
Arini👇
Hari berganti,
Pagi kembali mengambil alih dunia. Sejak sebelum subuh, Arini sudah bangun dari tidur nya. Seperti kemarin, di hari kedua ia berada di kampung halaman, wanita muda yang masih bisa dibilang pengantin baru itu sejak pagi sudah disibukkan dengan serentetan kegiatan paginya.
Saat ini jam menunjukkan pukul 05:40 pagi. Wanita cantik berambut panjang itu nampak sibuk menyapu teras kemudian dilanjutkan dengan menyapu halaman. Sambil menunggu tukang sayur lewat. Biasanya sih sebentar lagi..!
"morning, baby..." suara itu menggema. Menarik perhatian Arini yang kini tengah sibuk menyapu halaman tak begitu luas dengan rumput hijau yang nampak rapi itu.
Dilihatnya disana, Diego keluar dari dalam rumah dengan membawa secangkir kopi serta sebatang rokok yang sudah menyala di sela sela jarinya.
Arini menghentikan pergerakan nya.
"udah bangun, dad?" tanya Arini.
"belum" jawab Diego sembari menghisap cerutunya.
"udah, dong..! kan udah duduk disitu..!" ucap Arini setengah ngegas.
Diego terkekeh.
"lagian udah tau udah bangun, masih aja nanya..!" ucap Diego.
Arini terkekeh. Ia lantas melanjutkan aktifitas nya. Sedangkan Diego kini nampak asyik dengan rokok dan kopinya. Duduk di sebuah kursi kayu disana dengan satu kaki di tekuk di atas kaki yang lain.
Udara pagi di kampung ini sangat segar. Jauh dari polusi dan bunyi bising kendaraan. Benar benar sangat cocok untuk menepi sejenak dari hingar bingar kehidupan perkotaan yang sibuk.
Arini selesai dengan aktifitasnya. Wanita bersuami itu lantas meletakkan sapu nya di samping rumah, lalu mencuci tangannya sebentar menggunakannya air kran yang berada di sana. Wanita itu kemudian mendekati sang suami. Di raihnya kopi di atas meja yang sudah Diego sesap itu lalu meminumnya sedikit.
"dih, sembarangan banget ngambil kopi orang..!" ucap Diego.
Arini tak peduli, ia hanya terkekeh. Diego menggerakkan tangannya. Mencoba menggelitiki pinggang Arini, membuat wanita itupun mengelak dengan membawa kopi milik Diego di tangannya.
tin....tin....tin.....
bunyi klakson mobil berbunyi. Pertanda penjual sayur yang biasa berjualan di komplek itu telah datang.
Arini dan Diego menghentikan pergerakan mereka. Mobil si tukang sayur memang tak terlihat dari rumah Arini, lantaran tukang sayur selalu menghentikan mobilnya di depan rumah tetangga yang jaraknya tiga rumah dari kediaman Arini dan Diego.
"tukang sayurnya dateng..!" ucap Arini sembari meletakkan cangkir itu di atas meja.
"daddy mau makan apa hari ini?" tanya Arini.
"makan kamu...!" jawab Diego santai.
"iihh...! ditanya serius, jawabnya bercanda mulu..!" ucap Arini sembari menggerak kan tangannya mencoba menyentuh bibir merah laki laki itu. Namun Diego nampak mengelak sambil terkekeh.
"ya udah, apa aja lah..! yang penting bisa di makan.." ucap laki laki itu kemudian.
"gitu kek, dari tadi..!" ucap Arini.
" ya udah, bentar, Arin mau ambil dompet dulu.." ucap Arini kemudian masuk kedalam rumah untuk mengambil dompetnya. Diego kembali menggerakkan tangannya. Tangan pria itu sepertinya selalu gatal jika bersanding dengan istrinya. Dengan gemasnya ia menepuk ****** sang istri saat wanita itu lewat disamping nya. Membuat Arini pun terjingkat sambil tergelak dibuatnya.
__ADS_1
"ambilin kunci mobil sama hape daddy dong, sayang.." ucap Diego setengah teriak.
"iya..." sahut wanita itu dari dalam sana.
