
Hari kembali berganti dan terus berganti..
Gadis cantik dengan troli berisi beberapa piring dan gelas kotor di atasnya itu nampak menghentikan langkahnya tepat di samping dinding kaca resto ternama itu.
Pasca meninggalnya tuan Hernandez beberapa hari yang lalu, sejak saat itu seolah ada sesuatu yang berbeda yang terjadi di dunia ini.
Sudah sepuluh hari, sejak kepergian pria kaya raya pemilik perusahaan besar dan tersohor itu, sejak saat itu pula, belum pernah sekalipun Arini melihat batang hidung pria tampan yang menjabat sebagai CEO di bangunan tinggi seberang jalan sana.
Biasanya tiap siang saat Arini mulai masuk kerja, pria itu pasti sudah duduk di salah satu meja disana. Memesan secangkir kopi sembari memainkan ponselnya. Lalu ia akan tersenyum ketika melihat kedatangan Arini. Lalu mulai memperhatikan gerak gerik gadis itu kemanapun wanita itu melangkah.
Tapi kini, sudah sepuluh hari lebih Diego tidak muncul di hadapan mata Arini. Tak ada kabar sama sekali. Sam dan Giselle juga tidak pernah kelihatan. Sam yang biasanya kemana mana berdua dengan Digo pun kini lebih banyak kemana mana sendiri.
Arini memang pernah beberapa kali memergoki Sam pulang dan berangkat kantor sendiri tanpa Diego. Laki laki itu juga pernah sekali menemui klien nya di resto tempat Arini bekerja. Itu juga sendiri. Tak ada Diego. Putri Calvin itu juga tak berinisiatif menanyakan kabar Digo. Hal itu justru membuat Arini makin penasaran. Kemana perginya laki laki itu.
Gadis cantik dengan rambut panjang diikat itu lantas menghela nafas panjang. Dengan wajah kurang bersemangat, gadis itu lantas kembali mendorong troli di tangannya. Membawa setumpuk piring dan gelas kotor itu menuju dapur resto untuk dibersihkan.
.....
21:30
Jam pulang kerja...!
Lampu lampu bangunan yang terletak di tengah kota itu sudah dipadamkan. Sebuah papan bertuliskan 'close' sudah tergantung di balik pintu kaca bangunan tempat putri Calvin mengais rezeki itu.
Para karyawan resto keluar dari sana. Termasuk Arini dengan ransel hitamnya. Wanita itu nampak berjalan menuju motornya setelah saling berpamitan dengan rekan rekan kerjanya yang lain. Arini merogoh saku celananya. Sebuah pesan singkat dikirimkan Calvin untuknya.
"Nak, malam ini pulang sendiri nggak apa apa, ya. Bapak masih ada pelanggan belum selesai" tulis Calvin melalui pesan singkat yang ia kirimkan pada sang putri.
Arini tersenyum,
"iya, pak. Entar Arin beliin makanan buat bapak. Buat temen nonton film berdua. Hehehe..."
"jangan capek capek ya, pak. Cepet pulang. Arin tunggu dirumah" tulis gadis itu yang kemudian dengan segera memasukkan benda pipih tersebut ke dalam saku celana setelah selesai mengirimkan pesan tersebut pada sang ayah.
Arini meraih helm pink nya, kemudian mulai menunggangi kendaraan roda dua nya. Melaju pergi meninggalkan tempat kerjanya itu untuk segera pulang ke rumah dan beristirahat.
Jalan raya yang lebar itu masih terlihat cukup ramai. Beberapa tempat nongkrong dan penjual aneka jajanan pinggir jalan juga masih terlihat berjejer disana. Arini menghentikan kendaraan roda duanya di depan sebuah minimarket dua puluh empat jam. Gadis itu mematikan mesin motor pink kombinasi hitam itu, lantas turun dari sana dan masuk ke dalam minimarket.
Sebuah keranjang berwarna biru diambilnya. Gadis itu kemudian dengan lincah dan gesitnya memilih berbagai snack, minuman dan jajanan ringan itu lalu memasukkan nya ke dalam keranjang. Semua ini akan jadi teman nonton nya dengan sang ayah.
Sudah menjadi kebiasaan sekarang, setelah pulang kerja, jika tidak mampir mampir untuk sekedar nongkrong dengan sang ayah, ia dan Calvin akan menghabiskan waktu berdua dirumah. Biasanya mereka akan memutar film di rumah mereka dalam kondisi lampu padam selayaknya di bioskop. Dan biasanya itu akan berlangsung hingga larut malam, bahkan hampir pagi. Kadang kadang Arini sampai ketiduran di sofa. Dan Calvin pun akan membangunkan nya jika film sudah selesai.
Gadis itu masih sibuk dengan snack snack nya. Merasa sudah cukup, gadis itu lantas mendekati sebuah showcase disana lalu membukanya.
__ADS_1
Arini nampak diam. Mengamati aneka minuman dalam botol yang berjajar rapi disana seolah tengah berfikir, mana yang ingin ia beli.
