My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 70


__ADS_3

Pagi menjelang...


Seorang gadis belia nampak berjalan menuju meja makannya. Penampilan nya sudah rapi. Bersiap untuk berangkat bekerja di hari pertama sembilan belas tahun nya.


"selamat pagi, nona.." sapa bik Sumi pada gadis cantik itu.


Arini tersenyum.


"pagi, bik" ucap Arini.


"semua sudah siap di meja makan. Saya tinggal ke depan ya, non" ucap bik Sumi.


Arini mengangguk.


"iya, bik. Makasih ya..."


"sama sama, non" jawab wanita paruh baya itu.


Bik Sumi pun berlalu pergi. Arini nampak merapikan piring piring itu sambil menunggu sang ayah yang semalam sempat memberikan sebuah ciuman tak terduga itu turun dari lantai dua.


Ya, sebodoh bodohnya Arini ia juga tahu apa itu ciuman bibir. Sungguh, dalam hati Arini ingin menolak malam itu. Namun sepertinya gerak tubuh nya tak sejalan dengan otaknya. Membuatnya jadi sedikit merasa bersalah. Hal itu tidak seharusnya ia lakukan dengan ayah nya, bukan?


Arini nampak mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi di meja makan itu sambil memainkan ponselnya.


Hingga...


tak..tak..tak..


Suara langkah kaki terdengar mendekat. Gadis belia itupun menoleh ke arah sumber suara.


Dilihatnya disana seorang laki laki tampan yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya nampak berjalan mendekati dirinya.


"morning, baby" ucap pria itu sambil mengecup pucuk kepala Arini singkat.


Arini diam. Hanya tersenyum canggung.


Laki laki itu lantas mendudukkan tubuhnya di kursi tempat biasa itu duduk. Di sandarkan nya tubuh tegap itu di sandaran kursi tersebut. Ia kini nampak menatap ke arah gadis manis itu dibarengi sebuah senyuman manis.


Arini menunduk. Jantung nya berdetak lebih cepat. Ia menggigit bibir bawahnya seolah mencoba menepis perasaan yang kini mulai tak jelas mengganggu pikirannya.


Perasaan apa ini?!


Dasar Arini bodoh..! jangan punya pikiran aneh aneh..! laki laki itu ayah kandung mu sendiri..!! Semalam itu bukan apa apa..! mungkin itu khilaf..! jangan berfikir yang aneh aneh dasar bodoh..! batin Arini merutuki perasaannya.


Digo mengusap usap jambang nya yang taj terlalu lebat itu sambil mengulum senyum melihat ekspresi kaku gadis itu.


Ia jadi makin gemas jika mengingat perayaan ulang tahun Arini semalam.

__ADS_1


"ini nggak sarapan?" tanya Digo tanpa mengubah arah pandang nya pada gadis itu.


Arini gelagapan.


"oh, sa, sarapan kok, dad" ucap gadis muda itu.


"ya udah, ambilin dong. Ntar keburu siang loh" ucap laki laki itu.


Arini mengangguk. Wanita itupun bangkit. Mulai melayani sang laki laki yang katanya ayah kandungnya itu namun dengan wajah yang terus tertunduk. Diego memiringkan kepalanya. Menikmati paras ayu yang pagi ini terlihat sedikit berbeda itu. Wajahnya terlihat lebih cerah dan cantik. Namun sikapnya menjadi sedikit kaku.


Digo mengulum senyum lagi. Entah kenapa ia jadi tak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya mengingat kejadian semalam.


Tolonglah, itu hanya sebatas ciuman bibir. Itu bukan yang pertama untuk Digo. Ia bahkan sudah sering melakukan hal yang lebih dari pada itu dengan para mantan pacarnya. Tapi kenapa hanya sebatas ciuman bibir dengan Arini membuatnya senyum senyum sendiri seperti orang gila begini?


Ah, Diego..! kau aneh sekarang...!


Arini selesai dengan aktivitas nya. Sepiring nasi lengkap dengan lauk sudah tersedia di hadapan Diego.


Arini pun lantas duduk setelah mengambil santap pagi untuk dirinya.


