
Siang menjelang,
Di sebuah bangunan yang menjadi markas bagi para aparat penegak hukum di negara itu...
Didalam balik sebuah jeruji besi. Seorang pria gondrong nampak terduduk di lantai. Menyandarkan tubuhnya di dinding penjara itu sambil menatap lurus ke depan seolah tengah memikirkan sesuatu. Dua belas jam lebih ia berada di dalam tempat itu. Sejak polisi menggiring dirinya malam tadi, hingga saat ini, Calvin sama sekali tidak pernah memejamkan matanya.
Raganya berada disini, namun tidak dengan sukma dan pikirannya. Pria itu terus terbayang bayang sosok gadis belia yang hingga kini masih terbaring lemah di rumah sakit. Ya tentu saja itu adalah putrinya, Arini.
Bagaimana keadaan gadis itu kini? sudah lebih baik kah ia? sudah sadar kah ia? bisa diandalkan kah Ivan yang ia bebani tanggung jawa menjaga Arini?
Sungguh, pria itu tak bisa tenang saat ini. Disaat ia tengah mencoba memperbaiki hubungannya dengan sang putri, cobaan justru kembali menerpa. Laki-laki itu justru harus mendekam di jeruji besi. Mempertanggungkan perbuatannya yang telah menghajar Diego habis-habisan kemarin malam saat laki-laki itu tengah dalam kondisi mabuk.
Sungguh, jika bukan karena pengaruh minuman keras mungkin Calvin tidak akan selepas itu menghajar Diego. Selama ini ia selalu diam dan menganggap Diego sebagai anak kecil yang belum mengerti apa-apa. Tapi di malam naas itu setan seolah menguasai pikiran Calvin yang setengah sadar. Kata-kata Digo terdengar menyakitkan, membuatnya naik darah dan tanpa sadar sudah menghajar pria tiga puluh lima tahun itu hingga babak belur dan masuk rumah sakit.
Calvin masih sibuk dengan pemikirannya. Hingga tiba tiba..
Suara derit rantai gembok sel itu berbunyi. Seorang petugas nampak membuka teralis besi itu tanpa senyuman.
Calvin diam dengan raut wajah datar khas dirinya.
"saudara Calvin Alexander, anda bisa keluar. Nyonya Giselle sudah mencabut laporannya atas anda.." ucap petugas berseragam coklat itu.
Calvin diam sejenak. Sang polisi mempersilahkan pria itu untuk segera keluar. Calvin yang masih sedikit bingung itupun hanya bisa mengikuti langkah sang polisi menuju ruang tunggu dimana Giselle, Sam, dan Ivan sudah menunggu disana.
"bang...!" suara itu menggema memenuhi ruangan saat pria berambut panjang itu nampak berjalan memasuki ruang tunggu.
__ADS_1
Ya, itu Ivan. Laki laki bertato tersebut datang bersama Giselle dan Sam untuk menjemput Calvin yang bebas hari ini.
Calvin hanya tersenyum tipis saat Ivan dengan girangnya melompat merangkul laki laki bertubuh tegap itu. Kedua pria yang memang sudah sangat dekat itu lantas berjalan mendekati Giselle yang nampak tersenyum menatap kearah nya tersebut.
"tuan Calvin" ucap Giselle.
Calvin hanya diam tak bersuara. Giselle nampak menunduk, lalu menoleh ke arah Sam. Sungguh, sebenarnya ia merasa malu saat ini pada Calvin. Akibat tindakan gegabah nya Calvin jadi harus menginap di dalam bangunan ini semalam.
"em, tuan. Saya datang kesini mau mencabut laporan saya pada tuan..." ucap Giselle kikuk.
"dan...saya juga mau meminta maaf, atas tindakan saya yang gegabah. Dan juga, saya mau minta maaf atas nama adik saya, Diego. Yang sudah melakukan banyak sekali kesalahan pada tuan dan putri tuan. Beneran, kemarin saya sama sekali nggak tahu tentang kejadian yang selama ini terjadi antara Diego dan Arini. Saya tahunya dari Sam setelah tuan di bawa polisi. Makanya saya buru buru cabut laporan ke polisi.." lanjut Giselle lagi.
Calvin sama sekali tak bergerak. Matanya mendelik, menatap tajam ke arah calon janda cantik yang kini nampak gugup berbicara dihadapan nya itu.
Giselle nampak kelimpungan. Sedangkan Sam yang berdiri di samping Giselle hanya diam. Menatap ke arah pria wanita itu secara bergantian.
"saya benar benar minta maaf tuan. Saya jadi nggak enak ama tuan dan putri tuan" ucap Giselle lagi.
Calvin tak bergerak.
"saya tidak pernah punya masalah dengan anda. Jika ada yang mau meminta maaf, maka harusnya Diego sendiri yang datang pada saya" ucap pria itu kemudian.
__ADS_1
"kan masih sakit, tuan.." ucap Giselle spontan.
"sebenarnya niat saya kesini pertama memang pengen cabut laporan. Dan yang kedua mau minta maaf. Dan yang ketiga, ada sesuatu lagi yang pengen saya dan Sam bicarakan sama tuan. Tuan ada waktu? bentar aja..." ucap Giselle.
Calvin mengangkat dagunya.
"mau bicara apa?" tanya Calvin.
"saya mau buru buru ke rumah sakit. Saya tidak punya banyak waktu" ucap Calvin.
"sebentar kok, tuan. Nggak akan lama. Ini penting. Bisa ya..." ucap Giselle.
Calvin menghela nafas panjang. Ia lantas mengangguk samar kemudian pertanda menyetujui permintaan Giselle untuk berbicara sebentar dengan laki laki itu.
Entah apa yang mau wanita itu bicarakan.
Tiga pria dan satu wanita cantik itu lantas bergegas pergi dari tempat tersebut. Meninggalkan kantor polisi untuk mencari tempat yang nyaman guna berbincang serius.
...----------------...
Selamat siang,
up 11:17
Sebisa mungkin di gas nulisnya biar cepet selesai konfliknya. Maaf kalau agak berantakan.
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰😘😘