
Di meja kasir..
"Jantung, bisa nggak sih diem..! gerak nya pelan pelan aja nggak usah kek ngajak tawuran..!" batin Arini seolah berbincang dengan salah satu organ tubuhnya itu.
"ini aku kenapa sih, kok jadi deg deg an gini?" ucapnya lagi dalam hati.
Arini sampai di depan meja kasir. Ia lantas meletakkan barang barang belanjaan nya di atas meja. Seorang petugas kasir disana pun lantas mulai menghitung belanjaan yang isinya hanya snack dan minuman itu.
Arini diam tak bergerak. Sedangkan dibelakang nya, pria dengan jaket putih dan celana pendek itu nampak dengan santainya ikut mengantri sembari menenggak minuman rasa kopi di tangannya sambil menunggu antrian kasir.
"semuanya seratus dua puluh, kak" ucap si pelayan.
Arini dengan jantung yang belum sepenuhnya aman pun lantas memutar tas ranselnya. Dengan gerakan sedikit terburu buru ia lantas membuka ransel itu, mengeluarkan sebuah dompet koin lucu berbentuk ikan, berbahan karet silikon, dan berwarna oren, yang ia gunakan untuk menyimpan uang nya.
Lantaran gerakan yang susah diajak kalem serta detak jantung yang susah diatur, gadis itupun tanpa sengaja menjatuhkan dompet ikan miliknya.
"Ya Allah, iwak ku (ikan ku) ...!!" pekik gadis itu. Ikannya jatuh. Isi di dalam nya berhamburan keluar. Uang kertas serta beberapa uang koin menggelinding ke segala arah.
Pria yang berada di belakangnya nampak menggelengkan kepalanya sambil menampilkan senyuman lebar hingga memperlihatkan barisan gigi-giginya. Dasar bocah..! pikir Digo.
Arini berjongkok. Menyelamatkan ikan serta isi didalam perutnya yang berhamburan keluar.
Digo maju selangkah mendekati meja kasir.
"sekalian sama ini aja, mbak. Biar saya yang bayar" ucap pria itu sembari meletakkan snack dan minuman botol di tangan itu di atas meja kasir.
"oh, baik, tuan." ucap si petugas kasir. Wanita dengan seragam kerja merah biru itu pun lantas menghitung snack dan minuman botol milik Digo yang jumlahnya tak seberapa itu, menjadikan satu dengan nota belanjaan milik Arini, lalu memisahkan keduanya menjadi dua kresek yang berbeda.
Diego melirik ke bawah. Si gadis kecil nan lucu dan menggemaskan itu masih sibuk dengan ikan nya. Membuat Digo kembali mengulum senyum karena nya.
Sang kasir menyebut nominal harga yang harus Digo bayar. Laki laki itu lantas sejumlah uang untuk membayar barang barang miliknya dan Arini.
Digo meraih kresek putih berisi snack dan minuman botol miliknya. Ia lantas berlalu pergi keluar dari minimarket tersebut.
Arini selesai dengan ikannya.
"berapa mbak tadi?" tanya Arini.
"udah di bayarin sama mas nya yang tadi, kak" ucap si petugas kasir tersebut sembari mengarahkan tangannya ke arah dinding kaca toko, dimana diluar sana nampak seorang pria tampan tengah membuka pintu mobilnya daan masuk ke dalam sana.
Arini pun membuka mulutnya. Ia lantas menoleh ke arah sang kasir.
"ih, kok dibolehin sih, mbak? kan saya bisa bayar sendiri..!" ucap Arini.
"ya saya nggak tahu, mbak. Mas nya yang minta.." ucap si kasir.
Arini berdecak kesal. Dengan segera ia menyahut kresek belanjaan miliknya lalu berlari menuju keluar minimarket. Dengan segera ia mendekati mobil milik Diego yang terparkir tepat di samping motornya. Dimana laki laki itu sudah berada di dalam sana dengan mesin mobil yang menyala dan kaca pintu kemudi yang terbuka.
"tunggu..!!" ucap gadis itu.
Diego dengan rokok di tangannya itu menoleh.
"ada apa?" tanya Digo.
"kenapa dibayarin?" tanya Arini.
Digo tersenyum lembut
__ADS_1
"daripada kelamaan.." ucapnya singkat.
"o...oh..makasih, ya...." ucap gadis itu gugup lagi. Padahal tadi saat di dalam mini market ia sudah menyiapkan berbagai ucapan penolakan. Tapi kenapa sampai sini mulutnya jadi kaku untuk menolak? ah, dasar gadis tolol..!
Digo hanya mengangguk. Gadis itu lantas berbalik badan. Meraih helm pink yang berada di atas motor dan mulai mengenakannya. Arini naik ke atas kendaraan roda dua itu, mulai menyalakan mesinnya sembari mengatur degup jantung nya yang masih tak bisa diatur lantaran sang Diego sejak tadi tak lepas menatapnya sembari menghisap rokok di tangannya.
Kontak motor di putar. Tangan kiri Arini mulai menekan tuas rem, sedangkan tangan kanannya menekan tombol starter disana.
Namun....
Arini menyipitkan matanya. Kok nggak nyala mesinnya? pikir Arini.
