menatap ke arah sang ayah yang di kuasai emosi.


Sam hanya menatap awas ke arah Digo dan Arini. Sedangkan Digo kini nampak tersenyum sinis mendengar jawaban dari Arini.


"teman SMP? kau fikir ayah mu ini bodoh, gadis tolol..?!" tanya Digo menyakitkan.


"jangan bohong...! siapa dia?!" tanya Digo tak percaya.


"beneran...!" ucap Arini.


"beneran, dia temen aku..!!" ucap Arini makin takut.


"JANGAN BOHONG...!!! SIAPA DIA...??!!!" bentak Digo sekuat tenaga membuat Arini kembali menangis di bawah kuasa Digo.


"Go, udah...!" ucap Sam mencoba melerai.


Digo makin menarik kerah baju itu. Membuat kedua tubuh itu makin menempel. Arini makin takut dibuatnya. Ia terus memalingkan wajahnya tak mau melihat ke arah pria itu.


"jawab aku, anak sialaan..! darimana kau mengenal dia? baru beberapa hari kau tinggal di sini, kau sudah berani berani nya dekat dengan laki laki..! apa semua wanita miskin sama seperti mu dan ibumu??! pandai menggoda?!" tanya Digo menyakitkan.


"daddy, cukup...!!!!" ucap Arini dengan mata berair. Ia tak mau mendengar kata kata yang begitu menyakitkan itu lagi.


"apa..??!!!!!"


"lepasin aku....!!!!!"


buuuuuggghhhh.....


"aaaaaaaaaakkkkkhhhhhhhh....!!!"


Digo melempar tubuh ramping itu hingga membentur dinding. Arini menjerit. Digo dengan cepat mengungkung tubuh itu membuat Arini kini tak bisa kemana mana.


Sam mencoba meraih tubuh Digo dan mengajaknya pergi agar tak terjadi hal hal yang lebih pada kedua anak manusia itu, namun Digo menolak.


Pria itu kembali menatap tajam ke arah Arini yang menangis.


"jawab aku...!! sejak kapan kau berhubungan dengan laki laki itu?!" tanya Digo.


"dia bukan siapa siapa, dad. Dia temen aku...!" ucap Arini.


"JANGAN BOHONG...!!"


"AKU NGGAK BOHONG...!!"


"BERANI KAU MEMBENTAK AYAHMU?!!!"

__ADS_1


"DADDY NGGAK PERNAH PERCAYA SAMA AKU...!!APA YANG AKU LAKUIN SELALU SALAH...!! DADDY SELALU NGUNGKIT MASA LALU IBUK...!! DADDY JAHAT... !!!"


Buuuuuggghhhh....!


"aaaaaaaaaakkkkkhhhhhhhh....!!!!"


Digo meninju dinding tetap di samping wajah Arini.


Wanita itu reflek memejamkan matanya. Tangisnya makin menjadi jadi.


"kau memang mirip seperti ibumu...! anak tidak tau diri...!! kau mulai kurang aj*r dengan ayahmu...!! belum ada sebulan kau tinggal di rumah ini kau sudah berani dekat dengan laki laki...!! aku benar benar menyesal sudah menyentuh ibumu hingga melahirkan anak tak berguna seperti mu...!!" ucap Digo dengan gigi yang mengetat.


Arini menatap tajam pria itu. Dadanya naik turun. Telapak tangannya mengepal. Andai bukan ayahnya, bukan orang tuanya yang harus ia hormati, sudah ia hantam wajah pria dihadapannya itu. Semua kata kata yang keluar dari mulut laki laki itu benar benar menyakitkan.


Kedua mata itu saling pandang dengan sorot mata mengerikan seolah saling mengajak untuk bertarung saat itu juga. Digo mengangkat satu sudut bibirnya.


"apa?! berani kau menatap ayahmu seperti itu?!" tanya Digo tak suka. Arini tak menjawab. Namun gerakan dada dan kepalan tangannya seolah bisa menggambarkan seberapa bencinya ia pada laki laki di hadapannya itu saat ini.