Keduanya pun mulai menikmati makan pagi mereka. Diego tak henti mengulum senyum. Sesekali ia melirik ke arah gadis kecilnya yang sejak tadi nampak menunduk itu. Entah mengapa Diego jadi sebahagia ini hari ini. Tak seperti Arini yang sejak tadi hanya diam antara canggung dan malu mengingat kebodohan yang ia lakukan semalam.


Dan sarapan pagi pun terus berlanjut.


...****************...


Setelah kedua anak manusia itu selesai dengan santap pagi mereka, keduanya pun lantas bergegas pergi meninggalkan rumah mewah itu. Berniat menuju tempat kerja masing masing bersama sama.


Tak lama, sekitar sepuluh menit perjalanan, mobil itupun sampai di sebuah resto ternama yang letaknya berseberangan dengan kantor sang Diego.


Diego menghentikan laju mobilnya tepat di depan restoran itu. Laki-laki itu lantas menoleh ke arah sang putri yang nampak menyelampirkan tas selempang nya ke pundak sebelah kirinya.


"makasih, dad" ucap Arini pada pria itu. Diego diam tak menjawab. Ia hanya tersenyum.


"kamu kenapa diem aja dari tadi, baby?" tanya Digo.


Arini diam sejenak. Bingung mau jawab apa.


"kamu marah sama daddy?" tanya Digo lagi.


Arini mendongak. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.


"eng, enggak kok..! enggak, dad..!" ucap gadis itu buru buru.


Diego terkekeh. Tangan kekar itu tergerak mengacak acak lembut pucuk kepala gadis belia itu.


"daddy minta maaf kalau bikin kamu nggak nyaman. Jangan marah sama daddy ya.." ucap Digo.

__ADS_1


"enggak..! Arin nggak marah kok, dad..!" ucap Arini buru buru.


"oh ya? kalau nggak marah, daddy boleh nggak cium kamu lagi?" tanya Digo menggoda.


"jangan..!!!" tolak Arini cepat dengan suara memekik.


Digo terkekeh.


"bercanda..!!" ucap laki laki itu kemudian sembari mencubit gemas pipi Arini.


Gadis itu nampak mengerucut kan bibirnya.


"dah, masuk gih. Ntar daddy jemput. Kita kan mau ngerayain ulang tahun kamu" ucap laki laki itu.


Arini mengangguk. Dengan segera gadis belia itu meraih punggung tangan pria tersebut lalu menciumnya sebagai tanda bakti.


Arini pun turun. Tak lupa ia melambaikan tangannya riang pada pria itu sebelum masuk ke dalam restoran ternama itu.


Seperginya Arini...


Diego meraih ponselnya yang berada di dalam saku jasnya. Di cari nya nomor WhatsApp Sam sang asisten sekaligus sahabat, lalu menelfon nya.


tutt.. tutt... tutt ..


"halo" ucap Sam dari seberang sana.


"halo, Sam. Lu pesenin kue dong. Kue ulang tahun yang paling enak disini. Lu cariin terserah dimana..! suruh langsung anter ke rumah aja" ucap Digo.


Sam yang baru sampai di kantor dan langsung mendapatkan tugas mendadak itupun nampak mengernyitkan dahinya.


"bentar..! lu nyari kue buat apa?! siapa yang ulang tahun..?" tanya Sam.


"anak gue..! banyak nanya lu..! udah buruan cariin..! yang paling enak. Yang bagus tampilannya..! jam empat harus udah ada di rumah..!"


"oh ya, satu lagi..! hari ini gue nggak ngantor..! gue sibuk..!" ucap Digo seenak jidat.


"eh, ta* lu..! seenak jidat lu ngomong nggak ngantor..! hari ini ada meeting, benc*ng..!" ucap Sam kesal.


"lu yang handle, gue sibuk..!" ucap Digo tanpa basa basi dan dengan segera mematikan sambungan teleponnya sepihak. Tak peduli dengan Sam yang sudah pasti uring uringan di seberang sana.


Digo kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Ia lantas menyalakan mesin mobilnya, bergegas untuk pergi meninggalkan tempat itu menuju sebuah pusat perbelanjaan mewah di kota itu untuk mencari kado spesial untuk Arini tersayang.


...----------------...


Selamat sore,


up 16:07

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰


__ADS_2