"motor, nggak usah aneh aneh deh...! nggak usah ikut ikutan si ikan bikin aku ribet..! nyala nggak sekarang?!!" gumam gadis itu sepelan mungkin dengan gigi mengetat.
Digo masih diam mengamati dari dalam mobil sembari menghisap rokoknya.
Gadis itu mencoba lagi. Menggerakkan tangan kanan dan kirinya menekan tombol starter dan tuas remnya.
Namun tetap tidak bisa..!
"nyala o c*k..! tak uncalno kali koen ngko..!!"
(nyala c*k, aku lempar ke sungai kamu nanti..!) ucap Arini lagi sembari terus mencoba menyalakan kendaraan roda duanya. Astaga, ini kenapa lagi sih? kenapa nggak nyala motornya?? pikir Arini.
Diego memiringkan kepalanya.
"kenapa?" tanyanya.
Arini menoleh.
"oh, eng..enggak..! nggak apa apa.." ucap gadis itu.
Berkali kali dicoba, tapi tidak bisa. Kaki mungilnya sampai pegal dibuatnya.
Arini makin panik. Antara gugup ketemu Diego ditambah panik karena motornya tak bisa hidup. Tolonglah...ia tak mau malu lagi..! pikir Arini.
Digo turun dari mobilnya masih dengan rokok di tangannya.
"coba lihat.." ucap pria itu.
Arini mundur beberapa langkah. Pria itu mulai mengambil alih sepeda motor itu. Di engkol berkali kali menggunakan kaki kokohnya. Sedangkan bibirnya masih asyik mengapit batang bernikotin miliknya.
Arini memiringkan kepalanya. Subhanallah, jodoh siapa ini? tampan sekali. Pahatan wajahnya sangat sempurna. Menggambarkan sosok pria maskulin dengan sejuta pesona menyeruak dari dalam dirinya. Untuk beberapa saat Arini nampak terpesona. Sesuatu yang tanpa sadar membuatnya menyunggingkan sebuah senyuman dari balik helm full face nya.
"nggak bisa ini kayaknya. Aku juga nggak terlalu ngerti mesin." ucap Digo sembari berkacak pinggang.
"Mau aku anterin aja nggak?" tanya Digo lagi sambil menoleh ke arah Arini. Membuat gadis itupun reflek menegakkan posisi duduknya mendengar ucapan pria itu.
deggghh....deggghh....deggghhh.....
"apa? gimana?" tanya Arini dengan jantung makin berdegup tak karuan.
"nggak bisa nyala. Aku anterin aja. Dari pada kamu dorong motor sampai rumah" ucap Digo.
Arini nampak membuka mulutnya dari helm pink itu.
"a..enggak usah. Aku telfon bapak aja..." ucap Arini menolak.
__ADS_1
"mendung loh, bentar lagi ujan. Toh juga udah malem. Aku anterin pulang. Nggak akan aku culik kok, tenang aja, aku bukan penculik.." ucap Digo lagi.
Arini nampak diam sejenak seolah berfikir.
"gimana? tapi kalau kamu keberatan aku juga nggak maksa..." ucap Diego.
Arini menggeliat sembari menggaruk garuk tengkuknya
"i..ya udah deh. Boleh.." ucap Arini kaku.
Diego kembali mengembangkan senyuman manisnya, membuat Arini kini kembali meleleh di buatnya.
"Ya udah, kamu tunggu sini bentar ya. Biar aku titipin motor kamu ke karyawan sini dulu. Besok kamu ambil sendiri ya..." ucap Digo.
Arini mengangguk.
Digo pun masuk lagi ke dalam minimarket. Menitipkan motor itu pada salah seorang karyawan laki laki disana agar diamankan. Setelah selesai, Digo pun kembali mendekati Arini.
"yuk..." ucap pria itu.
"ok.." jawab Arini masih dengan kondisi yang sama.
Digo pun masuk ke dalam kursi kemudi. Arini mengitari mobil menuju pintu samping kemudi dan membukanya. Namun tiba tiba ....
.
.
.
duuuugggghhhh.....
"aww....!!!" pekik gadis itu.
Diego terkekeh sembari menggelengkan kepalanya.
Wajah Arini makin merah menahan malu.
"Rin, kita bukan mau balapan. Naik mobilnya nggak perlu pakai helm" ucap Digo pada gadis yang masih mengenakan helm sebagai penutup kepalanya itu.
Arini memejamkan matanya. Setengah mati ia menahan malu. Andai ia menguasai ilmu hitam, ingin rasanya ia menghilang dari bumi lalu pindah ke matahari saat itu juga.
Digo menggigit jari telunjuknya menahan tawa.
Arini menggerakkan tangannya. Dibukanya helm pink itu. Lalu masuk ke dalam mobil sambil terus menunduk dan memangku aksesoris berkendara berwarna pink itu. Sungguh, ia tak punya nyali menatap wajah Digo. Ia terlalu malu sekarang..!
"siap?" tanya Digo.
Arini mengangguk.
"pegangan. Ntar jatoh, lagi" ucap pria itu.
Arini tal berkutik. Kendaraan mewah beroda empat itupun lantas pergi meninggalkan tempat tersebut.
...----------------...
Selamat malam
__ADS_1
Up 19:15
yuk, dukungan dulu 🥰🥰