Arini lantas menggerakkan tangannya. Berniat untuk meraih sebuah minuman soda dingin berwarna merah yang berbaris disana.
Namun tiba tiba...
..
..
..
deeeeegggghhhh.....
Sebuah tangan kekar meraih botol minuman soda itu terlebih dahulu. Genggaman tangan Arini yang terlambat kini justru nampak memegang erat telapak tangan yang bisa dipastikan milik seorang laki laki itu.
Arini pun menoleh. Sedikit mendongak menatap wajah pria dengan postur tubuh yang lebih tinggi dan besar di banding dirinya itu.
deeeeegggghhhh....
Gadis itu nampak mematung...!
Dilihatnya disana seorang pria berjambang tipis nampak berdiri di sampingnya. Dengan hanya mengenakan celana pendek, serta kaos oblong yang dibalut jaket berwarna putih tulang, pria itu nampak diam menatap wajah cantik gadis belia yang kini nampak melongo ke arah nya itu.
Ya, ini Diego..!
Laki laki yang mungkin mulai ia cari cari itu..! yang selalu mengamati nya dari luar restoran dan menunggu nya pulang tiap harinya. Seolah ingin memastikan bahwa ia selalu aman disana. Kemudian pria itu akan pergi ketika Calvin sudah datang untuk menjemput nya.
Arini diam tak bergerak. Kedua netra itu saling beradu. Ada rasa lega disana. Akhirnya ia bisa memastikan bahwa laki laki ini masih baik baik saja. Mengingat beberapa hari yang lalu laki laki ini terlihat sangat rapuh. Namun sepertinya sekarang laki laki itu sudah mulai membaik. Sudah mulai bisa berdamai dengan keadaan.
Arini tanpa sadar mengulum senyum setipis mungkin, nyaris tak terlihat. Telapak tangan putih itu tanpa sadar bergerak, makin erat menggenggam punggung tangan pria itu.
Digo mengulum senyum. Ia menggerakkan tangannya. Melepaskan botol soda yang terasa dingin itu seolah mempersilahkan Arini untuk mengambil minuman bewarna merah yang memang hanya tersisa satu tersebut. Hal itupun membuat Arini tersadar dari lamunannya. Dan buru buru menjauhkan telapak tangannya dari sana.
"tinggal satu. Ambil aja.." ucap Digo mempersilahkan.
Arini membuka mulutnya. Entah mengapa jantungnya justru berdebar makin cepat, membuatnya mendadak jadi gugup.
"aa..em..eng...enggak..! ak..eh..sa..em..saya...nggak butuh butuh..banget..! kalau..mau..ambil aja, nggak apa apa" ucap Arini dengan jantung berdebar hebat.
Digo diam.
"nggak apa apa. Kamu yang datang duluan..." ucap Digo
__ADS_1
"kamu yang megang duluan" sahut Arini polos.
Digo mengulum senyum. Lalu meraih sebuah minuman kopi dari dalam lemari pendingin itu.
"aku ini aja.." ucapnya sambil mengangkat botol minuman itu rendah seolah ingin menunjukkan nya pada Arini.
Gadis itu mengangguk kaku.
"oh, ok..." ucapnya dengan jantung yang makin tak bisa dikendalikan detak nya saat laki laki itu menampakkan sebuah senyuman manis untuknya.
Arini menunduk. Ia kemudian meraih botol soda itu, lalu memasukkan nya kedalam keranjang belanjaan nya.
Masih dengan kondisi jantung berdebar, gadis itu lantas memutar badan, lalu mengayunkan kakinya berniat untuk segera pergi dari tempat itu. Namun....
"sssstttttt....."
Laki laki itu berdesis.
Arini menghentikan langkahnya. Lalu berbalik badan.
"mau kemana?" tanya Digo sembari mengulum senyum.
"e..mm..ma..mau..bayar..ini..." ucap Arini sembari menunjuk keranjang belanjaan nya.
Digo tak melepaskan senyuman nya.
"lewat nya sini dong, kalau ke situ ke toilet" ucap Digo sambil menggeser tubuhnya, seolah memberi jalan untuk Arini yang harusnya lewat di depan nya untuk menuju kasir.
Gleeekk....
Arini menelan ludah nya kasar. Ia lantas membuka mulutnya, seolah hendak mencari cari alasan yang tepat agar tak terlalu malu.
"aa..em.. oh..iya..! lupa...! tadi.. abisnya aku lewatnya situ.." ucap Arini ngeles sembari menunjuk ke arah toilet.
Digo menempelkan dua belah permukaan bibirnya seolah menahan tawa.
"ya udah, lewat sini aja. Mungkin tadi toiletnya belum jadi, makanya bisa lewat situ.." ucap Digo sembari menatap lucu ke arah gadis itu.
Arini kelimpungan. Wajahnya merah menahan malu. Ia lantas menunduk.
"permisi..." ucap wanita itu sambil membungkuk, berjalan melewati Diego yang setengah mati menahan tawanya.
...----------------...
Selamat pagi,
__ADS_1
up 04:24
yuk, dukungan dulu yuk 🥰😘😘