Tak lama, Arini keluar dari dalam rumah dengan membawa kontak mobil, hape milik Diego, dan sebuah dompet ikan miliknya.
"tangkap...!" ucap Arini sembari melempar ringan kunci mobil dan hp Diego. Laki laki itupun berhasil menangkap nya dengan sangat mudah.
Wanita itu kemudian bergegas untuk menuju tukang sayur, Digo pun mengikuti nya dari belakang untuk menuju mobil sementara mereka yang terparkir di depan rumah dan memanasi nya.
plaaaaaakkk....
"daddy...!!!!" rengek Arini manakala tangan kekar Diego lagi lagi menampar salah satu dari dua bongkahan benda sintal di bagian bawah tubuhnya itu.
Diego tergelak lagi. Tak ada raut bersalah sama sekali. Tolonglah, semua yang ada pada tubuh Arini terlihat begitu menggemaskan dimata sang Diego.
Laki laki itu melanjutkan langkahnya menuju mobilnya. Ia lalu masuk kedalam kendaraan berharga fantastis itu. Kunci kontak di putar, laki laki itu menyalakan mesin mobil itu guna memanasi.
Dari dalam mobil, Diego nampak mengulum senyum. Menatap kearah punggung sang istri yang terlihat makin menjauh darinya, mendekati mobil si tukang sayur yang tak begitu jauh dari tempat nya berada saat ini.
Sedangkan Arini, wanita itu kini sudah sampai di mobil milik si tukang sayur itu.
Seperti biasa, sekumpulan ibu ibu nampak mengelilingi kendaraan bak terbuka itu. Memilih dan memilah aneka bahan makanan yang tersaji di atas kendaraan roda empat itu.
"eh, Arini lagi...! belanja, Rin?" tanya bu Nining si sumber informasi komplek tersebut.
Arini hanya tersenyum.
"mau masak apa?" tanya Bu Nining.
"nggak tau, buk. Masih mikir mikir..." ucap Arini.
"mobil kamu bagus, Rin" ucap Bu Santi.
Arini tersenyum lagi.
Bu Tri, ibu kandung Agus, yang berdiri tak jauh dari anak Calvin itu nampak melirik sinis kearah istri Diego Calvin Hernandez tersebut.
"eh, Rin..! ngomong ngomong, laki laki yang tinggal sama kamu itu siapa? yang satunya, selain bapak kamu..? kemarin saya nggak sengaja lihat waktu turun dari mobil pas kalian baru pulang sore kemarin. Tapi nggak begitu jelas mukanya..! itu siapa kamu, Rin?" tanya Bu Nining begitu penasaran.
"oh iya, katanya Arini tinggal di rumah itu sama dua laki laki..! yang satu bapakmu kemarin itu ya, Rin. Yang gondrong..! lah, yang satu lagi siapa, Rin? pacarmu ya?" tanya Bu Santi. Memang tak banyak yang tahu bahwa Arini sudah menikah di kota. Dari semua warga desa, sepertinya hanya keluarga Pak Yanto saja yang mengetahui tentang status Arini dan Diego saat ini.
Arini tersenyum. Baru saja ia hendak menjawab, tiba tiba....
"wah, gawat itu, masak tinggal serumah sama pacar..!" ucap Bu Tri membuat Arini mengurungkan niatnya untuk memperkenalkan suaminya.
"tiati loh, Rin..! tinggal serumah sama yang bukan muhrim...! ntar kayak ibukmu lagi..!" tambah wanita berjilbab merah itu sambil tangannya sibuk memilih milih sayur mayur di hadapannya.
"kok ya nurun ya, Rin, sifat ibumu ke kamu...! untung dulu saya nolak mentah mentah hubungan kamu sama anak saya..! perasaan seorang ibu itu memang tidak pernah salah...!" ucap Bu Tri lagi dengan nada merendahkan.
"maksud ibu apa?" tanya Arini mulai buka suara.
"ya itu...! ibumu itu dulu kan hamil duluan..! katanya sih karena di perk*sa sama majikannya, ya bapakmu itu...! tapi ya ndak tau ya.. bener apa ndak..! wong ibumu itu juga ndak cantik cantik amat..! kalau nggak gat*l ya mana mungkin majikan mau sama pembantu...!"
daaaaaaaggggggghhhhh.....
