
Pagi menjelang,
Arini yang hanya tidur satu jam semalam kini sudah terlihat rapi di kamarnya. Dengan atasan kemeja putih dan bawahan celana hitam wanita itu nampak sudah cantik dengan olesan krim pelembab murahan tipis tipis di wajah dan polesan lip gloss di bibir merah mudanya. Membuat benda tempat keluarnya suara khas Arini Nindya Putri itu kini terlihat lembab dan sedikit mengkilap. Peralatan make up itu ia beli saat hendak berangkat ke kota ini. Ya, minimal agar tak terlihat pucat.
Arini keluar dari kamarnya. Hari ini adalah hari pertama nya masuk kerja. Kemarin ia sudah membuat janji dengan Fajar. Pemuda itu akan menjemputnya nanti setelah daddy nya berangkat ke kantor. Arini memang belum memberi tahukan pada Diego bahwa ia akan mulai bekerja hari ini. Ia juga tak tahu, apakah nantinya ia akan memberitahukan pada laki laki itu atau tidak. Ia takut jika Diego melarangnya. Bapaknya itu kan memang suka sekali membuat Arini susah.
Gadis berparas manis itu berjalan menuju rumah utama. Anak kandung tuan Calvin itu berjalan melewati dapur rumah megah itu hendak menuju halaman depan untuk menyirami tanaman seperti yang biasa ia lakukan tiap paginya. Dilihatnya disana, di meja makan, Diego sudah duduk dengan pakaian kerja lengkap.
Arini melirik sekilas ke arah meja, lalu terus mengayunkan kakinya melewati meja makan, seolah tak memperdulikan keberadaan sang ayah yang kini menatap tajam kearah nya itu.
"berhenti...!" ucap Digo tegas membuat Arini menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.
"mau kemana kamu?" tanya Digo yang juga tanpa menoleh. Ia masih dengan posisi nya, duduk di meja makan dengan sorot mata tajam menghadap ke depan. Sedangkan Arini berdiri di belakang kursinya dalam posisi membelakangi tubuh Digo.
"mau nyiram tanaman, dad" ucap Arini.
"duduk..!" ucap Digo tenang.
Arini tak bergeming.
"daddy bilang duduk, Arini" ucap Digo lagi.
Arini masih diam.
"duduklah, anakku..! ayahmu memintamu untuk menemaninya sarapan..!" ucap Diego menahan kesal karena ulah Arini yang seolah tak ada hentinya memancing kemarahan Digo.
Arini menghela nafas panjang lalu berbalik badan. Dengan wajah dan langkah malas ia pun mendekati meja persegi panjang itu. Duduk di salah satu kursi yang berada di sana, disamping sang ayah yang kini menatap angkuh ke arahnya.
Arini duduk dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Ia menatap malas ke arah depan tanpa mau melihat wajah sang ayah.
Digo mengangkat dagunya.
"daddy lapar, anakku sayang.." ucap Digo sambil tak lepas menatap wajah manis itu.
Arini melirik sinis. Lalu dengan penuh keterpaksaan iapun bangkit, meraih piring di hadapan Diego dan mengisinya dengan nasi goreng buatannya. Arini memang sempat menulis beberapa resep di buku saat ia meminjam ponsel Digo beberapa hari lalu.
Nasi sudah tersaji di hadapan Diego. Arini lantas kembali mendudukkan tubuhnya di atas kursi. Dilipatnya kedua lengan itu di depan dada dan menatap lurus kedepan.
"lain kali jangan menatap ayahmu dengan tatapan seperti itu. Itu tidak sopan kalau kau tidak tahu...! mungkin orang orang kampung di tempat mu tinggal memang tidak pernah ada pelajaran sopan santun. Makanya kau begini" ucap Digo sambil meraih sendok di hadapannya.
Arini tak menjawab.
"kau tidak makan?" tanya Diego.
Arini menggelengkan kepalanya.
"kau masih marah padaku?" tanya Diego.
Arini tak menjawab lagi. Wanita itu terlihat masih kesal. Diego mengangkat satu sudut bibirnya melihat reaksi sang putri.
"hari ini aku akan pulang telat. Mungkin larut malam. Aku akan pergi kerumah orang tuaku. Jadi kalau kau mengantuk, kau bisa langsung tidur, tidak perlu menungguku pulang." ucap Digo sambil menyantap nasi goreng di hadapannya. Diam sejenak seolah memberi penilaian pada masakan hasil tangan Arini lalu menganggukkan kepalanya pertanda rasa masakan itu cukup layak masuk ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Arini menoleh. Ia mecoba untuk tetap terlihat cuek di tengah tengah rasa penasaran yang kini mulai menggelayuti.
"da...daddy mau kerumah nenek sama kakek?" tanya Arini. Diego melirik ke arah wanita itu.
"ya" jawabnya singkat lalu kembali menyantap nasi gorengnya.
"eem....aku nggak diajak, dad?" tanya Arini ragu ragu.
Digo kembali melirik ke arah putrinya tersebut. Lalu menyunggingkan senyuman sinis.
"untuk apa?" tanya Digo.
Arini melotot sembari membuka mulutnya hendak mengucap sesuatu namun terasa sulit.
Arini kan anak Digo. Kenapa pria itu berkata demikian..? bukankah memang seharusnya ia diperkenalkan pada keluarga pria itu?