"kau memang perlu di beri pelajaran...!!" ucap Digo...


"sini kau...!!" ucapnya lagi. Di tariknya rambut wanita itu. Arini berontak sambil berteriak teriak. Sam mencoba menghalangi namun Digo yang sudah di kuasai emosi itupun tak peduli.


Arini diseret dengan paksa. Wanita itu menjerit. Digo membawa tubuh itu menuju gudang yang berada di area belakang rumah, sejajar dengan kamarnya yang berada di lantai dua. Arini berteriak teriak minta di lepaskan sembari memukuli tubuh sang ayah namun Digo tak menggubris.


"lepasin aku....!!!" teriak Arini.


Pintu gudang di buka...


buuuuuggghhhh....


Digo melempar tubuh itu hingga terjerembab ke lantai. Arini tak mau kalah. Dengan cepat ia bangkit, mendekati pintu yang kini hampir tertutup itu mencoba untuk ikut keluar dari gudang tersebut bersama sang daddy.


"daddy...! aku nggak mau disini, daddy...!!!" ucap Arini menangis. Namun Digo tak peduli. Ia tak menjawab. Ia kembali mendorong tubuh ramping itu dan dengan cepat menutup pintu gudang lalu mengunci nya dari luar.


Arini terus berontak. Ia menggedor gedor pintu itu dengan keras nya sambil berteriak teriak memanggil nama ayahnya. Arini meraung raung. Ditendangnya pintu itu berkali kali dengan emosinya sambil terus menangis.


Kejam sekali ayahnya itu. Ia tidak seperti seorang ayah pada umumnya. Andai ia tahu ia terlahir dari benih laki laki kejam itu, maka ia akan memilih untuk tak mengenal Diego selama lamanya.


Sementara itu di luar gudang,


"Go....!! Digo, tunggu...!!!" ucap Sam sambil mengejar sahabat sekaligus atasannya yang kini berjalan meninggalkan gudang itu.


Digo tak menjawab. Ia terus berjalan menjauh dari gudang.


"Digo...!!" ucap Sam lagi kini menarik tangan Diego, membuat pria itu pun berbalik badan menatap sahabatnya itu.


"apa??!" tanya Diego.


"lu jangan keterlaluan...!! masa lu ngunciin dia di gudang?!" tanya Sam.


"dia pantas dapetin itu...! dia teledor...! dia bahkan udah berani deket deket ama cowok..! padahal dia baru beberapa hari tinggal disini..!" ucap Digo.


"oke, terus apa urusannya ama lo?" tanya Sam. Diego tak menjawab.


"lo bukan siapa siapa nya dia? dia bukan anak lo...! ngapain lo se marah itu?" tanya Sam.


Diego masih tak menjawab.


"se benci itu lo ama dia? dia cuma anak kampung yang datang ke kota buat nyari bapaknya...! dia nggak tau apa apa tentang masa lalu lo, Calvin dan Steffi..! nggak seharusnya lo perlakuin dia kayak gitu..!" ucap Sam.


"stop..!! lu nggak perlu ikut campur dalam urusan pribadi gue ..!!" ucap Diego.


"tapi Arini........."


"cukup....!!! selama dia masih ada di samping gue itu artinya gue berhak atas dia..! paham..?!" ucap Digo dengan sorot mata tajam penuh kebencian. Ia lantas pergi meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Sam yang nampak menggelengkan kepalanya melihat sang sahabat yang seolah tak bisa lepas dari dendam yang tak berkesudahan itu.


Entah sampai kapan Digo akan memendam kebencian itu pada Calvin dan Arini. Kasihan gadis itu. Ia tak tahu apa apa. Tapi ikut terseret dalam dendam kisah masa lalu antara ayahnya dan Diego.




...----------------...


Selamat pagi menjelang siang


up 10:41


Lagi semangat up pak Digo ini....

__ADS_1


Dedek Angsa menyusul ya🤭😁


yuk, dukungan dulu🥰🥰🥰


__ADS_2