Para ibu ibu terlonjak kaget. Satu buah kelapa utuh yang sudah di kupas kulitnya di banting ke tanah oleh anak Calvin itu. Membuat buah kelapa yang semula bulat sempurna kini nampak pecah menjadi beberapa bagian.
__ADS_1
Arini nampak menatap tajam kearah Bu Tri. Bu Tri pun terlihat menatap tak suka kearah Arini. Para ibu ibu lain nampak menjauh. Sepertinya akan terjadi pertikaian sengit diantara kedua wanita beda usia itu.
"ngapain kamu liatin saya kayak begitu?" tanya Bu Tri tak suka.
"ibuk juga ngapain jelek jelekin ibu saya?! tau apa ibuk soal ibu saya?!!" tanya Arini mulai kehabisan rasa sabar. Sejak kemarin hidupnya di nyinyiri terus. Ia pikir setelah kurang lebih satu tahun ia meninggalkan kampung itu, sambutan warga terhadapnya akan berubah. Tapi ternyata ia salah. Ia masih saja di anggap sampah oleh masyarakat desa yang seolah tak memiliki hati nurani itu.
"halaahh...!! Arini, Arini..! semua orang itu juga tahu kisah kamu dan orang tua kamu..! Kamu itu anak haram..! Ibu kamu itu hamil di luar nikah..! diperk*sa sama bapakmu itu..! semua juga sudah tahu..! ibumu itu memang gatal..! nggak bisa dia melihat laki-laki ganteng dan kaya, makanya dia menggoda majikannya sampai-sampai majikannya mau menyentuhnya..! Kamu pikir orang kaya mana yang sudi menyentuh tubuh seorang pembantu kalau bukan pembantunya yang menggoda dia..! dikiranya setelah disentuh bakal dinikahi terus hidup enak, nggak taunya cuma di lepeh..!!" ucap Bu Tri berani dan lantang.
Dada Arini terlihat bergerak naik turun menahan emosi yang membakar jiwanya.
"tolong ya, Bu..! dari kemarin ibu jelek jelekin saya dan keluarga saya terus..! saya diam karena saya menghargai ibu sebagai orang tua..! tolong, berhenti berbicara yang nggak tentang orang tua saya..! anda cuma orang luar, dan anda nggak tahu apa-apa..!" ucap Arini menahan emosinya.
"eh, anak kecil..! gak usah sok dewasa kamu...! kamu itu tahu apa?! saya lebih tau daripada kamu...!" ucap Bu Tri tak mau kalah..
"saya anaknya..!!! anda cuma orang luar..!!! nggak usah sok tau...!!! urusin aja keluarga anda sendiri..!!" teriak Arini dengan suara lantang, membuat warga sekitar yang beraktivitas di luar rumah pun menoleh ke arah sekumpulan ibu ibu itu.
"heehh...!! anak haram..!!! nggak usah ngajarin saya..! keluarga saya itu keluarga baik-baik..! anak anak saya itu mempunyai dasar agama yang baik karena didikan saya..! nggak kayak keluarga kamu..! hancur gara gara ibu kamu yang doyan zin*..!!" ucap Bu Tri makin keras.
"diam..!!!!" bentak Arini dengan mata merah berair. Terlihat penuh emosi dan kemarahan.
"apa kamu?!! dasar anak haram...!!"
"AKU BUKAN ANAK HARAM..!!!"
"KAMU ITU ANAK HARAM..!! ANAK HASIL ZIN*..!! ANAK PEM..................."
.
.
.
.
.
DAAAAAAAGGGGGGGHHHHH....!!!
Ucapan Bu Tri berhenti seketika. Sebuah kaki kokoh menendang pintu mobil dengan kasarnya hingga sedikit penyok. Semua mata tertuju ke arah sumber suara, termasuk Arini yang menoleh ke belakang.
.
.
.
"bapak, daddy..!!"
.
.
bersambung....😁
...----------------...
Selamat malam,
__ADS_1
up 19:32
yuk, dukungan dulu 🥰