"kau berharap aku memperkenalkan mu pada orang tuaku? memangnya kau dianggap cucu?" tanya Digo nyelekit yang kembali berhasil menyentil hati Arini.
Arini terdiam. Hatinya sakit lagi..!
Gadis itu lantas membuang muka. Mencoba untuk menenangkan diri nya sendiri yang cukup kecewa karena ucapan sang ayah.
Nih bapak bapak satu bisa di tuker tambah aja nggak sih? bikin emosi anak mulu kerjaannya..! batin Arini
Digo melirik lagi. Seutas senyum penuh kemenangan kembali terbentuk. Ada sedikit rasa puas dalam dirinya manakala ia kembali bisa menjatuhkan mental bocah menyebalkan ini.
Digo kembali melahap nasi gorengnya dengan angkuh nya. Arini kemudian bangkit dari duduknya.
"mau kemana kau?" tanya Digo. Arini tak menjawab.
Arini nampak cuek.
"Arin mau ke depan, dad. Kasihan kembangnya aus...!!" jawab Arini kesal kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Melangkahkan kakinya dengan hentakan yang cukup keras membuat Digo mengulum senyum lagi. Nangis lagi tuh bocah pasti..! pikir Digo. Biarkan saja, ini bentuk pembalasan nya pada Arini yang sudah mengurangi jam tidurnya semalam.
Arini melangkah dengan perasaan dongkol. Laki laki itu benar benar tak bisa untuk sedikit saja menjaga ucapannya di depan anaknya sendiri.
Apa ia tak berfikir jika perkataannya itu menyakiti hati putrinya? benar benar sosok ayah yang buruk..! kenapa harus laki laki itu ayah Arini..?? malang benar nasib bocah itu..!
Arini berjalan menuju garasi mobil. Mengambil sebuah selang panjang yang biasa ia gunakan untuk menyirami tanaman di taman kecil depan rumah megah tersebut. Lalu berjalan dengan wajah di tekuk menuju taman kecil namun terlihat asri di sana. Ia memasang selang panjang itu lalu mulai menyirami bunga bunga cantik yang berada di sana. Tiba tiba....
"morning, baby"
Suara itu berhasil membuat Arini menoleh.
Dilihatnya disana, Sam sudah berdiri di belakangnya. Menatapnya dengan sorot matanya yang khas membuat Arini sedikit risih dibuatnya.
"tiap pagi, setiap aku kesini, kamu selalu sudah berada di taman, kamu rajin sekali, sayang..." puji Sam.
Arini hanya tersenyum singkat.
"daddy kamu mana?" tanya Sam lagi.
"masih sarapan, om" ucap Arini.
__ADS_1
Sam tersenyum.
"jangan panggil om. Kakak aja boleh.." ucap Sam.
Arini tersenyum.
"nggak enak, om. Takut nggak sopan" ucap Arini.
Sam tak menjawab. Ia hanya diam mengamati pergerakan gadis manis berkulit putih itu.
"oh, ya. Aku boleh minta nomor hp kamu?" tanya Sam.
Arini tersenyum.
"nggak punya, om. Aku dateng ke kota ini cuma bawa badan ama beberapa baju doang" ucap Arini.
"really?"
Arini tersenyum lagi lalu mengangguk.
"oh, sayang sekali...! padahal aku pengen mengenal kamu lebih dekat lagi. Kapan kapan kalau aku lagi nggak sibuk, kita pergi ya, aku beliin kamu hp sama baju baju baru" ucap Sam.
Arini hanya tersenyum lagi. Ia tak mau terlalu menggubris omongan pria yang jika dilihat dari tampilan dan gestur tubuhnya seperti pria mata keranjang itu.
Arini masih sibuk dengan aktifitasnya. Hingga,
"eeehmmm...!" suara itu berhasil membuat Sam dan Arini menoleh. Dilihatnya disana, Diego sudah berdiri tak jauh dari tempat mereka. Arini menatap malas ke arah pria itu lalu melengos membuang muka dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Digo mengangkat dagunya. Sam membukakan pintu mobil untuk sang tuan sekaligus sahabat itu.
"eeehhmm..! daddy mu mau berangkat kerja, Arini sayang" ucap Digo.
Arini tak menggubris.
"Arini, jangan sampai daddy mu marah dan melemparkan sepatu ku ke kepalamu yang batu itu...!" ucap Digo jengkel.
"ck..!" Arini berdecak kesal.
Ia lantas berbalik badan, meraih punggung tangan sang ayah lalu menciumnya sebagai tanda bakti dengan terpaksa.
"tiati, dad" ucap Arini kemudian kembali lagi dengan aktifitasnya.
Digo mengangkat dagunya melihat ulah sang putri.Ia mengepal nya tangannya. Digo gemas sendiri. Ingin sekali rasanya ia menjambak rambut kusut bocah itu.
Sam hanya terkekeh. Digo lantas masuk ke dalam mobil tersebut dengan perasaan dongkol. Anak itu rupanya tak se lemah yang ia pikir. Yang bisa ia siksa dan perbudak dengan mudahnya sampai nangis nangis. Baru beberapa hari ia serumah dengan Arini, ada ada saja tingkah bocah itu yang membuat Digo kesal di buatnya.
Kedua pria itupun lantas berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
...----------------...
Selamat pagi,
up 04:50
yuk, dukungan dulu 🥰😘
__ADS_1