My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 104


__ADS_3

Seett...


Gadis itu mendudukkan tubuhnya dengan kasar di kursi itu. Berhadapan dengan sang ayah yang nampak menikmati minuman dingin di hadapannya.


Calvin menyipitkan matanya. Sang putri nampak menekuk wajahnya. Terlihat kesal sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi itu.


"kamu kenapa?" tanya laki laki berewokan itu.


"jatuh, pak..!" jawab si gadis berambut panjang itu.


Calvin melotot.


"kok bisa? yang mana yang sakit? kita ke rumah sakit lagi?!" tanya Calvin sembari melongok ke bawah mengamati perban di kaki sang putri. Laki laki itu terlihat khawatir.


"nggak usah..! nggak apa apa, kok..!" ucap Arini lagi.


"bapak khawatir sama kondisi kamu" ucap Calvin.


"nggak apa apa, bapak. Cuma kepleset aja tadi. Untung ada temen aku tadi yang nolongin" ucap Arini. Ia lantas meraih gelas berisi minuman dingin di hadapannya. Lalu menyeruputnya guna menghilangkan dahaganya.


"permisi.." ucap seorang pemuda yang tadi menyabut kedatangan mereka, Fajar..!


Pria tampan dengan kulit putih itu nampak menyajikan makanan pesanan Arini dan ayahnya itu di atas meja.


"makasih, Fajar" ucap Arini manis. Calvin melirik ke arah sang putri lalu menyunggingkan senyum tipis.


"sama sama, Arin. Oh iya, tadi katanya mbak Glenca mau ketemu. Ntar jangan pulang dulu ya, Rin" ucap pemuda itu.


"emang mau ngapain?" tanya Arini.


"nggak tahu, mau di ajak kerja disini lagi mungkin," ucap Fajar asal.


"pelanggan kamu pada komplain tuh." imbuhnya lagi.


Arini hanya diam. Calvin pun demikian. Ia hanya memperhatikan percakapan dua remaja itu.


"ya udah, aku mau kerja lagi. Selamat makan..." ucap Fajar ramah kemudian bergegas pergi dari tempat itu.


Arini hanya mengangguk sambil tersenyum tanpa menjawab. Ia mulai meraih sendok disana, bersiap untuk menyantap santap siangnya.


"lumayan ganteng.." ucap Calvin sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Arini yang baru saja hendak mengisi sendok itu lantas menoleh ke arah sang ayah.

__ADS_1


"apa sih, pak?" tanya Arini.


"kandidat pertama calon mantu bapak" ucap pria itu lagi sambil senyum senyum sambil menatap sang putri dengan tatapan menggoda.


"ih, enggak..! itu cuma temen..!" bantah gadis itu.


"hhmmhh, temen..!" ucap Calvin lagi sambil mengulum senyum seraya memalingkan wajahnya.


"ih, beneraaan..!!" ucap gadis itu sambil terkekeh mencubit lengan sang ayah. Keduanya tertawa. Calvin terus menggoda gadis itu membuat Arini pun ikut terkekeh dibuatnya.


Tanpa mereka sadari, tak jauh dari tempat mereka berdiri. Bersandar pada sebuah dinding lorong yang merupakan jalan menuju toilet resto, pria berjambang tipis itu nampak mengulum senyum tipis.


Gadis itu dulu juga pernah tertawa selepas itu dengan dirinya. Sebelum pada akhirnya takdir dan kebenaran memisahkan keduanya.


Sesak sekali rasanya. Ia ingin juga berada disana. Menjadi laki laki yang bisa membuatnya tertawa dan menjadi penghibur disaat ia sedang berduka.


...****************...


Kurang lebih sepuluh menit berselang,


Arini dan Calvin selesai dengan makan siang mereka. Sepasang ayah dan anak itu nampak menyeruput minuman masing masing. Perut sudah terisi. Kenyang sudah keduanya rasakan. Arini nampak menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi itu. Perut nya yang rata kini selalu dimanjakan dengan makanan makanan enak semenjak ia bangun dari tidur panjangnya beberapa waktu lalu. Calvin selalu memberikan yang terbaik untuk gadis itu. Termasuk juga soal makanan.


"dah, kita pulang?" tanya Calvin.


"Arini, tuan Calvin..." Suara itu mengalun lembut membuat sepasang ayah dan anak itupun menoleh kearah sumber suara. Dilihatnya disana seorang wanita cantik nampak berdiri di depan pintu utama restoran itu sembari mengulum senyuman manis nan lembut.


Penampilan nya anggun dengan setelan celana panjang dan blazer berwarna coklat, sepatu hak tinggi, sebuah tas branded, kacamata hitam serta rambut panjang bergelombang ia biarkan terurai bebas. Terlihat sangat anggun dan modis.


Calvin melirik sekilas penampilan wanita itu. Janda baru yang beberapa hari terakhir sering mengirim pesan padanya namun tak pernah ia balas itu nampak mendekati sang putri. Beramah tamah khas seorang Giselle yang memang memiliki sifat keibuan itu pada sang putri kecil.


"Arini, apa kabar?" tanya Giselle sambil membelai rambut gadis cantik itu.


Arini tersenyum.


"baik, kak" ucap Arini.


"kalian abis dari mana?" Giselle menatap Calvin yang tenang dan Arini yang manis itu secara bergantian.


"dari rumah sakit, kak. Biasa.." ucap Arini. Giselle tersenyum manis.


"terus gimana hasilnya, udah lebih baik sekarang?" tanya Giselle lagi sambil sesekali melirik ke arah pria gondrong itu.


"udah kok, kak. Ini aku udah bisa jalan nggak pakai tongkat" ucap Arini yang menyadari lirikan mata wanita di hadapannya itu.

__ADS_1


Giselle tersenyum.


"iya nih, perkembangan nya udah banyak ya. Pasti bentar lagi kamu bisa sembuh total, sayang" ucap Giselle.


"amin.." jawab Arini.


Calvin tak bersuara. Masih dengan mode tenang dan sorot mata tajamnya.


"ya udah, kak. Arin sama bapak mau pulang dulu." ucap Arini.


"oh, ya udah. Kalian hati hati, ya..." ucap wanita itu sembari merentangkan kedua tangannya memeluk gadis cantik tersebut.


Calvin dan Arini berlalu pergi diantar lambaian tangan yang manis dari Giselle.


Sepasang ayah dan anak itupun lantas masuk ke dalam mobil mereka.


Mesin mobil menyala, Calvin membakar cerutunya sebagai teman disela sela aktivitas nya berkendara. Tuas mobil dalam genggaman tangan Calvin. Bersiap untuk melajukan nya menembus jalanan ibu kota. Hingga tiba tiba....


.


.


.


.


.


.


.


.


"bapak mau nikah lagi?"


...----------------...


Selamat sore


up 14:50


yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰

__ADS_1


__ADS_2